Cerita di Balik Tembok Asrama PB Djarum: Ditempa Disiplin, Digembleng Mimpi

Asrama PB Djarum menjadi saksi ditempanya atlet muda menuju pribadi disiplin dan berprestasi. Lantas bagaimana keseharian atlet di Asrama PB Djarum Jati, Kudus, Jawa Tengah?

Diterbitkan 11 September 2025, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Hiburan Kecil di Tengah Rutinitas

Meski kesehariannya padat dengan jadwal latihan, bukan berarti Ghathfaan dan kawan-kawan sama sekali tak punya ruang untuk bersantai.

Waktu rehat paling ditunggu biasanya datang di hari Minggu. Ghathfaan kerap memilih bermain sepak bola atau bermain gim bersama teman-teman seasrama sebagai cara melepas penat.

Pengelola asrama PB Djarum juga memperbolehkan atlet keluar pada hari Minggu, dengan syarat kembali maksimal pukul 6 sore.

"Biasanya kalau libur, saya main bola di GOR dengan teman-teman. Kami keluar cuma boleh hari Minggu, pakai izin. Saya jarang keluar. (Tapi saya) biasanya main gim bareng teman-teman," kata Ghathfaan lagi.

Ditempa Aturan, Dilatih Disiplin

Kepala Asrama Dharma Gunadi membenarkan bahwa atlet di Asrama PB Djarum Jati memang penuh disiplin dan padat aktivitas, dengan poros utama latihan, sekolah, dan istirahat.

Semua ditujukan guna membentuk sosok tahan banting yang akan menjadi andalan masa depan bagi sektor bulu tangkis Indonesia.

Bukan cuma soal jadwal kegiatan, regulasi ketat diberlakukan terkait kunjungan orang tua, penggunaan gawai, hingga makanan. Ghathfaan dan kawan-kawan cuma boleh dikunjungi orang tuanya di hari Minggu. Pada hari-hari biasa, telepon genggam yang jadi alat komunikasi mereka saat merantau wajib dikumpulkan pukul 21.30 agar tidak mengganggu waktu istirahat.

"HP dikumpul setengah 10 malam paling telat. Besoknya diambil tergantung pelatih. Bisa selesai latihan atau sebelum berangkat sekolah. Pelatih akan lihat apakah anak-anak kalau diberi HP, jadi tidak fokus. Jadi mungkin saja (kasih HP-nya) selepas makan siang," jelas Dharma.

"Begitu selesai kumpulkan HP, mereka masuk kamar masing-masing. Lampu lorong luar--selain yang ke arah toilet--dimatikan. Bangun pagi, mereka harus bereskan ranjang, sebelum berangkat latihan. AC dan lampu semua harus dimatikan. Itu saya cek setiap hari," tambahnya.

Aturan soal makanan pun tak kalah tegas. Mie instan dan MSG jadi barang haram. Tim koki telah memastikan bahwa hidangan yang mereka sajikan bagi atlet sesuai kebutuhan serta arahan dari pelatih.

"Makanan yang dilarang seperti mi instan, atau bahan-bahan yang kurang bagus. Jadi kalau anak-anak dikirimi paket (makanan) sama orang tua, pasti kami buka dulu, dilihat," papar Dharma lagi.

Kalau ada yang melakukan pelanggaran, Dharma telah menyiapkan naksi tegas. Para atlet tak akan diizinkan menggunakan telepon genggam selama sepekan.

Hasil Tempaan Berbuah Prestasi

Meski keras dan sarat kedisiplinan, tempaan PB Djarum terbukti efektif membawa Ghathfaan meraih sukses.

Saat berpartisipasi di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas) B Nusa Tenggara Barat (NTB) 2025, lulusan audisi umum 2023 itu menyabet gelar juara. Di Kajati Cup 2025, Ghathfaan juga mendulang prestasi serupa.

Bocah yang mengidolakan Mohammad Zaki Ubaidillah itu kini menatap mimpinya lebih jauh. Ia ingin menembus pelatnas dan meraih gelar juara di level tertinggi.

"Saya ingin juara, ingin masuk pelatnas," tandasnya kepada awak media, termasuk Liputan6.com.

Di balik rutinitas ketat dan aturan yang nyaris tanpa kompromi ini, Ghathfaan tumbuh dengan mental baja. Dari asrama di Kudus, dia belajar bahwa disiplin dan kerja keras adalah jalan menuju mimpi.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Theresia Melinda Indrasari, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan