Harga Perak Antam 9 Oktober 2026 Merosot Rp 100

Berikut harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) saat harga perak dunia menguat pada Jumat, (9/10/2026).

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 10:09 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga perak PT Aneka Tambang Tbk (Antam) melemah pada perdagangan Jumat, (9/10/2026). Koreksi harga perak Antam hari ini berlawanan dengan harga perak dunia dan emas Antam.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam hari ini turun Rp 100 menjadi Rp 39.900. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dibanderol Rp 40.000.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Perak batangan 250 gram dipatok Rp 10.500.000, perak batangan 500 gram dibanderol Rp 20.075.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Mengutip tradingeconomics.com, harga perak dunia naik 1,59% menjadi US$ 60,11. Harga perak stabil di atas US$ 59 per ons pada Jumat pekan ini. Akan tetapi, harga perak dunia masih berada di jalur penurunan mingguan seiring investor mencermati perkembangan situasli di Timur Tengah dan prospek kebijakan moneter the Federal Reserve (the Fed).

Harga minyak melandai setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa AS sedang melakukan "diskusi produktif" dengan Iran dan tidak akan menyerang negara tersebut sebelum pemilihan paruh waktu. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz pekan ini. Badai juga mengganggu produksi minyak lepas pantai AS di Teluk Meksiko.

Sementara itu, pasar saat ini memperhitungkan kemungkinan sekitar 82% The Fed akan mempertahankan suku bunga tidak berubah bulan ini, sedangkan peluang kenaikan suku bunga pada Desember berada di kisaran 81%. Pada Kamis, Presiden The Fed wilayah St. Louis, Alberto Musalem, mengisyaratkan suku bunga mungkin perlu dinaikkan dalam enam hingga sembilan bulan ke depan untuk mengembalikan inflasi ke target 2% yang ditetapkan bank sentral.

Harga Emas Dunia

Sebelumnya, harga emas sedikit menguat pada perdagangan Kamis, 8 Oktober 2026 (Jumat pagi Jakarta). Kenaikan harga emas dunia terjadi setelah sempat menyentuh level terendah dalam dua bulan pada sesi sebelumnya, seiring investor menimbang ketidakpastian arah kebijakan suku bunga the Federal Reserve (the Fed) di tengah kekhawatiran yang meningkat mengenai tingginya tingkat utang Amerika Serikat (AS).

Mengutip CNBC, Jumat (9/10/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.123,42 per ons pada pukul 14.41 EDT, setelah sempat menyentuh level terendah sejak 5 Agustus pada Rabu pekan ini. Hal itu akibat tekanan dari penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Selain itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup naik 0,4% menjadi US$ 4.157.

Nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun tetap berada di level tinggi untuk sesi kedua berturut-turut.

"Tingginya imbal hasil tampaknya mempertegas kekhawatiran yang meluas mengenai besarnya tingkat utang. Jika utang terus meningkat, maka emas sebagai antitesis terhadap mata uang fiat dan aset pemerintah kemungkinan besar akan lebih diminati," tutur commodity strategist WisdomTree, Nitesh Shah.

 

Sentimen The Fed

Notulen rapat menunjukkan, para pembuat kebijakan The Fed terpecah pendapatnya bulan lalu mengenai alasan kenaikan suku bunga. Sementara "sebagian peserta" memandang kenaikan suku bunga diperlukan untuk meredam dampak lonjakan harga energi dan komoditas lainnya, kelompok yang lebih hawkish menganggapnya perlu untuk mengantisipasi munculnya inflasi yang didorong oleh permintaan.

"Notulen tersebut menegaskan fakta bahwa tidak ada jalur kebijakan yang sudah ditetapkan sebelumnya, dan hal ini membuat pasar (emas) menjadi sedikit lebih fluktuatif," Shah menambahkan.

Gubernur Federal Reserve AS, Christopher Waller, pada Kamis menyatakan, kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan besar diperlukan. Namun, ia menambahkan adanya "fleksibilitas" terkait laju kenaikan tersebut dan membuka peluang bagi jeda kenaikan suku bunga pada Oktober.

Para pelaku pasar melihat adanya peluang sebesar 17% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober, tetapi memperhitungkan probabilitas sebesar 81% untuk kenaikan pada Desember, menurut perangkat FedWatch dari CME.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas, yang merupakan aset tanpa imbal hasil (non-yielding). Di ranah geopolitik, kapal tanker menghadapi risiko serangan dan intimidasi yang lebih tinggi saat berupaya meloloskan pengiriman penting melalui Selat Hormuz, setelah Iran mengeluarkan peringatan baru mereka akan memblokir rute-rute yang tidak mereka izinkan, menurut sejumlah sumber.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6