Piala Presiden, Turnamen Pramusim yang Kini Tak Jelas Kapan Digelar Lagi

Piala Presiden seperti mati suri setelah menggelar empat edisi, padahal ini menjadi ajang untuk memanaskan kondisi skuat jelang musim bergulir.

Diterbitkan 20 April 2020, 18:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta Piala Presiden tak dipungkiri menjadi salah satu tontonan menarik pada pramusim sebelum kompetisi Liga 1 bergulir. Sudah digelar empat kali, tapi turnamen ini kini tak jelas lagi juntrungannya.

Piala Presiden pertama kali digelar pada 2015. Ketika itu, ide membentuk turnamen Piala Presiden hadir untuk mengisi kekosongan kompetisi.

Maklum, saat itu FIFA sedang membekukan sepak bola Indonesia akibat intervensi pemerintah. Piala Presiden menjadi obat pelipur lara akan kerinduan sepak bola nasional.

Sesuai namanya, Piala Presiden awalnya dibuka oleh petinggi negara di Indonesia. Pada 2015, Presiden Joko Widodo secara simbolik membuka turnamen tersebut dengan melakukan tendangan bola pertama di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar.

"Saya senang sekali pertandingan bola akhirnya bisa bergulir lagi. Sekali lagi saya tegaskan, kebangkitan sepak bola Indonesia dan perbaikan total adalah pilihan yang kita ambil demi memperbaiki sepak bola ke depannya," kata Jokowi dalam sambutannya di hadapan sekitar 40 ribu penonton.

Presiden Joko Widodo bersiap melakukan tendangan pembuka turnamen Piala Presiden 2015 di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Minggu (30/8/2015). 16 tim ambil bagian di turnamen yang digelar di empat kota. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Namun, baru satu kali digelar, pada 2016 Piala Presiden ditiadakan. Sempat diwacanakan hadir pada pertengahan 2016, namun Piala Presiden akhirnya batal digelar dan digantikan turnamen Indonesia Soccer Championship.

Setelah Indonesia terbebas dari sanksi FIFA pada 2017, PSSI ketika itu tetap menggagendakan Piala Presiden sebagai turnamen sepak bola Indonesia. Namun, penyelenggaraannya diubah menjadi turnamen pramusim.

Mulai dari 2017 hingga 2019, Piala Presiden rutin sebagai turnamen pramusim bergengsi yang melibatkan klub-klub kasta tertinggi sepak bola Indonesia plus beberapa undangan dari kompetisi kasta kedua.

Namun, turnamen tahunan tersebut akhirnya ditiadakan pada 2020. Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, memilih tak menggelar Piala Presiden karena kesibukan dan fokus PSSI untuk menggelar Piala Dunia U-20 2021.

"Kami fokus ke Piala Dunia. Waktu tersita ke sana. Exco dan PSSI sibuk. Piala Dunia nggak terasa loh. Belum Inpres. Jadi kami harus mengesampingkan Piala Presiden demi yang lebih besar," kata Mochamad Iriawan.

Adu Gengsi

Meskipun hanya sebatas turnamen pramusim, namun Piala Presiden tetap menjadi pertaruhan bergengsi. Klub-klub menjadikan turnamen ini sebagai tolok ukur kesiapan tim untuk menghadapi kompetisi sesungguhnya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Hal inilah yang tak jarang membuat pelatih kerap kehilangan jabatannya di Piala Presiden. Hal itu seakan menjadi momok menakutkan buat pelatih yang gagal memberikan prestasi buat timnya. Data yang dihimpun Bola.com mencatat, sejak 2015 ada lima pelatih yang kehilangan pekerjaannya usai gelaran Piala Presiden. Mayoritas pemecatan terjadi karena manajemen klub tak puas dengan penampilan di turnamen pramusim tersebut. Contohnya adalah Rahmad Darmawan yang diberhentikan Persija setelah bertugas 3 bulan pada 2015. Ketika itu, Persija asuhan Rahmad Darmawan menghuni dasar klasemen di Piala Presiden. Pada 2017, Widodo Cahyono Putro yang dipecat Sriwijaya FC usai Piala Presiden. Ketika itu, klub berjulukan Laskar Wong Kito terhempas di babak perempat final karena kalah 0-1 dari Arema. Sementara itu, pada Piala Presiden 2018 giliran Gomes de Oliveira yang menjadi korban. Pelatih asal Brasil itu dipecat Madura United karena hanya mampu mengantarkan sampai babak 8 besar Piala Presiden. Nasib serupa juga dialami Subangkit yang dipecat PSIS Semarang usai Piala Presiden. Padahal, ketika itu Subangkit berperan penting membantu PSIS promosi ke Liga 1 2018. Namun, performa buruk PSIS di Piala Presiden menjadi alasan pemecatan pelatih berusia 60 tahun itu. ''Manajemen melakukan regenerasi untuk tim pelatih PSIS Semarang. Jadi tim pelatih yang dikepalai Pak Subangkit dan seluruh asisten ini dalam waktu dekat akan reposisi. Kami mengucapkan terima kasih untuk semua pelatih atas jasanya mengantarkan PSIS ke Liga 1. Kami hormati itu dan mengapresiasi,'' kata CEO PSIS, Yoyok Sukawi ketika itu.

Halaman
Show All
Zulfirdaus Harahap, Defri Saefullah, Benediktus Gerendo PradigdoTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan