One Championship: Eko Roni Saputra Berbagi Pengalaman Pahit di Masa Lalu

Sampai ada suatu masa Eko Roni Saputra hanya bisa makan nasi berlauk garam.

OlehThomas
Diterbitkan 13 September 2019, 19:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Mantan atlet tinju ini sebelumnya harus berjalan kaki sejauh 7 kilometer ketika hendak pergi dan pulang berlatih bela diri di kota asalnya karena ketiadaan kendaraan serta ongkos dari orang tua untuk membiayai perjalanannya.

"Kecenderungan pada kekerasan merupakan salah satu hal yang rentan terjadi pada saat muda, tawuran misalnya. Tapi ini terjadi karena masa muda merupakan masa dimana banyak perubahan sedang terjadi," ujar Eko Roni.

"Oleh karena itu, penting sekali untuk mempunyai mimpi dan target untuk dicapai. Sangat penting untuk mengetahui, apa yang ingin dilakukan, ingin menjadi apa, sehingga semua tenaga, usaha, waktu, bisa difokuskan pada mimpi tersebut, dan hal-hal yang memungkinkan itu terjadi."

Mimpi

Bagi Eko Roni, mimpi adalah hal yang menguatkan dirinya. Tanpa mimpi, mungkin tak akan ada perubahan dalam hidupnya. 

Eko menjadi saksi bagaimana keluarganya berjuang keluar dari jerat kemiskinan. Di sebuah tempat yang ia panggil rumah, Eko Roni belajar tentang banyak hal ditengah berbagai keterbatasan, dimana akses terhadap air bersih maupun listrik pada saat itu sangatlah terbatas. 

"Saya percaya bahwa bagaimanapun kondisinya, apapun alasannya, atau bahkan bila seluruh dunia menghadang; kita harus mempertahankan apa ang kita percaya."

"Saya merasa bahwa kita tidak bisa puas dengan hanya menjadi biasa, harus jadi lebih hebat. Karena itu tidak akan cukup dan menjadi hebat itu bukan tidak mungkin," tutup Eko Roni.  

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Thomas, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan