Cerita Perjalanan Susy Susanti di Olimpiade Barcelona 1992: Emas Pertama dan Era Kejayaan Bulu Tangkis Indonesia

Susy Susanti dipandang sebagai salah satu sosok inspiratif di dunia olahraga. Hal itu menyusul keberhasilannya mengukir sejarah emas pertama Indonesia di Olimpiade Barcelona 1992, yang sekaligus menandai era kejayaan badminton tanah air.

Diterbitkan 13 September 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Secara rinci, Susy menghadapi tunggal putri Jepang, Harumi Kohara di partai kedua. Dia menang mudah dengan skor 11-2, 11-2.

Dominasi ini berlanjut ketika tunggal putri tanah air menantang pebulu tangkis Hong Kong, Wong Chun Fan. Susy Susanti lagi-lagi menang 11-4, 11-2.

Di perempat final, Susy harus berhadapan dengan wakil Thailand, Somharuthai Jaroensiri dan unggul 11-6, 11-1. Sementara itu di partai semifinal, wakil Indonesia menaklukkan tunggal putri China Huang Hua dengan skor telak 11-4, 11-1, sehingga membuka jalan lebar baginya melangkah ke partai puncak.

Final yang Tak Mudah

Tantangan sesungguhnya bagi Susy Susanti baru muncul di partai puncak. Pada final Olimpiade 1992, Susy Susanti harus bertanding melawan wakil Korea Selatan, Bang Soo-hyun, di Pavello de la Mar Bella, Barcelona.

Sebagai informasi, Bang Soo-hyun sebelumnya memang sudah dikenal sebagai salah satu rival sengit Susy. Dia pernah membantu Korea Selatan menyabet Piala Sudirman 1991 di Copenhagen usai menekuk perlawanan Susy Susanti dan kolega di final.

Bertemu kembali dalam partai puncak Olimpiade 1992, Susy dan Bang terlibat pertarungan dramatis serta penuh ketegangan. Tunggal putri Indonesia sempat dibuat tertinggal di gim pertama dengan skor 5-11.

Beruntung, Susy Susanti berhasil bangkit di gim kedua. Dia memukul balik Bang Soo-hyun dengan skor 11-5. Pertandingan pun berlanjut ke gim penentu.

Di tahap ini, Susy menunjukkan keunggulan fisiknya dan berhasil mengunci kemenangan telak 11-3, yang menjadikan dia berhak atas medali emas tunggal putri.

Dimulainya Tradisi Medali Olimpiade

Kemenangan Susy Susanti pada 4 Agustus 1992 menjadi momen yang sangat emosional dan bersejarah. Saat lagu "Indonesia Raya" berkumandang dan bendera Merah Putih dikibarkan, Susy tak kuasa menahan tangis haru.

Medali emas ini adalah yang pertama bagi Indonesia sepanjang sejarah keikutsertaan di Olimpiade, setelah 40 tahun sejak pertama kali berpartisipasi pada Olimpiade Helsinki 1952.

Tidak lama setelah kemenangan Susy, Alan Budikusuma 'tertular' mendapatkan medali emas di nomor tunggal putra menyusul kemenangan atas sesama wakil Indonesia, Ardy B. Wiranata.

Kedua kemenangan ini menjadikan Susy dan Alan dijuluki pasangan emas Olimpiade yang sekaligus membuka tradisi medali cabor bulu tangkis Indonesia.

Hingga Paris 2024, badminton masih menjadi salah satu penyumbang prestasi dalam ajang olahraga multievent terakbar dunia, meski lewat raihan perunggu dari Gregoria Mariska Tunjung di nomor tunggal putri.

Di siisi lain, Susy Susanti tidak hanya membawa kebanggaan bagi bangsa, tetapi juga mengukuhkan namanya sebagai legenda bulu tangkis Indonesia. Tahun 1990-an secara keseluruhan menjadi era keemasan bagi bulu tangkis Indonesia, dengan banyak atlet yang meraih prestasi gemilang.

Warisan semangat juang dan mental juara yang ditunjukkan oleh Susy Susanti dan atlet lainnya terus menginspirasi atlet-atlet Indonesia hingga kini, termasuk dalam peringatan Haornas 2025.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan