3 Penyebab Inkonsistensi Juventus Bersama Thiago Motta Musim Ini

Dengan kedatangan Thiago Motta sebagai pelatih baru, Juventus memasuki musim 2024/2025 dengan semangat dan strategi baru. Namun belakangan Juventus sering membuang peluang menang.

OlehThomas
Diterbitkan 02 November 2024, 00:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Danilo, pemain veteran asal Brasil, menjadi starter dalam tiga pertandingan terakhir, tapi ia menyebabkan dua penalti dan menerima kartu merah. Federico Gatti, yang merupakan starter reguler dan kapten Juventus di awal musim, harus turun peringkat setelah mengalami cedera ringan.

Sementara itu, Pierre Kalulu, yang bisa dibilang bek terbaik Juventus saat Bremer absen, tampil kurang meyakinkan saat melawan Stuttgart dan Inter, dan diistirahatkan saat melawan Parma pada hari Rabu.

Motta kini harus berpikir keras mengatasi masalah di lini belakang ini sebelum jendela transfer Januari dimulai.

Motta Belum Bisa Maksimalkan Potensi Lini Tengah

Di lini tengah Si Nyonya Tua, tampaknya hanya ada tiga pemain yang dianggap 'tak tersentuh': Teun Koopmeiners, Weston McKennie, dan Manuel Locatelli. Locatelli telah membuktikan dirinya sebagai gelandang bertahan yang ideal bagi Motta, mengisi peran yang sebelumnya dipegang oleh Remo Freuler di Bologna musim lalu.

Meskipun kontribusi Locatelli dalam membangun serangan telah meningkat dibandingkan musim lalu, ia masih memerlukan dukungan berkualitas di sekitarnya, dan di sinilah masalah mulai muncul.

Douglas Luiz, mantan bintang Aston Villa yang menjadi salah satu rekrutan terbesar Juventus musim panas lalu, kesulitan mendapatkan waktu bermain dan baru-baru ini mengalami cedera otot yang akan membuatnya absen selama beberapa minggu.

Nicolò Fagioli lebih sering dipandang sebagai cadangan bagi Locatelli, sementara Teun Koopmeiners, rekrutan termahal Juventus musim panas ini, hanya mampu memberikan satu assist dalam delapan penampilan. Pemain asal Belanda ini juga menghadapi masalah kebugaran dan bermain dalam pertandingan terakhir melawan Parma dengan perlindungan untuk tulang rusuknya yang patah.

Namun, bahkan ketika ia dalam kondisi bugar, ia kesulitan menemukan jalur umpan yang sebelumnya tampak alami beberapa bulan lalu di Atalanta. Koopmeiners sering kali bertukar posisi dengan Kenan Yildiz, kadang-kadang berpindah ke sayap kiri, tetapi kontribusi golnya yang minim menunjukkan bahwa Motta masih belum menemukan cara terbaik untuk memanfaatkan bakat pemain internasional Belanda ini di Allianz Stadium.

Tak Punya Pelapis Vlahovic

Juventus cuma punya satu striker murni di awal musim ini yakni Dusan Vlahovic. Penyerang asal Serbia ini memang kerap mendapatkan kritik lebih dari yang seharusnya dari para penggemar dan media. Pada usia 24 tahun, ia telah mencetak delapan gol dalam 13 pertandingan di semua kompetisi. Namun, setiap kali Juventus gagal meraih kemenangan atau dia tidak mencetak gol (terlebih lagi jika kedua hal tersebut terjadi bersamaan, seperti melawan Parma), Vlahovic menjadi salah satu yang paling banyak dikritik.

Memang, terkadang ia melewatkan peluang emas dan kesempatan yang seharusnya mudah bagi seorang penyerang yang digadang-gadang menjadi salah satu yang terbaik di dunia. Namun, di sisi lain, Vlahovic adalah satu-satunya pilihan Juventus di lini serang, mengingat Arkadiusz Milik harus absen selama beberapa minggu setelah menjalani operasi baru awal bulan ini.

Pemain internasional Polandia tersebut belum menjalani debutnya di bawah arahan Motta dan tentunya, mencari penyerang tengah baru juga menjadi agenda Bianconeri pada bulan Januari. 

Akibatnya Vlahovic kerap kelelahan. Motta juga belum bisa menemukan taktik cadangan yang tepat bila Vlahovic mandul.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Thomas, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan