Sukses

Respons Liga Super Eropa, UEFA Umumkan Format Anyar Liga Champions

Liputan6.com, Nyon - UEFA merespon pemberontakan 12 klub kaya Eropa dengan mengumumkan format baru Liga Champions, Senin (19/4/2021). Organisasi pimpinan Aleksander Ceferin itu juga membeberkan transformasi di Liga Europa dan terbentuknya kompetisi baru bernama Liga Conference.

Reformasi ini terjadi setelah UEFA mendapat dukungan dari Asosiasi Klub Eropa (ECA) pada pertemuan Jumat (16/4/2021) lalu.

"Format baru ini mendukung status dan masa depan sepak bola domestik di seluruh penjuru Eropa," kata Ceferin, dilansir situs resmi UEFA.

Perubahan terbesar hadir di Liga Champions. Klub peserta bertambah dari sebelumnya menjadi 32 menjadi 36 tim.

Setiap peserta kemudian bermain minimal 10 laga menghadapi lawan berbeda di fase grup. Penghuni delapan posisi teratas kemudian melaju ke babak gugur. Sementara penghuni posisi 9-24 melakoni play-off memperebutkan tempat tersisa.

2 dari 5 halaman

2 Kompetisi Lain

Perubahan juga terjadi di Liga Europa. Peserta bakal melakoni delapan pertandingan di fase grup.

Sementara kompetisi baru Liga Conference menghadirkan enam partai di babak awal. "Menunggu diskusi lanjutan, kontestan dua ajang itu juga bisa meningkat menjadi 36 tim," tulis UEFA.

Sistem anyar ini berlaku mulai musim 2024/2025.

3 dari 5 halaman

Liga Super Eropa

Sebelumnya 12 klub kaya berencana membentuk kompetisi sendiri bernama European Super League atau Liga Super Eropa. Ajang inimenjadi tandingan dan mengancam keberadaan Liga Champions.

Tim yang berberpartisipasi adalah AC Milan, Arsenal, Atletico Madrid, Chelsea, Barcelona, Inter Milan, Juventus, Liverpool, Manchester City, Manchester United, Real Madrid, dan Tottenham Hotspur.

Liga Super Eropa nantinya diikuti 20 tim dan berlangsung di pertengahan pekan. Klub peserta berencana ikut bertanding di liga domestik setiap akhir pekan seperti yang terjadi selama ini.

4 dari 5 halaman

Rusak Sepak Bola

Namun, rencana Liga Super Eropa mendapat berbagai penolakan dari otoritas sepak bola, pemain, suporter, media, hingga pemerintah.

Oposisi menilai ke-12 klub tersebut serakah dan akan merusak sepak bola.

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Berikut Ini