Kesalahan Ginola membuat marah para penonton. Mereka mengamuk di stadion dan jalanan. Kemarahan terhadap Ginola terus berlanjut. Ia dijuluki “Pembunuh Sepak Bola Prancis’ oleh publik. Kariernya baru seumur jagung di pentas internasional tamat secara perlahan.
Terakhir kali ia dipanggil adalah terjadi pada kualifikasi Euro 1996 versus Azerbaijan, 9 Juni 1995.
Pembunuh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3633780/original/035190700_1637030580-20211116-Swiss-Bulgaria-Piala-Dunia-7.jpg)
Satu hari setelah pertandingan, Houllier berbicara kepada media dan menuding Ginola sebagai biang kegagalan Les Bleus. Sosok yang sempat melatih Liverpool itu mengaku tidak mengerti apa yang ada di kepala Ginola.
“Ginola adalah pembunuh tim. Dia menghujamkan peluru tepat ke jantung sepak bola Prancis!” cetus Houllier.
Dalam kesempatan lain, Houllier menyerang Ginola dengan menyebutnya ”melakukan kejahatan terhadap semangat tim” karena menyebabkan kehilangan bola yang berujung gol Kostadinov.
”Tanpa dia (Ginola), kami sudah lolos,” tambahnya.
Kegeraman Houllier tak pernah padam terhadap Ginola. Dalam Secrets de Coachs atau ‘Rahasia Pelatih’ yang diluncurkan pada tahun 2011, Houllier kembali menyerang Ginola yang dijadikan kambing hitam atas kegagalan Perancis melaju ke putaran final Piala Dunia 1994.
Dalam buku itu, Houllier juga mengaku mendengar saran asisten pelatih Aime Jacquet yang memintanya tidak mencoret Ginola dari skuad. Jacquet lima tahun kemudian membawa Prancis meraih Piala Dunia 1998.
”Saya membuat kesalahan tidak mengeluarkan dia (Ginola). Aime mencegah saya melakukan itu,” tulis Houllier.
Menghantui
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1728374/original/029325000_1507083201-20171004AFP_Latihan_Prancis_02.jpg)
Ginola sendiri bukannya berdiam diri atas berbagai tuduhan dan kecaman akibat gagalnya Prancis ke Piala Dunia 1994 itu.
Di paruh 2000, Ginola melakukan pembelaan diri melalui autobiografinya. Tudingan Houllier yang telah menjadikan dirinya sebagai musuh utama masyarakat Prancis, mengganggu keluarganya dan kesehatan kakeknya.
”Houllier mengatakan hal-hal yang akan menghantuiku sepanjang hidup,” tulis Ginola seperti dilansir BBC Sport.
Tragedi melawan Bulgaria benar-benar membuat karier Ginola di timnas tamat. Meski sempat dipanggil Jacquet, dia tidak pernah lagi mendapatkan simpati suporter. Bahkan, ketika Ginola meninggalkan Prancis untuk bermain di Inggris, kompatriotnya tidak pernah memberi maaf.
"Kejadian memalukan tersebut benar-benar mengakhiri karier. Saya seperti orang lemah yang dihancurkan," ucap pemilik 17 caps dan 3 gol selama membela Les Bleus pada 1990-1995 itu.
Ginola sempat berpikir untuk gantung sepatu, meski ia lalu memutuskan mulai menata kembali hidup dan kariernya. Setelah terbuang dari Paris Saint-Germain, dia memulai semuanya lagi dari nol di Liga Inggris.
Dia bermain untuk Newcastle United pada 1995 dengan transfer 2,5 juta pounds. Pada era tersebut, Newcastle adalah klub penantang serius Manchester United dalam perebutan trofi. Ginola membantu The Magpies finish runner-up pada 1995/1996 dan 1996/1997.
Setelah Kevin Keegan meninggalkan Newcastle pada musim dingin 1997, Ginola pindah ke Tottenham Hotspur enam bulan kemudian. Di London Utara, dia melewati tiga musim yang indah. Ginola membatu Spurs menjuarai Piala Liga 1998/1999. Saat itu, dia bertandem dengan Les Ferdinand.
Setelahnya dia membela Aston Villa pada 2000-2002 dan membantu tim menjuarai Piala Intertoto 2001. Ia mengakhiri kariernya sebagai pemain Everton pada 2002.
"Saya bahagia saat memilih bermain di Inggris. Fans di sana menyambut saya dengan tangan terbuka. Itu membantu saya melupakan kejadian bersama Prancis," ucap Ginola.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4088727/original/011840700_1661420896-220713_BOLA__Mencari_Raja_Dunia_di_Timur_Tengah_S.jpg)
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8672103/original/092674300_1782711428-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-29T123620.816.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292785/original/068110200_1783657736-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-10T112807.834.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549356/original/044187700_1775616635-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-08T094635.806.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296369/original/030425400_1784012720-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T140419.763.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1238995/original/030374700_1463686304-David_Ginola.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776165/original/067157000_1782861161-mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4887490/original/081442300_1720552745-AP24191690613776.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776139/original/033566400_1782846347-000_B8UG2YZ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4824750/original/024298400_1715077989-Mu_vs_Crystal_Palace_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9238160/original/090232600_1783129383-mes4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296658/original/081223500_1784019662-000_B9YV49G.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9292116/original/017292800_1783585765-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294053/original/082906500_1783778628-Jayden_Adams.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296024/original/097611600_1784000800-000_B9FB274.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294052/original/078184700_1783778533-adams_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/701943/original/000_APP2001113026451.jpg)