ni tindak operasi, Kanu mendirikan lima rumah sakit yang tersebar di Nigeria, Ghana, Rwanda, Zimbabwe, dan Uganda. Butuh waktu 18 bulan untuk menyelesaikan pembangunannya.
“Sangat mungkin itu bisa direalisasikan,” kata Kanu ketika disinggung tentang rencana besarnya itu. “Banyak perusahaan yang mau terlibat dalam pembangunan rumah sakit. Dengan begitu, terbuka kesempatan pembangunan di Afrika. Mereka (perusahaan) tahu betul jika kami mampu untuk itu,” tegas Kanu.
Kembali ke soal sepakbola, Kanu mengklaim akademi yang didirikannya, The Kanu Football Foundation, bersifat gratis. Tidak butuh uang sesen pun. Siapapun bisa meminta advis atau nasihat. “Di Afrika, banyak pemain muda yang tidak tahu bagaimana caranya mengembangkan karir. Nah, akademi dapat memberi masukan (nasihat). Jadi, ketika mereka bakal mencoba menjejakkan karirnya di kompetisi besar, misalnya saja Liga Premier Inggris, kami dapat memberi masukan sebelum semuanya jadi terlambat,” ujar Kanu.
Sejumlah contoh membuktikan begitu terpuruknya para pemain (muda) Afrika yang mencoba mengadu nasib di ajang persepakbolaan Eropa. Awalnya, mereka mendapat janji semanis madu. Padahal, yang terjadi mereka ditinggalkan. Akhirnya sengsara. Hendak kembali ke rumah (Afrika), mereka merasa malu.
Selain itu, masih banyak pemain lainnya yang benar-benar mendapat kesempatan bergabung dengan klub (Eropa), namun akhirnya mendapat perlakuan yang buruk dari agen maupun klub. Georges Mojado, contohnya. Pemain asal Kamerun ini bergabung ke RAEC Mons di Belgia di mana gaji minimumnya dalam sebulan mencapai 1.075 euro (sekitar Rp 15 juta). Yang terjadi, Mojado hanya dibayar 150 euro (Rp 2,1 juta)!
Yang lainnya, Timothee Atouba yang juga berasal dari Kamerun. Sebelum semusim berlabuh di Tottenham Hotspur, Atouba bermain bersama Neuchatel Xamax, penghuni divisi sepakbola utama Swiss. Di Xamax, Atouba hanya dibayar sepertiga dari nilai gaji yang tertera dalam kontraknya. Setelah setahun kemudian, ia hanya menerima dua pertiga. Atouba tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, ia diancam bakal dipulangkan ke Kamerun.
“Masalah yang utama adalah setiap orang ingin menjadi pesepakbola profesional. Beberapa di antara mereka beruntung. Ada juga yang bernasib naas. Meski demikian, saya jamin, kami (yayasan) bakal terbuka bagi siapapun. Saya yakin dengan kapabilitas dan popularitas saya selama ini, mereka mau mendengarkan masukan dari kami,” ujar Kanu tanpa bermaksud membanggakan diri.
Akademi sepakbola yang Kanu didirikan bersifat joint venture dengan manajemen NVA, perusahaan yang dikendalikan Chris Nathaniel, konsultan yang mempunyai klien sejumlah pemain top di Liga Premier seperti Rio Ferdinand (Manchester United), Micah Richards (Manchester City), dan rekan Kanu di Super Eagles, Obafemi Martins (Newcastle United). Mereka (Ferdinand dkk) sangat mendukung rencana Kanu.
“Sangat mungkin itu bisa direalisasikan,” kata Kanu ketika disinggung tentang rencana besarnya itu. “Banyak perusahaan yang mau terlibat dalam pembangunan rumah sakit. Dengan begitu, terbuka kesempatan pembangunan di Afrika. Mereka (perusahaan) tahu betul jika kami mampu untuk itu,” tegas Kanu.
Kembali ke soal sepakbola, Kanu mengklaim akademi yang didirikannya, The Kanu Football Foundation, bersifat gratis. Tidak butuh uang sesen pun. Siapapun bisa meminta advis atau nasihat. “Di Afrika, banyak pemain muda yang tidak tahu bagaimana caranya mengembangkan karir. Nah, akademi dapat memberi masukan (nasihat). Jadi, ketika mereka bakal mencoba menjejakkan karirnya di kompetisi besar, misalnya saja Liga Premier Inggris, kami dapat memberi masukan sebelum semuanya jadi terlambat,” ujar Kanu.
Sejumlah contoh membuktikan begitu terpuruknya para pemain (muda) Afrika yang mencoba mengadu nasib di ajang persepakbolaan Eropa. Awalnya, mereka mendapat janji semanis madu. Padahal, yang terjadi mereka ditinggalkan. Akhirnya sengsara. Hendak kembali ke rumah (Afrika), mereka merasa malu.
Selain itu, masih banyak pemain lainnya yang benar-benar mendapat kesempatan bergabung dengan klub (Eropa), namun akhirnya mendapat perlakuan yang buruk dari agen maupun klub. Georges Mojado, contohnya. Pemain asal Kamerun ini bergabung ke RAEC Mons di Belgia di mana gaji minimumnya dalam sebulan mencapai 1.075 euro (sekitar Rp 15 juta). Yang terjadi, Mojado hanya dibayar 150 euro (Rp 2,1 juta)!
Yang lainnya, Timothee Atouba yang juga berasal dari Kamerun. Sebelum semusim berlabuh di Tottenham Hotspur, Atouba bermain bersama Neuchatel Xamax, penghuni divisi sepakbola utama Swiss. Di Xamax, Atouba hanya dibayar sepertiga dari nilai gaji yang tertera dalam kontraknya. Setelah setahun kemudian, ia hanya menerima dua pertiga. Atouba tidak dapat berbuat banyak. Pasalnya, ia diancam bakal dipulangkan ke Kamerun.
“Masalah yang utama adalah setiap orang ingin menjadi pesepakbola profesional. Beberapa di antara mereka beruntung. Ada juga yang bernasib naas. Meski demikian, saya jamin, kami (yayasan) bakal terbuka bagi siapapun. Saya yakin dengan kapabilitas dan popularitas saya selama ini, mereka mau mendengarkan masukan dari kami,” ujar Kanu tanpa bermaksud membanggakan diri.
Akademi sepakbola yang Kanu didirikan bersifat joint venture dengan manajemen NVA, perusahaan yang dikendalikan Chris Nathaniel, konsultan yang mempunyai klien sejumlah pemain top di Liga Premier seperti Rio Ferdinand (Manchester United), Micah Richards (Manchester City), dan rekan Kanu di Super Eagles, Obafemi Martins (Newcastle United). Mereka (Ferdinand dkk) sangat mendukung rencana Kanu.
Ikuti berita bola terbaru di Sport Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5548679/original/027938400_1775547751-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-04-07T112519.017.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294561/original/045730600_1783843861-cek_fakta_-_pemutihan_pajak_kendaraan_gratis_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294353/original/011938600_1783830677-cek_fakta_-_bansos_pkh_juli.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/235712/original/img_kanu-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294474/original/094305800_1783838406-063_2285709844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294171/original/030534100_1783819063-ing9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262483/original/075097700_1781805987-Argentina_s_Lionel_Messi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294699/original/022281100_1783851743-England_s_Harry_Kane__left__Jude_Bellingham__center__and_Morgan_Rogers.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294548/original/063184200_1783843237-063_2285693617.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294309/original/057015000_1783829242-ar13.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294340/original/000872600_1783830200-000_B9XN79R.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294301/original/036531900_1783829241-ar5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294318/original/065079400_1783829517-063_2285706113.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294280/original/068914000_1783828183-063_2285710148.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294169/original/097035400_1783819062-ing7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294167/original/059057200_1783819062-ing5.jpg)