Tragedi Arema vs Persebaya, Paling Mematikan Kedua dalam Sejarah Sepak Bola Dunia

Tragedi Kanjuruhan menjadi sorotan dunia. Dan kini tercatat sebagai pertandingan paling mematikan kedua dalam sejarah

Diperbarui 02 Oktober 2022, 13:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta- Sepakbola Indonesia berduka, sebanyak 129 nyawa melayang dan jumlahnya masih bisa bertambah usai tragedi Kanjuruhan.

Minggu, 1 Oktober 2022, usai pertandingan Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam laga lanjutan Liga 1 berakhir kemenangan untuk tim tamu 3-2.

Usai wasit meniupkan peluit panjang, ribuan Aremania merangsek masuk ke area lapangan, mereka kecewa tim kesayangan kalah di tangan rival.

Kerusuhan meluas, botol-botol dilempar ke dalam lapangan termasuk juga flare dan benda lainnya. Petugas keamanan tidak tinggal diam, polisi dan TNI masuk ke lapangan berusaha menekan serbuan.

Mobil polisi ikut menjadi sasaran amukan suporter dengan dibakar. Kondisi tersebut membuat polisi menembakkan gas air mata, karena menimbang jumlah personil keamanan yang tak sebanding dengan suporter.

Dan, kondisi yang paling tidak diinginkan pun terjadi, ratusan nyawa melayang akibat tragedi Kanjuruhan Malang. Data sementara dari pihak kepolisian, total korban tewas kini sebanyak 129 orang, bertambah dari sebelumnya 127 orang.

Di luar data resmi dari kepolisian, beredar pula informasi bahwa jumlah korban jiwa bertambah menjadi 153 orang. Namun, pihak kepolisian belum membenarkan ketika ditanya soal sebaran data tersebut.

Dengan banyaknya jumlah korban yang tewas, sepakbola Indonesia pun kembali menjadi sorotan dunia. Dan fakta yang paling menyedihkan adalah tragedi Arema merupakan pertandingan sepak bola paling mematikan kedua dalam sejarah.

Bencana Stadion Nasional Lima

Menurut laporan Priceonomics, pertandingan paling mematikan dalam sejarah sepak bola adalah di Stadion Nasional Lima, Peru. Momen mengerikan itu terjadi pada 24 Mei 1964 dan merenggut nyawa 354 orang.

Timnas Peru bersua Argentina di babak kualifikasi kedua untuk turnamen Olimpiade Tokyo. Pertandingan ini disaksikan 53.000 penonton atau 5% dari populasi ibu kota pada saat itu.

Pertandingan berlangsung sengit oleh kedua tim, dan dengan dua menit waktu normal tersisa, Argentina memimpin 1-0. Kemudian, secara ajaib, Peru mencetak gol penyama - tapi dianulir oleh wasit, ngel Eduardo Pazos (orang Uruguay yang dianggap condong ke arah kemenangan Argentina). Dalam rentang sepuluh detik, ribuan penggemar Peru berubah dari kegembiraan menjadi kemarahan.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Bencana dimulai ketika salah satu penonton — seorang penjaga bernama Bomba — berlari ke lapangan dan memukul wasit; ketika penggemar kedua bergabung, dia diserang secara brutal oleh polisi dengan tongkat dan anjing. Jose Salas, seorang penggemar yang hadir pada pertandingan tersebut, mengatakan kepada BBC bahwa ini adalah katalis bencana. “Polisi kami sendiri menendang dan memukulinya seolah-olah dia adalah musuh,” kenangnya. “Inilah yang menimbulkan kemarahan semua orang – termasuk saya.” Saat serangan terjadi dan frustrasi atas panggilan wasit meningkat, puluhan penggemar menyerbu lapangan, dan kerumunan mulai melemparkan benda ke polisi dan pejabat di bawah. Kerusuhan terjadi, dan polisi meluncurkan tabung gas air mata ke kerumunan, yang mendorong puluhan ribu penggemar untuk mencoba melarikan diri dari stadion melalui tangganya. Ketika penggemar mencapai bagian bawah lorong-lorong ini, mereka menemukan bahwa gerbang baja yang mengarah ke jalan keluar terkunci rapat; ketika mereka berusaha untuk lari kembali, polisi melemparkan lebih banyak gas air mata ke dalam terowongan, memicu histeria massal dan menyebabkan kehancuran besar. Sebagai akibatnya, 328 orang tewas karena sesak napas dan/atau pendarahan internal, meskipun kemungkinan jumlah korban tewas lebih tinggi.

Halaman
Show All
Muhammad Yanto, ThomasTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan