4 Hal Aneh di Sepak Bola Indonesia: Dahsyatnya Tarkam hingga Pemain Ditangkap Polisi Saat Bertanding

Fenomena tarkam memang menjadi hal yang luar biasa di dalam sepak bola Indonesia. Tapi ada dua pemain ditangkap polisi saat bertanding? Adakah di luar negeri?

Diterbitkan 15 Juni 2020, 11:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta - Sepak bola Indonesia tak pernah kehabisan cerita unik dan menarik. Ada saja kisah-kisah menarik di lapangan, maupun dari sisi-siai lainnya.

Ada fenomena tarkam atau turnamen antarkampung. Hal-hal seperti itu kadangkala sulit ditemui di negara-negara lain, alias hanya ada di Indonesia. 

Dalam femomena tarkam, beberapa orang di Indonesia rela merogoh kocek dalam-dalam demi membawa timnya ikut turnamen tarkam dengan menggaet-menggaet pemain yang berstatus profesional, dan tentu saja berbanderol mahal. 

Manuver mereka mungkin terasa aneh bagi orang-orang awam. Alasannya, apa manfaatnya mengeluarkan uang sebanyak mungkin padahal hadiah turnamen sangat kecil? Bagi mereka, keuntungan bukan lah segalanya. Itulah sisi unik dari sebuah turnamen antarkampung.  

Berikut ini empat hal-hal unik yang kemungkinan hanya bisa ditemui di sepak bola Indonesia.

Keluarkan Ratusan Juta untuk Ikut Tarkam, Hadiah Hanya Rp25 Juta

Turnamen antarkampung selalu penuh cerita unik. Pria bernama Wahyu Widodo mendadak terkenal di Kabupaten Banjarnegara, Jateng, setelah klub tarkam yang ia bentuk menjuarai Piala Bupati Banjarnegara, 1 November 2015. Klub itu bernama Brahman Keong Racun yang sukses mengalahkan Persak Kebumen 2-0 pada partai final.

Wahyu adalah pedagang sapi di Pasar Induk Banjarnegara, yang sudah memulai bisnis sejak 2008. Sebagai pencinta sepak bola, Wahyu tak mau tinggal diam ketika Asosiasi PSSI Kabupaten Banjarnegara menggelar turnamen. Wahyu berpikir dengan membentuk klub dan ikut turnamen, ia bisa mempromosikan bisnis sapi.

Tak tanggung-tanggung, Wahyu membentuk klub dengan modal pemain lokal plus beberapa pemain ISL. Pada laga final, saat itu ada dua pemain Sriwijaya FC yang ia rekrut, yakni T.A. Musafri dan Fachrudin Wahyudi Aryanto. Dua pemain asing berhasil ia datangkan, yakni Herman Dzumafo dan Onambele Basile.

Selain itu, Brahman Keong Racun juga diperkuat gelandang Persib Bandung saat itu, Hariono dan mantan bek timnas, Nova Arianto. Ditambah lagi, ada eks striker Persikabo Bogor, Mustopa Aji dan penyerang lincah Persiba Bantul, Ugik Sugiyanto.

Pemain yang kenyang pengalaman di Indonesia Super League dan Divisi Utama itu tampil di partai final. Hasilnya, Musafri dan Mustopa Aji mencetak dua gol kemenangan Brahman Keong Racun.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Sebelumnya, Brahman Keong Racun juga diperkuat mantan gelandang timnas U-19, Muhammad Hargianto dan dua pemain Surabaya United, Slamet Nurcahyo dan Rudi Widodo. Total, selama gelaran Piala Bupati Banjarnegara, Wahyu sukses mendatangkan 11 pemain berlabel ISL (kompetisi kasta tertinggi saat itu). Enam di antaranya gabung klub ISL hingga saat ini, yakni Hariono, T.A. Musafri, Fachrudin, Hargianto, Slamet Nurcahyo, dan Rudi Widodo. Sementara, Nova Arianto, Herman Dzumafo, Onambele Basile, Erik Setiawan, dan Munadi berstatus eks pemain ISL karena saat ini tidak aktif di klub ISL. Wahyu membeberkan, ia membayar pemain mulai 2 hingga 5 juta rupiah untuk sekali tanding. Bila ditotal, uang yang ia keluarkan mencapai seratus juta lebih. Padahal, hadiah juara turnamen hanya 25 juta.

Halaman
Show All
Yus Mei Sawitri, Benediktus Gerendo Pradigdo, Jonathan Pandapotan PurbaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan