Suwardi: Saya Menjadi Petarung karena Kepepet, Nggak Ada Pilihan Lain

Saat melawan Erpinsyah, Suwardi secara mengejutkan melahirkan teknik kuncian baru yang diberi nama Wardicana.

Diperbarui 03 November 2023, 17:39 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Jalan hidup memang tak ada yang tahu. Namun yang pasti, kesuksesan pastilah berangkat dari kerja keras. Hal itu pula yang diamini Suwardi, pria asal Magetan, Jawa Timur, yang kini menjelma menjadi petarung tangguh di ring octagon di mana namanya melegenda dalam ajang Mixed Martial Arts (MMA) Indonesia, One Pride.

Lahir pada 25 Desember 1984 di Desa Bogoarum, Kecamatan Plaosan, Magetan, Jawa Timur hidup Suwardi penuh warna. Sejak kecil, kehidupan anak pertama dari pasangan Giman dan Tarmi ini memprihatinkan mengingat orangtuanya tergolong kurang mampu. Alasan itu pula yang membuat dia rela untuk menempuh pendidikan hanya sampai SMP.

Tak banyak bekal yang dia dapat dari pendidikan tersebut. Hanya saja, sejak kecil dia menyukai olahraga bela diri dan sempat menimba ilmu silat di Persaudaraan Setia Hati Terate. Melihat tak ada yang bisa dijadikan sandaran hidup, Suwardi memutuskan untuk merantau ke Madura.

Tak banyak pilihan pekerjaan di Madura, Suwardi akhirnya memutuskan berjualan bakso. Awal tahun 2000, Suwardi memutuskan pindah ke Bogor, Jawa Barat dan bekerja di bengkel motor. Banyak pekerjaan yang kemudian dilakoni Suwardi seperti kuli pasar, penjaja minuman, tukang gali kabel hingga penjaga kos-kosan hingga akhirnya dia bersentuhan dengan dunia MMA.

Semuanya berawal ketika Suwardi mengantarkan temannya berlatih Brazilian Jiu-jitsu di daerah Mangga Besar, Jakarta Barat. Saat ditawari untuk berlatih, Suwardi menolak karena tak mampu membayar uang iuran. Melihat potensi Suwardi, pelatih pun memberi kelonggaran untuk berlatih tanpa membayar iuran namun harus membersihkan tempat latihan setiap hari.

Meski sudah menjadi atlet bela diri, penghasilan yang didapat belum memuaskan Suwardi dan dia memutuskan meninggalkan Jakarta untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit di Bogor. Namun, bekerja di perkebunan tak lantas membuat Suwardi meninggalkan latihan bela diri.

Langkah menuju petarung profesional Suwardi dimulai saat bergabung dengan Synergy Asta di Bogor. Sejumlah pertandingan dia jajal di Bandung dan Jakarta. Bahkan, Suwardi sempat menjadi Juara 1 Submission Challenge Bandung dan Juara 1 Submission Challenge ISC pada 2014.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Tahun 2016 kesuksesan itu datang. Ia melihat peluang lebih besar ketika mengetahui ada turnamen MMA tingkat nasional bertajuk One Pride MMA. Tanpa ragu, dia ikut audisi dan tampil gemilang serta keluar menjadi juara di kelas terbang setelah mengalahkan Rengga Raphael Richard di babak final One Pride MMA dalam tempo kurang dari satu menit. Pada Februari 2019, Suwardi menorehkan catatan khusus di MMA Internasional dengan teknik barunya. Saat melawan Erpinsyah, Suwardi secara mengejutkan melahirkan teknik kuncian baru yang diberi nama Wardicana. Hingga kini total Suwardi telah bertanding sebanyak 17 kali dengan catatan 14 kemenangan dan 3 kekalahan. Suami dari wanita bernama Rita ini juga tengah menunggu pertandingan berikutnya untuk mendapatkan Sabuk Abadi One Pride. Di usianya yang menginjak 39 tahun, Suwardi mengaku belum mau untuk pensiun. Bahkan, ayah tiga orang anak ini baru saja mempertahankan gelar juara di final One Pride ke-72 MMA pada Sabtu 9 September 2023 lalu. Lantas, apa alasan Suwardi belum mau turun dari octagon? Berikut petikan wawancara Ratu Annisaa Suryasumirat dengan Suwardi dalam program Bincang Liputan6.

Halaman
Show All
Rinaldo, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan