HEADLINE: Juara Piala Asia 2019, Modal Qatar Jelang Piala Dunia 2022

Qatar jadi juara Piala Asia 2019 usai di final mengalahkan Jepang 3-1.

Diterbitkan 02 Februari 2019, 03:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Puluhan ribu rakyat Qatar turun ke jalan, spontan merayakan kejayaan tim nasional mereka. Di Aspire Park Doha, pesta itu digelar. Mereka menyanyi, menari, menabuh genderang tanda kemenangan.

"Selamat untuk semua pemain dan seluruh rakyat Qatar," ujar Felix Sanchez, sang arsitek sukses Qatar, usai laga final. "Hari ini, kita membuat sejarah, sejarah untuk negara kalian. Kita pantas berbangga."

Ini kedua kalinya dalam sepekan, mereka rakyat Qatar menggelar pesta, bergembira atas sukses Almoez Ali dan kawan-kawan di UEA. Tiga hari sebelumnya, mereka juga melakukan hal yang sama usai Qatar memastikan langkah ke final, mengalahkan tuan rumah.

 

Juara Sebelum Final

Ya, bagi rakyat Qatar, Felix Sanchez dan pasukannya memang sudah menjadi juara sebelum laga final lawan Jepang dimulai. Bagi mereka, bisa menebus partai puncak saja sudah merupakan sebuah kebanggaan luar biasa.

Lebih penting lagi, sebelum melangkah ke final, mereka sukses mengalahkan Arab Saudi dan UEA, dua musuh Qatar secara politis. Hubungan diplomatis, politik dan ekonomi Qatar dengan kedua negara tersebut, plus Bahrain dan Mesir memang sedang dalam titik didih.

Sejak Juni 2017, mereka telah mengisolasi Qatar. Mereka menerapkan blokade semua jalur dari Qatar, darat, air, dan udara.

Kondisi ini pula yang membuat para pemain Qatar harus berjuang keras untuk bisa tampil di UEA di Piala Asia 2019. Untuk sampai ke UEA, mereka harus terlebih dahulu memutar lewat Kuwait yang memakan waktu lebih dari lima jam. Padahal, waktu tempuh penerbangan langsung dari Qatar ke UEA sebenarnya hanya kurang dari satu jam.

Berkat Kerja Keras

Namun, sebenarnya butuh kerja amat keras bagi Qatar untuk bisa jadi kampiun Asia. Pasalnya, mereka datang ke UEA dengan rekor selalu kalah di Piala Asia 2015. Namun, mereka terus berbenah, tentu juga sebagai bagian dari persiapan mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Sejak 2015, mereka secara khusus menempa para pemain muda mereka di Doha’s Aspire Academy. Tidak hanya sepak bola, banyak atlet olahraga lain juga ditempa di sini, salah satunya juara dunia lompat tinggi, Mutaz Essa Barshim.

Namun, memang, Doha’s Aspire Academy, lebih diprioritaskan untuk atlet-atlet sepak bola, demi persiapan Piala Dunia 2022.

Maka itu, fasilitas yang disediakan pun benar-benar berkualitas, mirip dengan akademi-akademi sepak bola klub-klub elite Eropa, seperti Manchester United ataupun Bayern Munchen.

Mereka juga membangun link ke klub-klub elite Eropa tersebut. Termasuk mencari pelatih yang bener-benar berkualitas, seperti Felix Sanchez, yang juga pernah menangani akademi sepak bola Barcelona.

Sanchez awalnya ditugaskan menangani Qatar U-19 pada tahun 2014. Dan, benar saja, ketika itu, Qatar langsung berjaya menjadi juara Piala Asia U-19 yang digelar di Myanmar, yang juga diikuti Indonesia di bawah asuhan Indra Sjafri.

Nah, pemain-pemain yang ikut membawa Qatar juara Piala Asia U-19 2014 itulah yang kini banyak menghiasi skuat Sanchez di UEA, termasuk Ali, sang mesin gol.

"Kami bekerja sangat, sangat keras setiap waktu. Di setiap sesi latihan, kami berlatih bersama, bekerja bersama, seperti keluarga," ujar Pedro Correia, gelandang Qatar kelahiran Portugal. "Ya, setiap waktu kami merasa seperti keluarga, kami berjuang sebagai keluarga."

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu Krisnadefa, Irna GustiawatiTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan