5 Pelatih Top Ini Dipecat Gara-Gara Ruang Ganti

Ruang ganti tak harmonis membuat pelatih-pelatih papan atas ini angkat koper.

Diterbitkan 03 Oktober 2017, 10:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Alhasil, penunjukan tersebut berbuah bencana. Moyes tidak memiliki modal taktik atau rencana yang bagus untuk memimpin Setan Merah kembali mengerikan seperti pendahulunya. Hal-hal tak diinginkan akhirnya datang setelah sejumlah rangkaian hasil buruk dan dia dipecat.

Sesi latihan Moyes membuat pemain dengan cepat kehilangan minat. Bahkan para pemain secara perlahan menjadi tidak disiplin, sesuatu yang tidak pernah terdengar selama era Ferguson. Sepuluh bulan setelah direkrut, Moyes kehilangan pekerjaannya saat United absen di Liga Champions untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Ryan Giggs ditunjuk sebagai pengganti sampai akhir musim sebagai hasilnya.

3. Andre Villas-Boas (Chelsea)

Sangat mudah untuk melihat mengapa Chelsea tertarik pada Andre Villas-Boas. Pelatih Portugal itu dijuluki The Next Jose Mourinho setelah memenangi "treble" bersama Porto saat raih Liga Europa, Primeira Liga dan Taca de Portugal musim 2010/11.

Dia jelas mengingatkan Chelsea akan versi yang lebih muda dari Jose Mourinho dan melihatnya sebagai sosok tepat untuk gantikan Carlo Ancelotti. Satu-satunya masalah adalah dia masih terlalu muda.

Kemudian di ruang ganti yang dipenuhi bintang, seorang manajer berusia 33 tahun tidak benar-benar bisa dipercaya. Meski performa pramusim The Blues menunjukkan harapan (mereka memenangkan semua laga dan kebobolan satu kali saja), tapi tidak saat kompetisi sesungguhnya

Setelah terlempar dari empat besar, dia membatalkan hari libur dan memanggil semua pemain ke sebuah pertemuan yang juga dihadiri oleh pemilik klub Roman Abramovich. Saat itulah jabatannya terlepas dan pemain senior mempertanyakan taktiknya.

Kita semua tahu apa yang terjadi selanjutnya. Roberto Di Matteo mengambil alih posisi sebagai manajer interim dan memimpin The Blues raih gelar Liga Champions yang bersejarah.

"Pengalaman di Chelsea terlalu cepat, saya tidak fleksibel seperti manajer saat itu, saya komunikatif, tapi saya tidak fleksibel dalam pendekatan saya. Di Chelsea, saya juga terjebak pada metode saya yang banyak," ungkap Andre Villas-Boas.

2. Jose Mourinho (Real Madrid dan Chelsea)

Mourinho selalu memenangkan gelar di mana pun. Namun, karakternya yang keras dan tak pandang bulu malah jadi bumerang baginya.

Real Madrid bisa dibilang pekerjaan terbesar yang dia lakukan dalam kariernya. El Clasico mencapai tingkat permusuhan baru saat Mourinho berada di Madrid dan ini meluas ke tim nasional Spanyol. Ketika Iker Casillas mencoba menenangkan segalanya, Mourinho menuduh legenda klub itu menusuk dari belakang.

Dia juga secara terbuka mengkritik pemain-pemain seperti Cristiano Ronaldo dan Karim Benzema. Menjelang akhir masa jabatannya, dia tidak bisa diharapkan. Malahan, Madrid bersamanya sempat takluk 0-5 dari Barcelona pada jornada ke-13 La Liga musim 2010/11.

Setelah itu, Mourinho dipecat dan mengambil pekerjaan kembali di Chelsea dan semuanya terlihat bagus di Stamford Bridge saat memenangkan gelar liga lagi di musim keduanya. Tapi, tiba-tiba hal buruk datang lagi. Sebuah pramusim yang buruk menyebabkan awal yang buruk dan Chelsea berjuang untuk mendapatkan poin.

Ini dimulai ketika dia terlibat cekcok dengan Eva Carneiro yang dihina di depan pemainnya sendiri dan segera para pemain juga berhenti meresponsnya. The Blues merosot dan juara bertahan itu berada di bagian bawah tabel, mendekati zona degradasi.

Mourinho kemudian dipecat untuk kedua kalinya dalam kariernya di Chelsea bulan Desember dengan direktur teknis klub tersebut, Michael Emenalo mengatakan: "Tampaknya ada perselisihan yang nyata antara manajer dan pemain. Kami merasa sudah saatnya bertindak. Pemilik dipaksa untuk membuat apa keputusan yang sangat sulit untuk kebaikan klub."

1. Claudio Ranieri (Leicester City)

Tidak ada yang pantas atas segala prestasi yang diberikan Raineri untuk Leicester City. Dia adalah sosok legendaris klub yang pada musim pertamanya berhasil bawa Leicester juara Liga Inggris secara mengejutkan.

Namun, mimpi itu terlalu cepat berlalu. Tidak ada yang mengharapkan mereka mempertahankan gelar pada musim berikutnya, karena klub lain memperkuat timnya juga. Namun tidak ada yang memprediksi keterpurukan Leicester City sejak tengah musim.

Permainan buruk Leicester mencerminkan cara para pemain tampil di lapangan. Bintang seperti Riyad Mahrez tiba-tiba tampak tak bersemangat lagi main. Kemerosotan tim membuat mereka dekat dengan zona degradasi dan akhirnya pemilik mengambil keputusan menyakitkan untuk membiarkannya pergi.

Pelatih berusia 65 tahun itu meninggalkan asisten manajernya Craig Shakespeare untuk menangani sesi latihan. Dialah yang akhirnya mengambil alih Leicester City saat Ranieri dipecat.

(Eka Setiawan)

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Liputan6.com, Windi Wicaksono, Hotnida Novita SaryTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan