Zulkarnain Lubis, Maradona dari Asia Tutup Usia

Legenda sepak Bola Indonesia, Zulkarnain Lubis, tutup usia pada Jumat (11/9/2018).

Diterbitkan 11 Mei 2018, 15:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Saat memasuki fase perempat final Timnas Indonesia menjalani duel sulit melawan Uni Emirat Arab. Di waktu normal kedua tim berbagi skor 2-2. Akhirnya, Zulkarnain Lubis cs. menang adu penalti 3-2.

Timnas kemudian bersua Korea Selatan di semifinal. Tanpa ampun Timnas Indonesia tumbang 0-4. Saat perebutan tempat ketiga, Tim Merah-Putih gagal meraih medali perunggu setelah digebuk Kuwait 0-5.

"Kegagalan yang menyakitkan, karena saat itu Timnas Indonesia benar-benar on fire. Om Bertje sukses mengkombinasikan pemain-pemain bintang kompetisi Galatama dan Perserikatan," cerita Zulkarnain.

Timnas Indonesia di Asian Games 1986 diperkuat deretan bintang-bintang beken macam: Ponirin Meka, Jaya Hartono, Robby Darwis, Herry Kiswanto, Marzuki Nyak Mad, Sutrisno, Budi Wahyono, Patar Tambunan, Nasrul Koto, Rully Nere, Azhary Rangkuti, Ricky Yakobi, Ribut Waidi.

Kontroversial dan Peduli Pembinaan

Sebagai seorang bintang, Zulkarnain Lubis punya sisi kelam. Ia dikenal sebagai sosok indispliner. Ia sosok kontroversial. "Saat saya muda, saya cepat naik darah. Seringkali terlibat keributan. Terutama jika pemain lawan bermain kasar ke saya," tutur almarhum.

Saat gantung sepatu, Zulkarnain Lubis sempat mengalami keterpurukan hidup. Ia sempat jadi tukang nasi goreng.

"Saya tidak malu melakukan hal itu. Faktanya saya memang susah. Anak dan istri saya butuh makan, saya tidak karena gengsi hidup mereka makin tak keruan," cerita ayah dari Yesi Zulkarnain Lubis, Widya Zulkarnain Lubis, serta Reno Zulkarnain Lubis.

Beberapa tahun belakangan Zulkarnain kembali dunia yang dicintai. Ia aktif melatih pesepak bola wanita. Bang Zul aktif membesarkan SSB Queen milik Papat. Almarhum juga sempat didapuk menjadi pelatih Tim Sepak Bola Putri Jawa Barat pada periode 2013.

Terakhir Zulkarnain tercatat sebagai pelatih Penukal Abab Lematang Ilir (PALI). "Saya tidak pernah tertarik melatih klub profesional, saya ingin fokus di pembinaan usia muda. Saya ingin mencetak pesepak bola andal. Saya ingin ia nasibnya lebih baik dibanding saya," papar Zulkarnain.

Kepergian Zulkarnain Lubis sudah barang tentu menjadi sebuah kehilangan besar bagi sepak bola Indonesia. Mengingat tak banyak legenda memilih turun gunung membina sepak bola usia muda yang tak populer. Selamat jalan, Bang Zul!

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Ario YosiaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan