Dario Hubner, Alkohol, dan Gol

Kisahnya adalah kombinasi antara ketekunan, bakat alami, dan sikap santai yang nyaris sembrono.

Diperbarui 16 Juli 2025, 12:44 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Setelah mencetak 75 gol di dua kasta teratas bersama Brescia, Hubner pindah ke Piacenza. Di klub yang tak besar itu, ia justru mengukir sejarah. Gol pertamanya datang saat mengalahkan AS Roma, sang juara bertahan. Ia kemudian mencetak tiga brace beruntun dan terus menambah pundi-pundi gol hingga musim berakhir.

Dengan 24 gol, Hubner menutup musim sebagai Capocannoniere Serie A, sejajar dengan David Trezeguet yang dibantu bintang-bintang seperti Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, dan Edgard Davids. Hubner? Ia cuma ditemani pemain-pemain seperti Paolo Poggi, Matuzalem, dan Eusebio Di Francesco. Namun, dalam urusan menjebol gawang, ia tetap tak tertandingi.

Pahlawan Rakyat yang Tak Pernah Mengenakan Seragam Azzurri

Meski mencetak lebih dari 300 gol sepanjang kariernya, Hubner tak pernah sekali pun dipanggil ke Timnas Italia. Bukan karena kurang kualitas, tapi mungkin karena ia terlalu 'liar' untuk dimasukkan ke sistem. Namun, publik tetap mencintainya karena ia mewakili sesuatu yang tak lagi banyak ditemukan dalam sepak bola modern—kebebasan.

Ia bukan pemain yang terobsesi dengan gaya hidup mewah. Hubner hanya ingin mencetak gol dan menikmati hidupnya dengan cara yang sederhana: bermain bola, minum grappa, dan merokok di sela-sela latihan. Bahkan saat akhirnya berhenti merokok, ia memilih beralih ke vape. “Saya akhirnya berhenti merokok bulan Mei lalu, sekarang saya hanya nge-vape,” ujarnya.

Dario Hubner adalah legenda yang tak butuh panggung megah. Ia membuktikan bahwa dalam sepak bola, tak semua hal harus sempurna. Terkadang, cukup jadi diri sendiri dan terus mencetak gol—meski tangan kiri memegang rokok dan segelas grappa menunggu di ruang ganti.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan