Tak Terkalahkan dan Juara Grup, Tapi Banyak PR: Rekap Perjalanan Garuda Muda di Fase Grup Piala AFF U-23 2025

Timnas Indonesia U-23 menuntaskan fase grup Piala AFF U-23 2025 dengan status tak terkalahkan dan menyandang predikat juara Grup A

Diperbarui 23 Juli 2025, 14:36 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Timnas Indonesia U-23 menuntaskan fase grup Piala AFF U-23 2025 dengan status tak terkalahkan dan menyandang predikat juara Grup A. Sebuah pencapaian positif yang patut diapresiasi, namun tidak sepenuhnya tanpa cela.

Garuda Muda mencatatkan dua kemenangan dan satu hasil imbang dari tiga laga. Anak asuh Gerald Vanenburg mengoleksi tujuh poin, mencetak sembilan gol, dan, yang tak kalah penting, tidak kebobolan sama sekali.

Tetapi di balik angka-angka tersebut, performa Indonesia menyimpan sejumlah pekerjaan rumah yang tak bisa diabaikan jelang fase gugur. Salah satunya adalah kesulitan Kadek Arel dan kawan-kawan dalam mencetak gol pada dua laga terakhir fase grup.

Pembuka Sempurna: Pesta Gol ke Gawang Brunei

Indonesia langsung menancapkan dominasi pada matchday pertama. Brunei Darussalam dibekuk dengan skor telak 8-0. Jens Raven menjadi sorotan utama setelah mencetak enam gol, sebuah rekor pribadi yang luar biasa.

Kemenangan ini memang memberi suntikan moral yang besar, namun perlu dicatat bahwa Brunei bukan lawan yang seimbang. Secara kualitas, mereka berada jauh di bawah. Oleh karena itu, hasil ini lebih mencerminkan perbedaan level ketimbang performa optimal Garuda Muda.

Ujian Sesungguhnya: Menang Tipis Lawan Filipina

Laga kedua kontra Filipina menjadi momen ujian sebenarnya. Filipina datang dengan modal kemenangan 2-0 atas Malaysia dan tampil cukup solid. Indonesia pun harus bekerja keras sebelum akhirnya menang tipis 1-0.

Gol kemenangan datang bukan dari skema serangan terbuka, melainkan hasil blunder. Jaime Rosquillo salah mengantisipasi lemparan ke dalam Robi Darwis, dan bola justru bersarang ke gawang sendiri.

Jens Raven dan Hokky Caraka gagal mencetak gol, dan hal ini menjadi sorotan. Ketika lini serang tak lagi dimanjakan pertahanan lemah seperti Brunei, efektivitas serangan Indonesia tampak menurun drastis.

Ditahan Malaysia: Minim Kreasi Tanpa Arkhan Fikri

Pada laga terakhir, Indonesia menghadapi Malaysia. Meski duel ini tak lagi menentukan posisi klasemen—Indonesia sudah dipastikan lolos—laga tetap berlangsung dengan tensi tinggi.

Absennya Arkhan Fikri terasa sekali. Tanpa gelandang kreatif milik Arema FC itu, Garuda Muda kesulitan membongkar pertahanan Malaysia. Serangan Indonesia monoton dan minim variasi. Laga berakhir imbang tanpa gol.

Catatan Kritis dari Gerald Vanenburg

Secara keseluruhan, Indonesia tampil solid dari sisi pertahanan dan penguasaan bola. Namun, produktivitas lini depan menjadi titik lemah yang mencolok, terutama dalam dua laga terakhir.

Pelatih Gerald Vanenburg pun tak menutup mata soal ini. "Saya rasa kami benar, tim kami kurang dalam hal penyelesaian. Biasanya Jens mudah membuat gol, tetapi malam ini tidak seperti itu," ungkapnya usai laga kontra Malaysia.

Pelatih asal Belanda itu juga menyadari pentingnya adaptasi. "Bagi saya, ini turnamen pertama saya dengan timnas U-23. Saya perlu tahu dulu pemain-pemainnya. Untuk sekarang, saya sudah cukup senang, kami main dua pertandingan dengan bagus. Sekarang kami juga menguasai bola 60-70 persen, tetapi masih sulit mencetak gol, jadi secara keseluruhan saya senang dengan performa timnya," sambungnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Rodri Ungkap 2 Cara Spanyol Meredam Lionel Messi

Asad ArifinTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan