Pelajaran dari Piala Presiden 2025: Demi Dongkrak Kualitas Sepak Bola Indonesia

Piala Presiden 2025 menghadirkan terobosan baru. Klub asing diundang berpartisipasi untuk mengikuti turnamen pramusim termegah di Tanah Air tersebut.

Diperbarui 15 Juli 2025, 12:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Piala Presiden 2025 menghadirkan terobosan baru. Klub asing diundang berpartisipasi untuk mengikuti turnamen pramusim termegah di Tanah Air tersebut.

Ini adalah kali pertama dalam tujuh penyelenggaraan kompetisi tim impor berkompetisi. Yang datang juga tidak sembarangan. Meski ada keterkaitan dengan keberadaan pemain timnas Indonesia, pemilihan Oxford United asal Inggris dan Port FC dari Thailand diharapkan dapat mengangkat kualitas Piala Presiden.

Kedua tim itu bakal bersaing melawan penguasa BRI Liga 1 2024/2025 Persib Bandung, runner-up Dewa United, juara bertahan Piala Presiden Arema FC, plus tim bertabur bintang Liga Indonesia All Star.

"Tahun ini Piala Presiden 2025 mencoba formula yang berbeda. Peserta adalah juara liga dan pemenang Piala Presiden sebelumnya. Lalu kami undang klub internasional yang bisa mengembangkan kualitas pemain timnas kita," ungkap Ketua Umum PSSI Erick Thohir pada jumpa pers sebelum turnamen, 13 Juni lalu.

Harapan tersebut terwujud di lapangan. Meski berkutat di kasta kedua sistem kompetisi sepak bola Inggris, Oxford United menunjukkan level mereka berada di atas yang lain. Torehan 10 gol untuk mengalahkan dua rival di Grup A melawan Liga Indonesia All Star (6-3) dan Arema FC (4-0) adalah buktinya.

Port FC tidak mau kalah. Klub yang menempati peringkat lima Liga Thailand musim lalu itu membungkam Persib Bandung 2-0 pada partai pembuka Grup B. Mereka lalu bangkit dari ketertinggalan sebelum membekuk Dewa United 2-1.

 

Kemenangan Spektakuler Port FC

Berkuasa di puncak klasemen masing-masing, Oxford United dan Port FC melaju ke final. Pada laga penuh pertarungan taktik di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Minggu (13/7/2025), The U's kembali memamerkan daya ledak dan memimpin lewat Mark Harris. Gol ini sekaligus membawa sang pemain menjadi top skor turnamen.

Namun, Port FC tidak pantang menyerah. Alexandre Gama memamerkan kepiawaian mengatur strategi setelah melihat taktik awal tidak berjalan.

Usai Teerasak Poeiphimai menyamakan kedudukan jelang jeda, modifikasi strategi berbuah gol cepat Brayan Perea di awal babak kedua. Adaptasi kembali dilakukan menyusul kartu merah Tanaboon Kesarat tidak lama berselang.

Port FC merapatkan barisan yang membuat Oxford United kewalahan. Meski begitu, Port FC tidak melulu bertahan demi mempertahankan keunggulan. Mereka sesekali mengincar gol ketiga untuk menyudahi semangat lawan, salah satu peluang dimiliki eks striker Borneo FC, Matheus Pato.

Skor pada akhirnya tidak berubah. Port FC membuat kejutan dan mencatat sejarah dengan membawa pulang trofi ke Thailand.

"Saya sangat senang karena ide saya diimplementasikan anak-anak. Mereka layak merayakan keberhasilan ini," kata Gama pada keterangan selepas pertandingan.

Persib Bandung Tidak Panik, Dewa United Dapat Modal Positif

Lalu, pelajaran apa yang bisa diambil wakil Indonesia dari Oxford United dan Port FC usai mengikuti Piala Presiden 2025?

Persib Bandung bakal memanfaatkan pengalaman ini untuk mematangkan tim sebelum terjun ke panggung sesungguhnya: BRI Super League dan AFC Champions League 2. Pangeran Biru sudah melakukannya tahun lalu.

Mereka tampil mengecewakan di Piala Presiden 2024 dan langsung kandas pada fase grup. Namun, pasukan Bojan Hodak kemudian sukses mempertahankan takhta Indonesia.

"Kami harus banyak belajar lagi dari setiap pertandingan. Kami ambil hikmahnya. Baik hal yang positif dan kekurangan-kekurangannya juga. Kami masih punya waktu untuk memperbaiki itu semua," kata Hodak.

Di sisi lain, Dewa United bisa tersenyum karena menjadi wakil Indonesia terbaik pada Piala Presiden 2025. Kedatangan Nick Kuipers, Cassio Scheid, Wahyu Prasetyo, Edo Febriansah, Stefano Lilipaly, Rafael Struick, dan Privat Mbarga membuat mereka menjadi kekuatan yang layak diperhitungkan pada musim mendatang.

Menjadi tugas pelatih Jan Olde Riekerink meracik komposisi skuad bertabur bintang miliknya agar lebih konsisten, agar tidak mengalami kekecewaan seperti musim lalu.

 

Arema FC Wajib Berbenah, Liga Indonesia All Star Bawa Pulang Pengalaman

Sementara Arema FC mendapat tamparan paling keras. Gagal meraih kemenangan di dua laga Grup A memperpanjang performa buruk, setelah hanya sekali berjaya pada tujuh pertandingan terakhir BRI Liga 1 2024/2025. Singo Edan wajib membenahi rapor tersebut jika mau berprestasi pada kompetisi mendatang.

Pemain Liga Indonesia All Star juga mendapat berkah. Mereka berkesempatan menambah jam terbang di Piala Presiden 2025 mengingat klub induk tidak berpartisipasi.

“Ini bagus untuk kami, pemain per individu untuk mengarungi liga musim depan dan bisa dapat pelajaran berarti,” kata gelandang Liga Indonesia All Star Bayu Otto asal Persik Kediri.

Semua pengalaman itu bakal berarti di masa depan. Dengan begitu, kualitas tim dan pemain Indonesia dipercaya bakal meningkat, sesuai harapan awal penyelenggara Piala Presiden 2025.

“Laga final membuktikan bobot dan gengsi Piala Presiden sudah naik kelas. Tidak hanya sekadar turnamen pramusim, tapi ajang ini kini jadi magnet bagi klub-klub luar negeri dan sekaligus tolok ukur daya saing klub-klub Indonesia,” ungkap Erick Thohir.

“Ke depan, kami ingin agar klub-klub lokal tidak hanya berpartisipasi, tapi berprestasi. Ini tantangan sekaligus peluang untuk berbenah dan bangkit,” pungkasnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan