Ellyas Pical: Harus Yakin Bisa Menang, Kalau Tidak Pulang Kampung Saja

Awal Juni lalu, pada pemutaran film berjudul Ellyas Pical, terlihat Elly duduk di sebelah Menpora Dito Ariotedjo. Elly memang belum kehilangan kharismanya.

Diperbarui 19 September 2024, 20:19 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Tak banyak petinju Indonesia yang dikenal luas karena prestasinya, namun di antara yang sedikit itu nama Ellyas Pical pasti berada di urutan teratas. Tak akan lengkap membicarakan cabang olahraga tinju Tanah Air tanya menyebut petinju yang selalu tampil dengan kekuatan tangan kirinya ini.

Lahir di Ullath, Saparua Timur, Maluku Tengah pada 24 Maret 1960, Ellyas Pical yang karib disapa Elly ini tumbuh di lingkungan yang keras dan punya kisah hidup yang berliku. Seperti banyak cerita lainnya, kondisi keluarga yang serba kekurangan membuat Elly tak bisa menempuh pendidikan layaknya anak normal. Pada akhirnya, Elly dituntut untuk mandiri.

Sebagai bagian dari keluarga nelayan, sejak kecil dia sudah bekerja sebagai pencari ikan, yang hingga kini masih membekas dalam kehidupannya. Karena terlalu sering menyelam hingga dasar laut tanpa menggunakan alat bantu, membuat pendengaran Elly terganggu hingga kini.

Selain itu, untuk membantu perekonomian keluarga, Elly kecil juga berjualan es lilin di pasar. Yang jelas, sejak kecil Elly tak memperlihatkan tanda-tanda akan mengikuti jejak keluarga besarnya yang hobi bermain musik. Alih-alih memegang alat musik, Elly ternyata lebih memilih mengenakan sarung tinju.

Perkenalan Elly dengan dunia tinju dimulai pada umur 13 tahun. Kala itu, Elly kerap menyaksikan pertandingan tinju di televisi, khususnya saat sang idola Muhammad Ali beraksi di layar kaca TVRI. Pengalaman inilah yang pada akhirnya membuat Elly memiliki keinginan menjadi petinju profesional dan mulai berlatih diam-diam dengan peralatan seadanya.

Penolakan dari orangtua yang tak menginginkan Elly menjadi petinju tak membuat sang anak patah arang. Apalagi sang paman memberi Elly hadiah sarung tinju yang membuatnya makin bersemangat mengejar impian. Selain berlatih, diam-diam Elly mengikuti berbagai kompetisi tinju di daerahnya.

Ternyata Elly memang berbakat. Pada 1980, Elly menjalani laga tinju debutnya di level amatir saat mengikuti turnamen Piala Presiden di Jakarta. Saat itu, Elly berhasil meraih medali emas pada kelas 51 kg. Berkat kemenangan tersebut, Elly mendapat kontrak untuk terjun ke dunia tinju profesional dua tahun kemudian.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Namun sayang, dalam laga debut profesionalnya ia menelan kekalahan dari Edward Apay pada duel di tahun 1983. Dari kekalahan di laga debut tersebut ia terus berlatih dengan keras dan membuatnya menguasai panggung Super Flyweight. Tahun 1984, Elly menghentikan langkah mantan petinju nomor satu dunia, Prayurasak Muangsurin dan disusul dengan mengklaim gelar juara OPBF Super Flyweight usai mengalahkan Hee Yun Chun dari Korea Selatan di Kota Seoul pada 19 Mei pada tahun yang sama. Kemenangan angka 12 ronde dari Hee Yun Chun tersebut mengukir nama Elly menjadi petinju profesional pertama Indonesia yang berhasil meraih gelar internasional di luar negeri. Setahun kemudian, Elly menambah koleksi gelarnya dengan merebut sabuk juara dunia IBF kelas Bantam Junior usai mengalahkan petinju Korea Selatan lainnya, Ju Do Chun. Berkat penampilan di atas ring yang selalu menuai decak kagum, Elly pun diberi julukan The Exocet, yang diambil dari nama rudal milik Prancis yang digunakan Argentina dalam Perang Malvinas. The Exocet dianggap menggambarkan kecepatan dan kekuatan pukulan hook serta uppercut kiri Elly yang mematikan. Sepanjang kariernya, Elly tercatat mengalami 5 kali kekalahan dari 26 pertandingan. Kekalahan pertama didapat saat melawan sesama petinju Indonesia Edward Apay di GOR Pulosari, Malang. Sedangkan kekalahan terakhir terjadi pada 12 Maret 1990 saat menghadapi petinju asal Amerika Serikat Greg Richardson di Jakarta. Selepas memutuskan pensiun dari ring tinju, kehidupan Elly sempat luntang-lantung. Dari pengakuannya, dia sempat menjadi office boy hingga satuan pengamanan untuk menyambung hidup keluarga. Pada 13 Juli 2005, Elly membuat geger Ketika dikabarkan ditangkap polisi saat bertransaksi narkoba di sebuah diskotek. Dalam kasus ini dia divonis hukuman penjara selama tujuh bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Setelah bebas pada 7 Februari 2006, Elly lantas dipekerjakan di KONI Pusat. Tak hanya itu, wajahnya juga kembali muncul di layar kaca, bukan sebagai petinju melainkan jadi komentator pertandingan. Elly juga pernah mendapat penghargaan dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan dinobatkan sebagai pria lanjut usia (lansia) berprestasi di peringatan Hari Lanjut Usia Nasional (HLUN) pada 29 Mei 2021. Terakhir, Falcon Pictures memproduksi film tentang perjalanan hidup Elly sebanyak enam episode. Awal Juni lalu, pada pemutaran film berjudul Ellyas Pical ini, terlihat Elly duduk di sebelah Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo. Elly memang belum kehilangan kharismanya. Lantas apa pesan Elly untuk generasi muda yang ingin melanjutkan perjuangannya? Berikut petikan wawancara Ellyas Pical dengan Sheila Octarina dalam program Bincang Liputan6.

Halaman
Show All
RinaldoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan