KOLOM: Misi Suci Juventus

Juventus mengusung misi suci saat menghadapi Real Madrid di Final Liga Champions.

Diterbitkan 02 Juni 2017, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Cardiff bukanlah kiblat sepak bola. Namun, untuk sehari saja, kota di pesisir Selatan Wales itu akan jadi pusat perhatian para penggila sepak bola dunia. Khususnya, tentu saja mereka yang berada di Eropa. Sekitar 200 juta pasang mata dari segenap penjuru dunia diperkirakan tertuju ke kota ini lewat layar kaca.

Sabtu (3/6/2017), Cardiff akan menggelar event olahraga terbesar dalam sejarah kota itu. Hari itu, di Stadion Millennium, akan tersaji final Liga Champions 2016-17 antara Juventus dan Real Madrid. Sebelumnya, stadion ini paling banter menggelar final Piala FA dan Piala Liga Inggris pada 2001 hingga 2007.

Diperkirakan, 170 ribu fans sepak bola akan datang ke Cardiff pada hari itu. Bukan hanya untuk menikmati laga dua klub terbaik Eropa, mereka juga datang untuk menjadi saksi sejarah. Siapa pun yang jadi pemenang, sejarah memang akan tercipta.

Andai menjadi kampiun, Madrid akan jadi klub pertama pada era Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar. Pada awal 1990-an, AC Milan, Ajax Amsterdam, dan Juventus sempat berpeluang mengguratkan rekor itu. Namun, tak satu pun yang mampu melakukannya.

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane mengintruksikan para pemainnya saat sesi latih di sebuah media open day di Madrid, (30/5). Real Madrid akan bertemu wakil Italia Juventus di Final Liga Champions di Cardiff. (AP Photo / Paul White)

Bagi Zinedine Zidane, sang entrenador, itu juga akan jadi catatan tersendiri. Bukan hanya menjadi pelatih pertama yang dua kali juara secara beruntun, dia pun akan menahbiskan diri sebagai pelatih pertama yang juara dalam dua musim awalnya di Liga Champions.

Itu akan jadi catatan impresif bagi Coach Zizou yang musim lalu menjuarai Liga Champions dalam tiga kapasitas berbeda. Sebelumnya, pada 2001-02, eks playmaker timnas Prancis tersebut juara sebagai pemain. Lalu, pada 2013-14, Zizou juara saat menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti. Zizou bak Mario Zagallo di Piala Dunia.

Adapun bagi Juventus, kemenangan di Cardiff nanti akan melengkapi gelar yang diraih musim ini. Treble winners akan dipastikan oleh gelar tersebut karena La Vecchia Signora sebelumnya telah lebih dulu memastikan juara Serie-A dan Coppa Italia. Juventus akan jadi klub Italia kedua yang membukukan prestasi itu setelah Internazionale pada 2009-10.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Lanjut Baca:

Terlepas dari torehan sejarah yang bisa dibuat, ada misi khusus nan mulia yang diusung La Vecchia Signora. Tim asuhan Massimiliano Allegri perlu menghentikan dominasi yang terjadi demi menggairahkan kembali Liga Champions.Dalam empat musim terakhir, Spanyol begitu mendominasi kejuaraan antarklub terelite di Eropa tersebut. Dari 2013-14, selalu ada wakil Negeri Matador di partai puncak. Bahkan, dua kali tercipta All Spanish Final yang juga All Madrid Final. Pada 2013-14 dan 2015-16, Real dan Atletico Madrid yang bersua di partai penentuan juara.Hal yang paling menegaskan dominasi itu tentu saja fakta bahwa klub Spanyol yang juara dalam tiga edisi terakhir. Dua kali Madrid (2013-14, 2015-16), sekali Barcelona (2014-15). Dominasi seperti ini memang bukan hal baru. Spanyol, dalam hal ini Madrid, merebut gelar dalam lima musim beruntun dari 1956 hingga 1960. Lalu, tiga wakil Inggris menjuarai ajang ini pada 1977 hingga 1982. Namun, sejak era Liga Champions pada 1992-93, hal itu tak pernah terjadi. Hingga 2012-13, bahkan tak pernah ada sebuah negara yang menempatkan wakilnya sebagai juara dalam dua musim secara beruntun. Andai Madrid juara lagi, tentu akan jadi ancaman tersendiri bagi Liga Champions. Dominasi yang terbentuk dan kian menguat potensial membuat publik bosan. Bukankah dominasi klub tertentu di sebuah liga membuat banyak orang kecewa? Lihat pula Ballon d'Or yang sudah menjemukan karena pemenangnya selalu saja Lionel Messi atau Cristiano Ronaldo.Indikasi kebosanan sudah terlihat di Liga Champions. Publik sepak bola dunia sepertinya lebih menantikan laga-laga yang tak biasa di final. Buktinya, saat terjadi All German Final pada 2012-13, total penonton siaran langsung final mencapai 360 juta orang. Itu rekor yang belum terpecahkan hingga saat ini.Hal lain yang tak kalah penting bagi Juventus adalah mencegah Madrid menambah koleksi gelar menjadi selusin. Itu akan membuat Los Blancos kian sulit dikejar. Saat ini, pesaing terdekat Madrid adalah AC Milan dengan tujuh gelar. Sialnya, I Rossoneri selalu absen di Liga Champions dari 2014-15. Di belakang Milan ada Barcelona, Liverpool, dan Bayern Muenchen yang sama-sama lima kali juara.Demi membuat Liga Champions lebih bergairah dan terlihat kompetitif lagi, butuh kejutan-kejutan dan juara baru. Setelah AS Monaco terhenti di semifinal dan Atletico gagal mengulangi langkah ke final, harapan tinggal kemunculan juara baru. Sejatinya, Juventus tak akan menjadi muka baru di daftar juara Liga Champions. Mereka sudah tiga kali menjuarai ajang ini. Namun, La Vecchia Signora terakhir kali berjaya pada 1995-96. Setelah itu, empat kali mereka kandas di final, yakni pada 1996-97, 1997-98, 2002-03, dan 2014-15. Mengingat sudah dua dekade tak juara, keberhasilan di Cardiff nanti rasanya bisa tergolong hal tak biasa.

Halaman
Show All
Liputan6.com, Defri SaefullahTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan