Jelang Pemilihan Ketua KONI Jabar, Nama Balon M Budiana Ramai Jadi Sorotan

Menurut Arif Hardiana, salah seorang pegiat/praktisi di cabang olahraga karate, M. Budiana adalah sosok yang humble namun tegas

Diterbitkan 06 Desember 2022, 05:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Suksesi kepemimpinan KONI Jabar tinggal menghitung hari atau tepatnya akan ditetapkan pada 22 Desember 2022. Figur bakal calon Ketua Umum KONI Jabar periode 2022-2026 pun mulai muncul dan ramai diperbincangkan, salah satunya M. Budiana.

Sosok M. Budiana bukan nama yang asing dalam dunia olahraga di Jabar. Puluhan tahun, tepatnya sejak tahun 2000-an, Budiana sudah berkutat dalam pembinaan olahraga prestasi di wilayah Jabar.

Seperti yang diungkapkan Arif Hardiana, salah seorang pegiat/praktisi di cabang olahraga karate. Arif yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua II Bidang Pembinaan dan Prestasi FORKI Jabar mengaku sudah sangat mengenal seorang sosok M. Budiana yang saat ini mengemban amanah sebagai Ketua Harian KONI Jabar dan Pengprov Esi Jabar.

"Sekitar tahun 2004, saya sudah bersama-sama beliau membina olahraga karate di Kabupaten Bandung. Saya sebagai binpres dan beliau menjadi Ketua Harian di kepengurusan FORKI Kabupaten Bandung," Arif menceritakan.

Selama bekerjasama dan berkolaborasi melakukan pembinaan cabang olahraga karate di Kabupaten Bandung, Arif menuturkan jika M. Budiana merupakan sosok yang humble namun tegas dalam memutuskan hal yang krusial dan memiliki kredibilitas tinggi. Sosok M. Budiana pun dinilainya sangat piawai dalam berorganisasi.

"Kapasitas beliau dalam berorganisasi, termasuk di bidang olahraga, sudah sangat terbukti. Saat itu, beliau pun menjabat sebagai Wakil Ketua I KONI Kabupaten Bandung. Bukti dari keberhasilan beliau dalam pembinaan olahraga prestasi plus organisasi, Kabupaten Bandung mampu menjadi juara umum di cabang olahraga karate pada Porda tahun 2006. Terlepas dari kerja keras semua pihak, beliau punya peran penting dan sentral," Arif menuturkan

Figur Tepat

Arif mengatakan, sosok M. Budiana merupakan figur yang tepat dalam memimpin KONI Jabar melanjutkan kepemimpinan Ahmad Saefudin. Terlebih, Jabar bertekad untuk mencetak hattrick juara umum pada PON XXI tahun 2024 mendatang di Sumatera Utara dan Aceh.

"Dalam olahraga ada slogan yang berbunyi 'Don't change the winning team'. Ini pula yang terjadi di KONI Jabar, setelah berhasil meraih dua kali juara umum PON saat kepemimpinan Ahmad Saefudin, jika ingin mencetak hattrick maka harus ada kesinambungan terutama dari sisi kepemimpinan. Karena kalau dipegang figur yang baru mengenal organisasi KONI Jabar, ya akan sulit beradaptasi apalagi dari sisi waktu sudah sangat mepet karena di tahun 2023 sudah mulai babak kualifikasi. Memimpin KONI itu tidak sama dengan memimpin cabang olahraga," kata Arif.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Kelebihan lain dari sosok seorang M. Budiana, lanjut Arif, yakni latar belakangnya sebagai seorang akademisi. M. Budiana yang saat ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unpas diyakini mampu menciptakan inovasi-inovasi maupun kolaborasi secara ilmiah keilmuan. "Saat ini, pembinaan dalam olahraga prestasi membutuhkan sentuhan keilmuan atau sport science. Tidak hanya cukup dengan program latihan. Saya yakin Pak Budiana mampu menghadirkan itu karena latar belakangnya dari akademisi dan dipastikan akan berkolaborasi dengan pihak terkait yang ahli dalam hal sport science," dia menambahkan. Selain itu, kata Arif, sejarah membuktikan jika sosok ketua dengan latar belakang diluar birokrasi mampu membuktikan hadirnya prestasi di level nasional. Dalam tiga periode kepemimpinan di KONI Jabar, ketua umum dengan latar belakang non-birokrat berhasil melahirkan pondasi pembinaan olahraga prestasi di Jabar yang terus meningkat dan menjadi barometer pembinaan olahraga di Indonesia. "Pengelolaan organisasi di keolahragaan dengan birokrasi itu berbeda. Kolaborasi dengan pihak birokrasi seperti pemerintah dan legislatif memang perlu, tapi tidak secara otomatis juga di sisi kepemimpinan harus dipegang oleh mantan birokrat. Bahkan di level kecaboran, banyak yang dipegang birokrat tapi dari sisi organisasi atau prestasi tidak menunjukkan hal yang baik. Mau diakui atau tidak, tapi itulah fakta yang terjadi. Sejarah telah membuktikannya," Arif menegaskan.

Halaman
Show All
AY Yustiawan, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan