Cerita dari Patrick Vieira: Senang Bisa Mengalahkan Brasil di Dua Edisi Piala Dunia

Piala Dunia dan Brasil. Patrick Vieira punya kenangan baik soal ini. Ia mengajak kita untuk memutar kembali cerita apa yang dia miliki.

Diperbarui 12 Oktober 2022, 14:23 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia 1998 adalah kali pertama Patrick Vieira manggung di ajang prestisius turnamen sepak bola. Usianya ketika itu baru 22 tahun. Tentu saja sudah bisa ditebak dia bukan pilihan utama tim pelatih.

Dan benar saja, Vieira memang banyak menghabiskan waktu mula-mula di bangku cadangan. Wajar, sih, karena pilihan utama pelatih Aime Jacquet ketika itu adalah Emanuelle Petit, Youri Djorkaeff, Cristian Karembeu dan Didier Deschamps.

Namun Patrick Vieira adalah salah satu pemain muda bersinar. Di usia yang masih di bawah 20 tahun, pria kelahiran Ghana ini sudah diperebutkan dua raksasa Eropa; Ajax Amsterdam dan Arsenal.

Beruntung buat Arsenal, mereka sukses mengamankan jasa Vieira yang diboyong dari AC Milan. Setelahnya, kita tentu tahu bagaimana perjalanan karier Vieira di sepak bola Inggris.

Tapi, lupakan sejenak soal Vieira dan Arsenal. Mari bicarakan bagaimana penampilannya di Piala Dunia 1998.

Vieira kali pertama mentas saat Prancis menghadapi Denmark. Ketika itu, Les Bleus sudah mengunci tiket ke babak 16 besar.

Seturut dengan pencapaian Prancis, tentu Jacquet berani untuk menurunkan para pemain muda. Nah, Vieira masuk dalam barisan 11 awal dan bermain 90 menit.

Hasilnya tak mengecewakan. Vieira yang bermain di posisi gelandang bertahan mampu menjadi penyeimbang lini tengah. Tapi, permulaan yang baik ini tak menjamin Vieira muda kembali dipercaya. Sebab, tiga laga setelahnya, ia kembali menempati pos utamanya di Piala Dunia: pemain cadangan.

Situasi Timnas Prancis Tak Kondusif Setelah Babak Grup Piala Dunia 1998

Vieira muda (mungkin) sudah kadung pasrah. Sebab, laga-laga sulit akan dilalui Prancis setelah di babak grup.

Prancis akhirnya melaju ke panggung terakhir. Bermodalkan kemenangan yang sejatinya bikin pendukung mereka ketar ketir, tapi final sudah di depan mata.

Kekhawatiran memuncak. Rakyat Prancis ketika itu seakan berani bertaruh jika lawan mereka akan melenggang mulus membawa piala.

Bukan tanpa alasan karena Brasil adalah calon lawan Prancis. Juara bertahan Piala Dunia 1994 itu datang dengan membawa pemain senior yang dikombinasikan dengan pemain muda potensial macam Ronaldo dan Rivaldo.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Vieira mengakui bahwa kondisi tim memang tak kondusif jelang laga final. "Ketika Anda akan menghadapi Brasil, pelatih bahkan tak perlu menjelaskan apa pun," kata Vieira kepada Globi Esporte dikutip laman FIFA. "Karena ketika Anda berbicara tentang sepak bola, Anda hanya akan berbicara tentang Brasil, Brasil, Selecao," katanya lagi. Brasil sejatinya tak melalui Piala Dunia 1998 dengan mulus-mulus amat. Di babak grup, mereka sempat kalah 0-1 di laga pemungkas kontra Norwegia setelah dua laga sebelumnya meraih kemenangan. Tapi, di babak 16 besar hingga semifinal, Brasil betul-betul menunjukkan kelas mereka. Dari tiga laga yang dijalani, tim besutan Mario Zagallo melaju mulus dua kali dengan margin rata-rata gol pertandingan di atas 2. Di semifinal, langkah Brasil memang nyaris tersendat. Belanda yang menjadi lawan mereka ketika itu, sukses membuat skor imbang sehingga laga berlanjut ke babak adu penalti. Pada babak tos-tosan, Brasil keluar sebagai pemenang karena dua eksekutor Belanda yakni Phillip Cocu dan Ronald De Boer gagal menunaikan tugas mereka. Sementara Ronaldo, Rivaldo, Emerson dan Dunga, sukses menjalankan tugas mereka. Skor akhir menjadi 4-2 dan berhak mengunci satu tiket ke final.

Halaman
Show All
Alan Kusuma, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan