Sukses

Pesepak Bola Italia Ceritakan Pengalamannya Terjangkit Virus Corona Covid-19

Liputan6.com, Jakarta - Saat virus Corona baru penyebab Covid-19 mulai merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok, akhir tahun lalu, di Italia Alessandro Favalli, tengah mengemasi barang-barangnya. Pemain berusia 27 tahun itu ingin bergeser ke utara, mendekat ke kampung halaman agar lebih mudah berkumpul dengan keluarganya.

Sebelumnya dia terpisah jarak dengan mereka karena harus memperkuat Catanzaro. Tim ini berada di region Calabria yang berada di selatan Negeri Pizza. Dari lombardia jaraknya 1.171 km. 

Pada 10 Januari 2020 resmi bergabung dengan Reggio Audace yang bermarkas di Emilia-Romagna. Tim ini tampil di Serie C, kasta ketiga dalam hirarki persepakbolaan Italia. Klub barunya tersebut hanya 40 menit berkendara dari tempat tinggalnya di Solarolo Rainerio, provinsi Cremona, di region Lombardia. 

Saat itu, di Wuhan, korban virus Corona baru terus berjatuhan. Wuhan menjadi zona merah penyebaran virus yang diduga berasal dari kelelawar tersebut. Pemerintah mengisolasi kota. Warga dilarang keluar rumah. Pasar-pasar yang menjual hewan liar ditutup sebagai upaya pencegahan.

Berita segera menyebar ke seluruh dunia, Wuhan tengah dilanda wabah virus Corona  baru! Video-video yang memperlihatkan warga berjatuhan menambah suram wajah Negeri Tirai Bambu. 

Favalli juga mendengar kabar itu, lewat media. Namun seperti warga Italia lainnya, Favalli tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan. Kehidupan mereka masih berjalan normal seperti biasa. Di bulan Januari, Favalli juga sempat flu tapi tidak membuat mantan pemain Catanzaro itu terancam sama sekali.

Pada 2 Maret 2020, Favalli kembali merasa tidak enak badan. Namun kali ini, sikapnya berubah 180 derajat. Dia sadar yang menimpanya bukan flu biasa. "Saya merasa tidak sehat saat bangun Senin pagi, 2 Maret 2020," kata Favalli dari rumahnya dalam perbincangan lewat telepon dengan BBC belum lama ini.

"Saya demam dan mataku seperti terbakar. Gejalanya mulai terasa pada malam hari saat saya menggigil kedinginan," ujar pemain kelahiran 15 November 1992 tersebut. 

Saat itu Favalli langsung curiga dia terinfeksi Covid-19. Sebab virus itu sudah menyebar hingga ke Eropa. Favalli mengetahuinya dari media, kalau di Italia, sejumlah orang juga sudah dinyatakan terinfeksi. 

"Saya langsung mengontak keluargaku. Mereka juga mengalami gejala yang sama. Beberapa hari sebelumnya, kami makan bersama. Sejak virus Corona menjadi berita besar di media dan orang-orang di daerah saya mulai terinfeksi, saya langsung tahu apa yang tengah kami alami," bebernya. 

Menurut data worldometers.info, kasus virus Corona Covid-19 pertama kali ditemukan di Italia, 15 Februari 2020. Sejak saat itu, angkanya terus meningkat drastis dan pada 2 Maret sudah mencapai 2.036 kasus. Pemerintah Italia segera menutup beberapa kawasan di bagian Utara seperti Lombardia, Veneto, hingga Emilia-Romagna, yang dianggap sebagai zona merah penyebaran virus Covid-19. 

Sejumlah pertandingan, termasuk Serie A di daerah-daerah tersebut juga dibatalkan. Namun upaya ini tidak banyak membantu. Pemeritah kemudian menerapkan kebijakan lockdown untuk seluruh Italia sejak 9 Maret. Namun korban terus bertambah dan kini mencapai 41.035 kasus, tertinggi kedua setelah Tiongkok.

Bahkan Italia sudah menjadi negara dengan jumlah pasien tewas terbanyak, yakni 3.405 jiwa.  

2 dari 4 halaman

Perjuangan Menjalani Masa Isolasi

Favalli mengaku hanya merasakan gejala ringan. Demamnya tidak pernah melebihi 37,8 derajat Celcius. Bahkan ketika menjalani tes swab di hari Jumat, Fivalli sudah merasa kondisinya jauh lebih baik. 

"Saya demam selama tiga hari," katanya. 

"Saya merasa sakit kepala tapi tidak lama juga. Saya sama sekali tidak pernah merasa takut, saya tidak pernah merasa seburuk itu. Saya justru lebih khawatir terhadap sejumlah kerabat saya yang kondisinya lebih buruk dari saya, mungkin karena perbedaan usia dan tingkat kebugaran," katanya. 

Pada 6 Maret 2020, Favalli akhirnya dinyatakan positif terinfeksi virus Corona baru. Dia menjadi pesepak bola kedua di Italia yang menderita Covid-19 setelah King Udoh yang bermain untuk Pianese. 

Sejak saat itu, kehidupan Favalli berubah. Dia diminta untuk menjalani karantina mandiri di rumahnya. Keseharian yang benar-benar baru dan sama sekali belum pernah dijalani selama ini.

Favalli tinggal bersama istrinya, Miriam. Meski demikian, Miriam tidak menunjukkan gejala apapun. Khawatir ikut tertular, Favalli memilih mengunci diri di dalam kamarnya. Saat waktunya makan, Miriam akan mengantar makanan ke depan pintu kamar. "Saya tidak ingin menyakitinya," kata Favalli.

"Saya akan menjalani dua hari tes swab, dua pekan setelah dites positif. Jika saya negatif, makan saya harus mengulanginya lagi dalam beberapa hari lagi dan hasilnya akan diumumkan," kata Favalli. 

Mengisolasi diri menjadi tantangan terberat Favalli setelah dinyatakan positif Covid-19. Sebab sehari-hari dia merupakan sosok yang aktif dan suka bersosialisasi. Biasanya, setelah bangun pagi dia akan berkendara dari kediamannya di Solarolo Rainerio menuju Reggio Emilia untuk latihan. Setelah itu, dia akan meluangkan waktu bertemu dengan teman-temannya dan menghadiri acara-acara keluarga. 

"Secara mental, isolasi memang sangat sulit. Saya sudah terbiasa hidup bersosialisasi. Saya tinggal bersama istri, punya keluarga dan teman di area sini. Setiap hari saya latihan bersama teman-teman saya," kata pria yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi bidang kesehatan dan olahraga itu. 

"Yang utama adalah ketika semua orang harus menyelesaikan ini semua, sisanya tidak lagi penting."

 

 

3 dari 4 halaman

Petik Pelajaran Berharga

Organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menetapkan virus corona Covid-19 sebagai pandemi global. Lebih dari 150 negara di dunia sudah terpapar. Saat Tiongkok mulai bisa mengendalikan penyebaran virus tersebut, Eropa kini menjadi zona merah baru dengan Italia berada urutan teratas jumlah kasus. 

Dalam pergulatan melawan virus Covid-19 yang menjalar di tubuhnya, Favalli pun sadar betapa berharganya orang-orang yang ada di sekitarnya. Rasa kebersamaan dan patriotisme yang diserukan lewat nyanyian dari balkon-balkon rumah warga juga secara tidak langsung ikut menguatkan mentalnya. 

"Selama pekan lalu, saya merasakan banyak kasih sayang dari teman-temanku, rekan setim, manajer, dan fans. Orang-orang memanggilku setiap hari, saya menerima ribuan pesan," kata Favalli.

"Semua orang mengkhawatirkanku dan keluargaku: senang sekali melihat banyak yang menjaga mereka. Jika ingin melihat hal positif dari virus ini, itu adalah pelajaran betapa pentingnya orang-orang di sekelilingmu."  

 

 

4 dari 4 halaman

Saksikan juga video menarik di bawah ini: