Cerita di Balik Tembok Asrama PB Djarum: Ditempa Disiplin, Digembleng Mimpi

Asrama PB Djarum menjadi saksi ditempanya atlet muda menuju pribadi disiplin dan berprestasi. Lantas bagaimana keseharian atlet di Asrama PB Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah?

Diterbitkan 11 September 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Belum juga matahari terbit, lorong asrama PB Djarum sudah riuh oleh derap langkah. Anak-anak belia bersiap menjemput hari dengan keringat, sebuah rutinitas yang bagi mereka sama artinya dengan merawat mimpi.

Ghathfaan Rizqie Ramadhan Haryanto jadi satu di antara puluhan atlet muda yang memulai hari lebih dulu dibanding anak-anak seusianya.

Bocah berumur 12 tahun itu sudah terbiasa bangun pukul 5 pagi untuk menjalani rutinitas sarapan, dilanjutkan latihan berdurasi kurang lebih dua jam. Menunya berputar di sekitar latihan lob, atau diselingi fisik tiap Rabu dan Sabtu.

Sejak lulus dari Audisi Umum PB Djarum 2023, Ghathfaan terus menggembleng mimpi di balik tembok asrama. Dia belajar menyeimbangkan dua dunia: bocah sekolahan biasa dan tulang punggung masa depan bulu tangkis Indonesia.

Menyandang status sebagai atlet PB Djarum tidak lantas membuat Ghathfaan lepas dari kewajiban menimba ilmu. Selepas latihan pagi, sang pebulu tangkis cilik harus siap berganti seragam dan berangkat ke sekolah.

Aktivitas belajar dimulai pukul setengah 10 pagi hingga 1 siang. Bahkan pada Rabu dan Sabtu sore, para atlet diwajibkan mengikuti les matematika dan bahasa Inggris.

Yang berbeda dari anak sekolah kebanyakan, Ghathfaan mengaku tak 'dibebani' tugas rumah. Kewajibannya hanya rutin datang sekolah dan mengikuti ujian.

Namun, begitu kembali ke asrama, Ghathfaan telah ditunggu segudang aktivitas lain yang melekat dengan statusnya sebagai atlet muda. Aktivitas yang menguras energi, tetapi diyakini sebagai bekal menuju masa depan.

Ritme Tak Kenal Lelah: dari Latihan Kedua Hingga Lampu Padam

Selepas pulang, tak ada jeda panjang bagi Ghathfaan. Makan siang dan jam istirahat singkat langsung disusul latihan kedua.

Menurut bocah berusia 12 tahun, sesi latihan sore berlangsung sekitar tiga jam dengan menu utama latihan teknik. Setelahnya, para atlet diarahkan untuk mandi, makan malam, dan kembali ke kamar masing-masing guna istirahat. Rutinitas itu berulang setiap hari, kecuali Minggu.

Tak jarang, Ghathfaan merasa jenuh dengan kewajibannya yang monoton. Beruntung, dia sudah punya cara untuk mengatasi ini

"Pernah merasa jenuh dengan rutinitas latihan. Saya mengatasinya dengan ngobrol bersama orang tua dan pelatih. Biasanya orang tua kasih semangat ke saya," ujarnya kepada awak media termasuk Liputan6.com di GOR Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah pada Selasa (9/9/2025).

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Meski kesehariannya padat dengan jadwal latihan, bukan berarti Ghathfaan dan kawan-kawan sama sekali tak punya ruang untuk bersantai. Waktu rehat paling ditunggu biasanya datang di hari Minggu. Ghathfaan kerap memilih bermain sepak bola atau bermain gim bersama teman-teman seasrama sebagai cara melepas penat. Pengelola asrama PB Djarum juga memperbolehkan atlet keluar pada hari Minggu, dengan syarat kembali maksimal pukul 6 sore. "Biasanya kalau libur, saya main bola di GOR dengan teman-teman. Kami keluar cuma boleh hari Minggu, pakai izin. Saya jarang keluar. (Tapi saya) biasanya main gim bareng teman-teman," kata Ghathfaan lagi.

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan