25 Hal Unik yang Cuma Ada di Sepak Bola Indonesia: Timnas Ada 2 (Bagian 3)

Banyak hal-hak unik yang cuma ada di sepak bola Indonesia. Berikut 25 hal unik tersebut.

Diterbitkan 06 November 2019, 21:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Jakarta Bicara hal-hal unik dan lucu di sepak bola Indonesia seolah tidak ada habisnya. Ada saja momen atau peristiwa yang membuat pecinta bola geleng-geleng kepala. 

Insiden yang sangat sulit dihapus dari kenangan tentu saja dualisme kompetisi, timnas, hingga klub, pada musim 2011-2012. Kasus seperti itu tampaknya tak ada di belahan dunia lainnya. Bagaimana mungkin sebuah negara memiliki dua tim nasional yang berbeda?  

Situasi dualisme tersebut dipicu kisruh di PSSI yang akhirnya merembet ke mana-mana. Suporter dan pemain juga yang akhirnya menjadi korban. 

Pemain dan suporter jadi korban permainan politis di level tinggi. Ujungnya, prestasi sepak bola Indonesia yang jadi taruhannya. 

Selain kasus dualisme, masih ada beberapa keunikan lain yang mungkin hanya ada di sepak bola Indonesia. Berikut ini ini tujuh fakta terakhir dari keunikan sepak bola Indonesia. 

19. Dualisme Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2012

Sebuah negara memiliki dua tim nasional? Mungkin hanya terjadi di Indonesia. Fenomena aneh tersebut terjadi menjelang Piala AFF 2012.

Dualisme kepengurusan PSSI berimbas besar kepada Tim Garuda, yang sempat mengalami perpecahan. Hasilnya cukup buruk, Tim Merah-Putih yang tidak dibentuk dari pemain-pemain terbaik hanya berkiprah di babak penyisihan grup di Malaysia.

Tim Garuda yang berangkat ke Malaysia dipimpin oleh pelatih Nilmaizar, diisi oleh mayoritas dari klub-klub Indonesia Premier League (IPL).

Pemain-pemain asal klub Indonesia Super League (ISL) melakukan aksi boikot karena diancam diputus kontrak oleh klubnya. Hanya Bambang Pamungkas (Persija Jakarta) dan Oktovianus Maniani (Persiram Raja Ampat) yang datang memenuhi panggilan membela negara.

Saat itu klub-klub ISL tengah melakukan pemberontakan ke PSSI, yang mengubah sistem kompetisi profesional dengan mengabaikan statuta. Disokong sejumlah anggota Komite Eksekutif PSSI, mereka kemudian membuat organisasi tandingan, Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI).

Jelang Piala AFF 2012, KPSI sempat membentuk timnas sendiri dengan asuhan Alfred Riedl, yang belakangan eksistensinya tidak diakui AFF.

Alhasil Nil Maizar hanya memberdayakan pemain alakadarnya. Ia bahkan sampai harus memasukkan nama Elie Aiboy, pemain gaek yang sejatinya tidak lagi cukup pantas membela Tim Merah-Putih.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Untuk menambal skuat Timnas Indonesia, PSSI mendatangkan pemain naturalisasi, Raphael Maitimo, Tonnie Cussel, dan Jhon van Beukering, yang sayangnya performanya ternyata di bawah ekspetasi. Dampaknya compang-campingnya skuat Timnas Indonesia berimbas ke lapangan. Tim Garuda hanya mampu bermain 2-2 saat berhadapan dengan Laos. Pada laga kedua Indonesia menghadapi Singapura, tim yang sudah dua kali menjadi juara Piala AFF, yaitu pada 2004 dan 2007. Namun, di pertandingan inilah Timnas Indonesia mampu memperlihatkan sebuah titik balik yang bagus walau hanya menang tipis 1-0. Pada pertandingan terakhir, Indonesia takluk dari Malaysia. Irfan Bachdim dkk. pun tersingkir. Perjalanan Timnas Indonesia di Piala AFF 2012 menjadi cermin dari permasalahan dualisme PSSI yang berimbas kepada dualisme liga, dan akhirnya menjadi dualisme Timnas Indonesia, sehingga tim yang beraksi di level internasional pun harus diakui bukan yang terbaik.

Halaman
Show All
Yus Mei SawitriTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan