Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Geopolitik

OJK menyatakan sektor jasa keuangan tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan moneter global.

Diterbitkan 05 Oktober 2026, 18:40 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan kondisi sektor jasa keuangan (SJK) tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan pengetatan kebijakan moneter global.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan, sejumlah indikator terkini menunjukkan kondisi perekonomian Indonesia masih kuat dengan inflasi yang terjaga. Kondisi tersebut turut mendorong permintaan domestik dan menjaga tingkat konsumsi masyarakat, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Sejalan dengan itu, OECD meningkatkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5 persen. Menurut Friderica, peningkatan proyeksi tersebut mencerminkan kepercayaan global terhadap daya tahan perekonomian Indonesia.

“Perkembangan positif tersebut didukung oleh sektor keuangan yang terus kontributif terhadap pertumbuhan serta stabilitas sektor keuangan yang tetap terjaga dengan fundamental industri jasa keuangan yang solid,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK di Jakarta, Senin (5/10/2026).

 

Sektor Jasa Keuangan Tumbuh

Pasar saham domestik bergerak dinamis sepanjang September 2026 seiring meningkatnya volatilitas pasar keuangan global. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh eskalasi tensi geopolitik dan peningkatan suku bunga global.

Di tengah dinamika tersebut, OJK menilai resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik masih terjaga. Rata-rata bid-ask spread pasar saham berada di level 1,20 persen, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 1,17 persen.

Jumlah investor di pasar modal juga melanjutkan tren peningkatan sejalan dengan penguatan ekosistem digital di industri pasar modal. Jumlah investor bertambah 1,03 juta pada September 2026 secara month-to-month (mtm), sehingga total investor mencapai 32,17 juta atau tumbuh 57,96 persen secara year-to-date (ytd).

Penghimpunan dana oleh korporasi domestik melalui pasar modal juga tetap kuat. Nilai Penawaran Umum secara year-to-date mencapai Rp186,03 triliun. Sementara itu, dalam pipeline terdapat 29 rencana Penawaran Umum dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun.

 

Kredit Perbankan Tumbuh 13,65 Persen

Di industri perbankan, pertumbuhan kredit pada Agustus 2026 meningkat menjadi 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), dibandingkan 13,58 persen yoy pada Juli 2026. Total penyaluran kredit mencapai Rp9.178 triliun.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 25,11 persen yoy. Selanjutnya, kredit modal kerja tumbuh 11,45 persen yoy dan kredit konsumsi 5,07 persen yoy.

Berdasarkan kategori debitur, kredit korporasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 22,18 persen yoy. Sementara itu, kredit UMKM melanjutkan tren peningkatan dengan tumbuh 2,32 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan 1,62 persen yoy pada Juli 2026.

Dari sisi kepemilikan, pertumbuhan kredit bank BUMN menjadi yang tertinggi, yakni sebesar 16,41 persen yoy.

Kualitas kredit juga masih terjaga. Rasio Non Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,11 persen, sedikit meningkat dari 2,10 persen pada Juli 2026. Sementara NPL net tercatat 0,84 persen, dibandingkan 0,81 persen pada bulan sebelumnya.

Loan at Risk (LaR) tercatat 8,56 persen, meningkat dari 8,39 persen pada Juli 2026. Dari sisi profitabilitas, Return on Assets (ROA) perbankan berada di level 2,43 persen, sedikit turun dari 2,45 persen pada Juli 2026.

Ketahanan perbankan juga tetap kuat dengan dukungan buffer mitigasi risiko yang memadai. Hal itu tercermin dari rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) yang mencapai 24,10 persen, naik dari 23,84 persen pada Juli 2026.

 

Kinerja Industri Perasuransian

Kinerja industri Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (PPDP) secara umum juga tetap stabil dan terjaga.

Pada industri asuransi, total aset hingga Agustus 2026 mencapai Rp1.200,55 triliun atau tumbuh 2,56 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, total aset asuransi komersial mencapai Rp982,18 triliun atau meningkat 3,59 persen yoy.

Pada industri dana pensiun, total aset per Agustus 2026 tumbuh 6,99 persen yoy menjadi Rp1.724,14 triliun. Untuk program pensiun sukarela, total aset tumbuh 4,31 persen yoy menjadi Rp412,39 triliun.

OJK memproyeksikan kinerja industri PPDP hingga akhir 2026 tetap tumbuh positif, meskipun lebih moderat dibandingkan target yang ditetapkan pada awal tahun. Proyeksi tersebut mempertimbangkan meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global yang berdampak pada pasar keuangan.

Pertumbuhan program asuransi diproyeksikan berada di kisaran 2-4 persen dan dana pensiun 4-6 persen. Sementara itu, aset industri penjaminan diproyeksikan tumbuh lebih tinggi, yakni 28-30 persen.

 

Pembiayaan dan Pindar

Sementara itu, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 1,68 persen yoy pada Agustus 2026 menjadi Rp514,08 triliun. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung peningkatan pembiayaan modal kerja sebesar 5,40 persen yoy.

Profil risiko perusahaan pembiayaan tetap terjaga dengan rasio Non Performing Financing (NPF) gross sebesar 3,04 persen dan NPF net 0,83 persen. Adapun gearing ratio perusahaan pembiayaan tercatat 2,04 kali, masih jauh di bawah batas maksimum 10 kali.

Pembiayaan modal ventura pada Agustus 2026 tumbuh 1,05 persen yoy dengan nilai pembiayaan mencapai Rp16,50 triliun.

Pada industri Lembaga Keuangan Mikro (LKM), penyaluran pembiayaan terkontraksi 0,33 persen yoy menjadi Rp1,05 triliun. Di sisi lain, simpanan tumbuh 7,70 persen yoy menjadi Rp0,63 triliun.

Pada industri Pinjaman Daring (Pindar), outstanding pembiayaan pada Agustus 2026 tumbuh 22,07 persen yoy menjadi Rp106,94 triliun. Tingkat risiko kredit macet secara agregat yang tercermin dari Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) berada di level 4,73 persen.

Sementara itu, industri pergadaian mencatat pertumbuhan penyaluran pembiayaan sebesar 44,60 persen yoy pada Agustus 2026 menjadi Rp156,61 triliun. Pembiayaan terbesar disalurkan melalui produk gadai, yakni Rp132,84 triliun atau 84,82 persen dari total pembiayaan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6