3 Noda Persija Jakarta di Liga Indonesia, Tidak Melulu Favorit Juara

Persija Jakarta kerap terpuruk, meski dalam juga mampu merebut dua gelar, sejak Perserikatan melebur dengan Galatama pada 1994.

Diperbarui 12 Mei 2020, 01:32 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

PSSI ketika itu mengakui Persija yang dikelola oleh Hadi Basalamah dibanding Ferry Paulus. Jadilah Macan Kemayoran terpecah belah. Ada yang bermain di IPL dan ISL.

Sengketa tersebut berujung ke pengadilan. Setelah melalui proses yang panjang, hakim memenangkan Persija ISL dengan melarang Persija IPL memakai identitas Persija. Usut punya usut, Persija IPL adalah perubahan wujud dari Jakarta FC, klub yang berkompetisi di Liga Primer Indonesia 2011, sebuah kejuaraan yang bersifat independen dan hanya berlangsung setengah musim.

Karut-marut dualisme dan federasi yang berlangsung pada 2012 masih berimbas bagi Persija. Kondisi finansial Macan Kemayoran sekarat untuk mengarungi ISL 2013. Hasilnya, sejumlah pemain pilar memilih hengkang.

Ramdani Lestaluhu pindah ke Sriwijaya FC. Andritany Ardhiyasa tidak bermain selama setengah musim. Bambang Pamungkas absen setahun penuh. Leo Saputra dipecat di pertengahan kompetisi. Itulah sejumlah kejadian mewarnai perjalanan Persija pada ISL 2013,

Para pemain yang masih bertahan sempat memutuskan mogok berlatih. Setelah mendapatkan janji manis dari Ketua Persija, Ferry Paulus, Ismed Sofyan cs mulai mau bermain di kompetisi.

"Kami akui saat ini belum bisa membayar tunggakan gaji pemain. Akan tetapi, kami berusaha untuk mencarikan. Itulah kondisinya. Dari tiket kami hanya dapat Rp4,2 juta, tetapi kebutuhan mencapai Rp8 miliar," kata Ferry Paulus medio Januari 2013.

Di ISL 2013, Persija bahkan sempat menempati posisi buncit sebelum Benny Dollo ditunjuk sebagai pengganti Iwan Setiawan yang dipecat dari jabatannya sebagai pelatih. Memasuki putaran kedua, Macan Kemayoran mulai membangun fondasi tim. Dua pemain asing, Emmanuel Kenmogne dan Rohit Chand, didatangkan.

Terbukti, kedatangan kedua pemain itu begitu berpengaruh bagi Persija. Kenmogne berhasil mengemas 14 gol dalam setengah musim. Peringkat Macan Kemayoran naik pesat. Tim ibu kota mampu mengakhiri kompetisi di ranking ke-11.

Musim 2019

Persija hampir mengalami musim yang mirip dengan 2013 ketika mengakhiri kompetisi 2019, namun dengan penyebab yang berbeda.

Persija mengakhiri Liga 1 2019 di peringkat ke-10 setelah melalui empat kali pergantian posisi pelatih. Dimulai ketika Ivan Kolev ditetapkan sebagai pengganti Stefano Cugurra Teco yang hijrah ke Bali United.

Musim baru berjalan beberapa laga, Kolev telah dilengserkan dari jabatannya. Posisinya diambil alih oleh mantan pelatih kiper Timnas Indonesia asal Spanyol, Julio Banuelos.

Di luar dugaan, Banuelos juga tidak dapat mengangkat performa Persija. Membuka putaran kedua, dia dipecat dan digantikan oleh Sudirman yang berstatus caretaker.

Sudirman tidak lama menjadi pelatih kepala. Manajemen bergerak cepat menunjuk Edson Tavares sebagai pengganti. Penampilan Persija perlahan mulai membaik di tangan racikan juru taktik asal Brasil tersebut.

Penampilan bobrok Persija pada musim itu mengundang keanehan karena Macan Kemayoran berstatus juara Liga 1. Komposisi pemain juga tidak banyak berubah.

Disinyalir, motivasi para pemain Persija telah hilang karena telah merasakan trofi juara pada musim sebelumnya.

"Saya pikir klub ini melakukan banyak kesalahan musim ini. Sebagai juara, mereka berganti pelatih, lalu musim ini Persija banyak melakukan pergantian pemain, asing, hampir lima, juga pemain lokal," ujar Tavares.

"Semua ini adalah harga yang harus dibayar dari awal musim ini. Terima kasih, alhamdulillah dengan pengalaman saya di Asia, saya bisa pelan-pelan membenahi Persija," terangnya.

 

Disadur dari: Bola.com (Penulis: Muhammad Adiyaksa/Editor: Yus Mei Sawitri, published 8/4/2020)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Muhammad Adi Yaksa, Harley Ikhsan, Yus Mei SawitriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan