Profil Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi: Dari Doha Membangun Kerajaan di Paris

Lebih dari satu dekade memimpin PSG, Al-Khelaifi bukan hanya menciptakan sebuah dinasti kerajaan yang bergelimang trofi. menjadikan PSG bukan sekadar klub, melainkan simbol dari kekuatan, prestise, dan brand global.

Diperbarui 30 Mei 2025, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Namun, hasil itu tak membuatnya mundur. PSG tetap mampu mengakhiri musim di posisi kedua dan lolos ke Liga Champions. Itu menjadi titik awal perjalanan panjang menuju puncak. Proyek jangka panjang yang dia bangun mulai menunjukkan hasil.

Dengan dana besar dan visi jelas, PSG perlahan menjelma menjadi kekuatan dominan. Di baliknya, Al-Khelaifi bekerja tanpa banyak sorotan, tapi dengan pengaruh yang sangat terasa. Dia tahu bahwa membangun kerajaan tidak bisa dilakukan semalam.

Era Keemasan: PSG Jadi Mesin Trofi

Sejak 2011 hingga kini, PSG di bawah Al-Khelaifi telah mengoleksi lebih dari 70 trofi di semua kompetisi. Tim pria mencatatkan 36 gelar, termasuk 11 trofi Ligue 1—sebuah dominasi yang belum pernah terjadi sebelumnya di kancah sepak bola Prancis.

Selain Ligue 1, PSG juga sukses di Coupe de France, Coupe de la Ligue, dan Trophee des Champions. Klub ini tak hanya mendominasi, tapi juga mengubah standar keberhasilan di sepak bola domestik. Bagi PSG, juara adalah keharusan.

Dominasi ini bukan hanya soal pemain bintang atau belanja besar, tapi juga manajemen yang stabil dan modern. Al-Khelaifi membentuk klub seperti perusahaan global: efisien, ambisius, dan punya misi yang jelas. PSG bukan lagi sekadar klub kota Paris, tapi kekuatan global.

Final Liga Champions dan Rekor Baru

Musim 2024/2025 menjadi tonggak emosional bagi PSG dan Al-Khelaifi. Untuk kedua kalinya dalam sejarah, PSG lolos ke final Liga Champions, bahkan berpeluang mengukir treble bersejarah. Setelah kekalahan menyakitkan di Lisbon tahun 2020, mereka kembali membawa mimpi ke final di Munchen.

Perjalanan ini juga menandai pencapaian pribadi Al-Khelaifi sebagai presiden terlama dalam sejarah PSG. Dia melampaui rekor Francis Borelli, presiden legendaris yang membawa PSG ke trofi pertamanya pada 1982. Kini, Al-Khelaifi membawa klub ke era galaksi baru.

Final di Munchen bukan sekadar pertandingan, tapi simbol dari transformasi total. PSG telah berkembang menjadi kekuatan elite dan Al-Khelaifi adalah arsitek utama di balik semua itu. Sebuah kisah dari pasir gurun menuju gemerlap Eropa.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Gia Yuda PradanaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan