Wawancara Eksklusif Hendra Basir: Kilas Balik Penemuan Veddriq Leonardo hingga Menggembleng Jadi Juara Olimpiade

Hendra Basir merupakan sosok dibalik keberhasilan Veddriq Leonardo merebut medali emas di Olimpiade 2024.

OlehThomas
Diperbarui 06 September 2024, 01:27 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Veddriq Leonardo kini dielu-elukan sebagai pahlawan olahraga Indonesia setelah menyumbangkan medali emas di Olimpiade 2024 di cabang olahraga panjat tebing nomor speed putra. Veddriq menjadi atlet Indonesia pertama yang merebut emas di Paris setelah paceklik medali selama pekan-pekan awal.

Pemuda asal Pontianak itu juga mencatatkan diri dalam buku sejarah sebagai sebagai atlet Indonesia pertama di luar cabor bulu tangkis yang bisa meraih emas. Sebelumnya delapan medali emas Indonesia di Olimpiade cuma didapat dari bulu tangkis setelah dibuka oleh Susy Susanti pada 1992.

Medali emas direbut setelah Veddriq menaklukkan wakil China Wu Peng dalam laga final nomor speed putra yang digelar di Le Bourget Sport Climbing Venue. Veddriq finis dengan catatan waktu 4,75 detik, sedang lawannya terpaut tipis dengan torehan 4,77 detik.

Kesuksesan Veddriq merebut emas Olimpiade 2024 tentu saja tidak lepas dari jasa pelatih Hendra Basir. Dia merupakan orang di balik layar kebangkitan olahraga panjat tebing Indonesia khususnya nomor speed.

Total ada empat atlet panjat tebing Indonesia yang lolos ke Olimpide. Selain Veddriq ada, Rahmad Adi Mulyono di kategori putra, serta Rajiah Salsabillah dan Desak Made Rita Kusuma Dewi di sektor putri.

Liputan6.com berkesempatan mewawancarai Hendra Basir di tempat latihan timnas panjat tebing pada pekan ini di kawasan Harapan Indah, Bekasi. Hendra bercerita soal kilas balik penemuan bakat Veddriq hingga cara menjaga para atletnya agar berprestasi dunia.

Berikut wawancara Liputan6.com dengan Hendra Basir:

Veddriq Ditemukan di Pra PON 2025

Bagaimana awal mulai menemukan bakat hebat seperti Veddriq?

Kami tim pelatih pertama kali melihat Veddriq, kalau saya pribadi, pas Pra PON 2015. Saya masih jadi pelatih DKI Jakarta. Dia membela Kalbar. Veddriq ketika itu ikut di zona neraka yang banyak atlet-atlet unggulan disitu. Ngobrol dengan atlet saya Aspar. Saya bilang anak ini bagus cuma kayanya udah tua. Dua tahun berlalu saya sudah di timnas ada kejurnas di Yogyakarta, tanpa sengaja saya ketemu di tribun saat itu dia baru dapat perunggu. Saya tanya umur berapa ternyata 19 berarti 2015 itu baru 17 tahun. Tapi memang tampangnya keliatan tua gitu ya. Jadi gak masuk radar ya karena prioritasnya atlet usia dini.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Akhirnya saya minta binpres dia jadi atlet sparring partner untuk persiapan Asian Games 2018 di Palembang. Disitulah awal mula Veddriq bergabung dengan tim. Perjalanannya lumayan panjanglah setelah dari situ. Yang spesial dari Veddriq? Dia pembawaannya yang tenang. Di Olimpiade kemarin biasa kode saya fokus dan tenang tapi kemarin dipertandingan itu cuma bilang fokus aja karena dia sudah tenang jadi buat apa saya tenangin karena dia sudah tenang. Cara memotivasi Veddriq karena dituntut untuk emas? Hari pada saat final putri, kita gagal untuk meraih medali. Padahal potensi di putri sama dengan di putra ada di zona perebutan emas. Saat Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Rajiah gagal raih medali saya langsung chat vedrrie pasti bebannya di kamu ini. Tenang aja rileks dan istirahat. Dia di atlet village ga nonton final putri. Pokoknya istirahat aja untuk final besok. Pas sudah sampai malam itu saya breafing dia untuk lebih cepat untuk makan pagi makan berat. Biasanya kan sama tim. Sambil jalan ke dining hal saya ngobrol sama Veddriq pokoknya ikhlasin aja apapun yang terjadi pesaingnya sudah sering ketemu kok di World Cup. Jadi pasti bebanya ke kamu enjoy aja nikmatin

Halaman
Show All
Thomas, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan