Kilas Balik Piala Dunia 2006: Hujan Kartu di Nuremberg

Pertandingan 16 besar antara kesebelasan Portugal dan Belanda pada Piala Dunia 2006 di Jerman yang dikenal dengan julukan “Battle of Nuremberg” atau “Pertempuran Nuremberg” versi lapangan hijau merupakan contoh nyata sebuah laga yang menyisakan rasa kurang sedap di mulut pencinta sepak bola.

Diterbitkan 27 Juli 2022, 21:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Piala Dunia Qatar 2022 tidak terasa hanya tinggal beberapa bulan lagi. Turnamen akbar sepak bola empat tahunan itu untuk kali pertama akan berlangsung di negara Arab, tepatnya di Qatar pada bulan November mendatang. 

Berbeda dengan Piala Dunia biasanya. Kali ini, babak utama terpaksa digelar di akhir tahun demi menghindari cuaca panas ekstrem. 

Jutaan fans dari seluru dunia diperkirakan bakal tumpah ruah di Qatar saat Piala Dunia 2022 berlangsung. Selain itu, miliaran pasang mata di seluruh penjuru dunia juga ikut menyaksikan sengitnya pertarungan melalui layar kaca atau platform live streaming berbasih internet. 

Piala Dunia memang tak diragukan lagi menjadi turnamen yang paling dinanti banyak para pencinta sepak bola. Tidak heran, bila ke-32 negara yang ikut ambil bagian tidak sekadar berebut trofi. Gengsi dan harga diri bangsa juga dipertaruhkan pada kejuaraan ini.

Beragam drama tercipta di sepanjang Piala Dunia. Pertarungan-pertarungan sengit juga menyisakan segudang cerita. 

Tidak semuanya menyenangkan. Sebagian justru pahit untuk dikenang. Terkadang bahkan merusak rasa keadilan. 

Ada kalanya, sebuah permainan indah di lapangan hijau berubah menjadi mimpi buruk melalui sentuhan tangan yang menggagalkan sebuah gol atau sundulan liar yang berbuah kartu merah. Duel di lapangan hijau bahkan tidak jarang diibaratkan seperti peperangan, seperti pertemuan antara Timnas Portugal dan Belanda pada babak 16 besar Piala Dunia 2006 di Jerman.  

 

Battle of Nuremberg

Pertandingan ini dikenal dengan julukan “Battle of Nuremberg” atau “Pertempuran Nuremberg”. Nama ini mengacu pada pertempuran lima hari antara tentara Amerika Serikat dengan tentara Nazi Jerman dan Tentara Pembebasan Rusia di hari-hari terakhir Perang Dunia II. Pada tahun 1945, hujan peluru dan pertumpahan darah terjadi di medan perang Nuremberg.

61

tahun kemudian, tahun 2006, Nuremberg kembali menjadi medan perang tepatnya ketika Jerman menggelar putaran final Piala Dunia FIFA edisi ke-18. Kala itu, peperangan terjadi di lapangan hijau antara kesebelasan Portugal dan Belanda untuk memperebutkan satu tempat di perempat final. Layaknya pertandingan sepak bola pada umumnya, kedua tim pun diprediksi akan bertempur sengit bersenjatakan taktik permainan dan kelihaian pemain-pemain mereka dalam mengolah bola.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Layaknya perang, pertandingan yang terjadi di Frankenstadion Nuremberg tanggal 25 Juni 2006 itu berlangsung panas. Tidak ada permainan cantik dari kedua tim yang berlaga atau gol-gol indah yang tercipta dari kaki atau kepala para pemain. Sebaliknya, laga justru hujan kartu sepanjang pertandingan dan tercatat sebagai rekor kartu terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Lantas siapa yang bertanggung jawab di balik hujan kartu di Nuremberg? Dia adalah sang pemimpin pertandingan, wasit Valentin Ivanov yang mengeluarkan 16 kartu kuning dan empat kartu merah dalam laga yang berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Portugal lewat gol Maniche pada menit ke-23. Sebelum pertandingan, wasit asal Rusia itu memang dikenal memiliki reputasi keras dalam memimpin sebuah laga. Ia bahkan disebut-sebut tak segan untuk memperingatkan para pemain sebelum pertandingan dimulai.

Halaman
Show All
Dania Sakti, Marco TampubolonTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan