Allegri dan Milan: Kembali ke Masa Lalu demi Masa Depan

AC Milan yang kini ditangani Allegri jauh berbeda dari skuad juara Serie A 2010/11, tanpa bek kelas dunia dan striker senior seperti Zlatan Ibrahimovic di puncak performa.

Diperbarui 04 Juni 2025, 15:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selain itu, rekam jejak Allegri di Eropa pun tak menjanjikan. Dua musim terakhir bersama Juventus ditandai kegagalan di Liga Champions, termasuk gugur di fase grup dan kekalahan mengejutkan dari Villarreal. Citra sebagai pelatih elite Eropa pun mulai luntur.

Milan: Stabilitas yang Terlambat?

Di tengah segala keraguan, satu hal yang bisa ditawarkan Allegri adalah pengalaman dan kestabilan. Pendahulunya, Sergio Conceicao, gagal menyatu dengan atmosfer Serie A dan tekanan media Italia. Hasilnya tak konsisten, strateginya kaku, dan pendekatannya terasa asing.

Milan di bawah Conceicao tampil membingungkan. Mereka kehilangan arah di Liga Champions dan terpeleset di final Coppa Italia meski sempat mengalahkan lawan yang sama di liga. Dalam konteks tersebut, keputusan Milan untuk bertindak cepat dan menunjuk Allegri terasa logis.

Kehadiran direktur olahraga berpengalaman seperti Igli Tare mendampingi Allegri menambah nuansa perencanaan matang. Dengan waktu cukup untuk evaluasi skuad dan pramusim, Milan seolah ingin membangun masa depan dari fondasi yang lebih kokoh. Meski demikian, manajemen yang baik belum tentu berbuah trofi.

Milan dan Allegri: Reuni atau Pengulangan Kesalahan?

Furlani menyebut ini sebagai bentuk 'reset' strategi, sebuah langkah mundur demi lompatan ke depan. Allegri dipilih atas dasar keamanan dan rekam jejak, bukan karena keberanian bereksperimen. Namun, suporter Milan tentu menginginkan sesuatu yang lebih segar dan progresif.

Scudetto Serie A ke-19 Milan datang dari tangan Stefano Pioli yang berani menyesuaikan pendekatannya dan mengandalkan pemain muda. Sebaliknya, Allegri sukses mempersembahkan gelar ke-18 dengan pendekatan konvensional. Kini, apakah dia masih mampu membaca zaman dan menyesuaikan taktiknya?

Tanpa bek kelas dunia atau gelandang pekerja keras yang mendukung sistem favoritnya, ruang kesalahan Allegri sangat sempit, apalagi dalam lanskap sepak bola modern yang menuntut dinamika tinggi dan kreativitas dalam membangun serangan.

Sumber: Sempre Milan

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan