Kolom: Manusia Nyaris

Airmata Ranieri usai mengalahkan Sunderland di Stadium of Light lewat dua gol Jamie Vardy pekan lalu adalah bentuk ketegangannya.

Diterbitkan 13 April 2016, 18:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Berlanjut

Berlanjut
Fenomenal dalam permainan dan hasil tapi tidak dalam hal gelar terus berlanjut dalam karier Claudio Ranieri.  Sempat mengeluarkan buku dibulan September 2004 dengan judul Proud Man Walking tentang kiprah akhirnya di Stamford Bridge, Ranieri tetap seperti bukunya menunjukkan idealisme kepelatihannya yang tidak tergoyahkan, walaupun gelar terus menjauhi.
    
Awal yang menjanjikan bersama Valencia yang waktu itu bersatatus juara piala UEFA, Ranieri memang merebut gelar Piala Super Eropa dengan mengalahkan FC Porto yang telah ditinggalkan oleh Jose Mourinho dan pasukannya ke Chelsea, tapi Valencia kemudian hanya menempati urutan ke 6 La Liga dan berujung pada pemecatannya.
    
Cerita manusia nyaris terus berlanjut ketika bisa membawa Juventus yang baru kembali dari Serie B ke urutan ke tiga Serie A dan otomatis masuk ke Liga Champions kembali.  Tapi musim berikutnya ketika lebih banyak tertatih tatih dibawah bayang bayang mulut besar Jose Mourinho yang menangani Internazionale, Ranieri dipecat dan digantikan oleh Ciro Ferrara yang kemudian membawa kuda zebra ke urutan kedua.
    
Kisah yang sama ketika menangani AS Roma yang dibawanya dimusim 2009 / 10 melewati 23 pertandingan tanpa terkalahkan. Rekor fenomenal yang kembali tercoreng karena kalah perebutan scudetto dengan Internazionale dan juga final Coppa Italia dari lawan yang sama yang masih ditangani oleh The Special One.  Nasib untuk terus jadi nomor dua berlanjut di AS Monaco. Musim 2013/14, nyaris menjadi juara, klub kebanggaan keluarga Grimaldi ini harus puas berada di urutan kedua Ligue 1 dibawah Paris Saint-Germain.
    
Leicester City kini berpeluang besar menjadi juara Liga Inggris musim ini. (Reuters)
Sebaliknya ketika menangani tim tim dipapan bawah tangan dinginnya yang memang fenomenal justru lebih dihargai  Pujian ketika menyelamatkan Parma dari degradasi di musim 2006/07, setelah menggantikan Stefano Pioli sejak Februari 2007 di giornata 24.  Juga ketika membawa AS Monaco jadi juara Ligue 2 di musim pertama kepelatihannnya tahun 2012/13.
    
Itu sebabnya, ketika bersengketa dengan Nigel Pearson diawal musim 2015 / 16, ketua umum Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha menggantungkan harapan pada kakek kelahiran Roma, 20 Oktober 1951 ini. Tujuannya adalah membalikkan ramalan bahwa Leicester akan degradasi ke Championship dikahir musim. Target pun tidak muluk muluk. Hanya 40 poin, batas zona poin aman terdegradasi.
    
Hanya dengan mendatangan N’Golo Kante dan mempermanenkan Robert Huth, skema permainan Ranieri berputar pada kerja keras kolektif sisa pasukan Niger Pearson musim sebelumnya.  Memaksimalkan Jamie Vardy, Riyad Mahrez, Daniel Drinkwater dan Marc Albrighton, sejarah mencatat kisah fenomenal musim ini.
    
Masih lima laga lagi menuju cerita Nottingham Forest dan Blackburn Rovers.  Tapi target awal musim berupa 40 poin sudah dicapai Ranieri hanya lewat setengah musim. Target baru 79 poin hanya berselisih 7 poin lagi.  Ranieri memang masih memegang predikat manusia nyaris yang harus dipatahkannya dalam laga menjamu West Han United, Swansea City dan Everton serta tandang ke Old Trafford dan Stamford Bridge.
    
Sembilan laga pamungkas musim lalu harus diulang oleh Wes Morgan dkk dalam lima laga terakhir musim ini. Dan dengan menilik efektifnya mereka menata lini belakang dan menjebol gawang lawan dala liga laga terakhir, julukan The Tinker Man dan Manusia Nyaris milik Ranieri seharusnya bisa dihapus.

Ingat bahwa airmata Ranieri usai mengalahkan Sunderland di Stadium of Light lewat dua gol Jamie Vardy minggu lalu adalah bentuk ketegangan akibat tekanan raget baru juara musim ini. Tekanan yang harus dipatahkannya untuk mematahkan mitos Manusia Nyaris miliknya.

Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6

Halaman
Show All
Edu KrisnadefaTim Redaksi
Share
Copy Link
Batalkan