Impor Potongan Tubuh Manusia, Aspetar Langganan Atlet Cedera

Dari pemain PSG, Angel Di Maria hingga eks Manchester City, Yaya Toure pernah berobat di rumah sakit olahraga ini.

Diterbitkan 01 Agustus 2019, 19:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Selama 12 tahun, Aspetar menjadi pemimpin di bidangnya. Dan mencapai untuk itu, Aspetar melakukan sejumlah terobosan lewat pemikiran terdepan mengenai mengenai sport science.

Peralatan juga super canggih. Aspetar punya peralatan lari statis anti gravitasi yang pertama kali dikembangkan oleh Nasa pada tahun 1990. Alat ini mampu menopang 90 persen berat tubuh atlet yang mengalami cedera engkel atau lutut saat berlari menjaga kebugarannya.

Di dalam Aspetar juga terdapat studio CGI yang mampu merekam secara 3D (Tiga Dimensi) gerakan pasien. Alat canggih ini tidak hanya penting untuk membaca potensi cedera bagi para atlet, tetapi juga sebagai data cadangan untuk perawatan pada masa mendatang.

Sebanyak 25 kamar di Aspetar memiliki saklar ketinggian yang mampu mensimulasi posisi antara 500 m hingga 4500 m di atas permukaan laut. Sistem ini dipakai untuk mengurangi konsentrasi Oksigen di udara. Biasanya baik dalam meningkatkan VO2 Max para attlet.

"Sebelum datang ke Aspetar, saya belum pernah berada di ruang di mana Anda mampu mengubah ketinggiannya," kata Di Maria menceritakan kecanggihan faslitas Aspetar.

Kulkas Penuh Potongan Tubuh

Tidak hanya ditunjang oleh alat serba canggih, Aspetar juga ditopang berbagai pemikiran terdepan mengenai sport science. Mereka bahkan merancang sendiri sejumlah peralatan sesuai kebutuhan. Salah satunya adalah meja operasi yang kemudian diberi merek Aspetar. 

Yang tidak kalah penting tentu saja dukungan kemampuan staf dan tenaga ahli di Aspetar. Dokter-dokter spesialis di rumah sakit ini berasal dari berbagai penjuru dunia.

Ahli-ahli bedahnya terampil dan selalu berlatih menyempurnakan sayatannya. Bahkan pada tahun 2016, Aspetar membuka Pusat Pelatihan Bedah Olahraga pertama di dunia. 

Namun untuk mencapai standar ini, ahli-ahli bedah di Aspetar tidak lagi menggunakan spesimen replika. Mereka justru berlatih pada potongan tubuh manusia yang asli. 

Itu sebabnya, tidak heran bila menemukan kulkas yang penuh dengan potongan tubuh manusia di Aspetar. Lewat kerjasama dengan enam kementerian, bagian tubuh yang terdiri dari bahu, lutut, pergelangan kaki, dan torso ini sengaja diimpor untuk kebutuhan medis. 

Sumbernya dari berbagai negara, tapi sebagian besar berasal dari Amerika Serikat.  

"Bahkan di Eropa, mereka tidak punya seperti ini. Semua yang dibutuhkan oleh atlet kelas atas ada di sini," kata Toure yang juga pernah menjadi pasien Rumah Sakit Aspetar. 

Saksikan juga video menarik di bawah ini:

 

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Marco Tampubolon, Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan