Kaleidoskop 2021: Sederet Kabar Duka di Dunia Olahraga, Mulai dari Atlet Berpulang hingga Sanksi WADA

Di balik euforia dunia olahraga yang tengah menggebu-gebu, terdapat kabar duka yang menyelimuti sepanjang tahun 2021.

Diperbarui 31 Desember 2021, 12:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Alhasil, dengan kebijakan yang dinilai setengah-setengah dan tidak matang ini, Tim Indonesia harus menelan pil pahit. Tim Indonesia akhirnya memutuskan kembali ke Tanah Air dengan segudang kekecewaan.

Berpulangnya Markis Kido

Usai insiden memalukan yang menimpa Tim Indonesia di ajang All England 2021, kabar duka menyelimuti dunia bulu tangkis Indonesia. Eks ganda putra terbaik Indonesia, Markis Kido, harus meninggalkan para penggemarnya untuk selama-lamanya.

Legenda bulu tangkis Indonesia ini menghembuskan nafas terakhir di atas lapangan yang mengharumkan namanya. Diketahui, Markis Kido terkena serangan jantung kala bermain bulu tangkis di GOR Petrolin, Senin (14/6/2021) lalu.

Berdasarkan penuturan Candra Wijaya, rekan sepermainan Markis Kido, atlet yang berpulang pada usia 36 tahun ini tiba-tiba terjatuh di lapangan dan tidak sadarkan diri. Meski telah mendapat pertolongan pertama serta langsunng dilarikan ke Rumah Sakit Omni, tetapi nyawa Markis Kido tidak tertolong.

Tentu, duka mendalam begitu besar dirasakan para pecinta bulu tangkis di Tanah Air. Terlebih, Markis Kido pernah mempersembahkan medali emas bagi Indonesia di ajang Olimpiade Beijing 2008 bersama Hendra Setiawan.

Kepergian Verawaty Fajrin

Masih di dunia bulu tangkis, pada penghujung tahun ini, Indonesia harus kehilangan kembali satu satu legenda hidupnya. Verawaty Fajrin, pebulu tangkis serba bisa, harus menghembuskan nafas terakhirnya.

Verawaty meninggal dunia pada usia 64 tahun di Rumah Sakit Dharmais pada November 2021 lalu. Eks pemain tunggal putri, ganda putri, dan ganda campuran ini tutup usia pasca berjuang melawan penyakit kanker paru-paru.

Sama halnya seperti Markis Kido, prestasi Verawaty tidak perlu diragukan lagi. Meski banyak penggemar yang tidak mengenal sosok Verawaty, tetapi prestasinya sebagai jawara All England 1979 bersama Imelda Wigoena, juara SEA Games 1989 bersama Eddy Hartono, serta jawara Kejuaraan Dunia 1980 di sektor tunggal putri akan selalu dikenang.

Prestasi Verawaty menjadi bukti nyata bahwa pebulu tangkis wanita asal Indonesia pernah berjaya di pelbagai ajang bergengsi. Hal ini sekaligus dapat menjadi penyulut semangat para generasi penerus Verawaty untuk membanggakan bulu tangkis Indonesia di masa depan.

Sanksi WADA

Usai dipermalukan di ajang All England pada awal tahun 2021. Indonesia harus menelan pil pahit lainnya dengan adanya pelarangan pengibaran Merah Putih di ajang olahraga resmi. Hal ini merupakan buntut yang diberikan Badan Antidoping Dunia (WADA) kepada Indonesia. WADA menjatuhkan sanksi per 7 Oktober 2021 yang mencakup pencabutan hak Indonesia sebagai tuan rumah untuk kejuaraan level regional, kontinental, dan dunia selama masa penangguhan.

WADA menilai Indonesia tidak patuh terhadap aturan yang berlaku. Sebab, WADA tidak menerima sampel Test Doping Plan (TDP) para atlet yang berada di Indonesia.

Lembaga Antidoping Indonesia (LADI) sebagai penanggung jawab utama mengaku, sanksi ini dijatuhkan akibat keterlambatan pengiriman surat. LADI berasalan, tengah terjadi penggantian kepengurusan saat WADA memberikan surat peringatan.

Alhasil, berkat keteloderan ini, Indonesia hanya diperbolehkan mengibarkan bendera Merah Putih di ajang Olimpiade. Pada ajang bergengsi seperti Piala AFF atau turnamen yang diselenggarakan BWF, para atlet dilarang keras mengibarkan bendera Indonesia.

Kehilangan Penjaga Gawang Masa Depan

Dunia sepak bola Tanah Air lagi-lagi kehilangan bibit emasnya. Taufik Ramsyah, kiper Tornado FC Pekanbaru harus menghembuskan nafas terakhir usai mengalami insiden di atas lapangan hijau.

Taufik mengalami cedera di bagian kepala usai mendapat benturan hebat di pertandingan Liga 3 2021 Zona Riau, Sabtu (18/12/2021). Insiden ini terjadi kala bagian atas tubuh Taufik bergesekan dengan kaki salah satu pemain Wahana FC.

Penangan medis yang diterima Taufik pun dinilai cukup lambat. Sehingga, memperparah kondisi Taufik yang sudah tidak sadarkan diri di atas lapangan.

Meski akhirnya dilarikan ke rumah sakit, namun Tuhan berkehendak lain. Taufik harus merenggang nyawa tiga hari kemudian dan menambah sederet luka di kompetisi sepak bola Indonesia.

Pasalnya, insiden berbahaya seperti ini acap kali terjadi dan pihak penyelenggara pertandingan kerap tidak sigap menangani keadaan kritis di atas lapangan. Padahal, tiga tahun lalu, tepatnya pada tahun 2017, Indonesia sudah kehilangan salah satu kiper terhebatnya, Choirul Huda.

Choirul Huda mengalami insiden layaknya Taufik. Huda merenggang nyawa usai mengalami benturan dengan rekan setimnya, Ramon Rodrigues. Semoga, kejadian memilukan seperti ini tidak terulang di masa yang akan datang.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Dzaky Nurcahyo, Harley IkhsanTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan