Harga Emas Antam Hari Ini Kembali Bangkit, Cek Daftar Lengkapnya!

Menguat Rp 7.000 setelah pelemahan tajam, simak pergerakan dan rincian harga emas Antam Sabtu 25 Juli 2026 dari ukuran terkecil hingga 1 kg.

Diterbitkan 25 Juli 2026, 11:33 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas batangan yang dijual oleh PT Aneka Tambang Tbk (Antam) naik Rp 7.000 pada perdagangan Sabtu (25/7/2026). Harga emas Antam mulai merangkak naik setelah pada perdagangan sehari sebelumnya sempat anjlok hingga Rp 35.000.

Mengutip laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini dipatok sebesar Rp 2.612.000 per gram. Pada perdagangan Jumat sebelumnya, harga logam mulia ini berada di level Rp 2.605.000 per gram.

Kenaikan serupa juga terjadi pada harga buyback (beli kembali) emas Antam yang naik Rp 7.000 menjadi Rp 2.352.000 per gram. Dengan demikian, bagi Anda yang ingin menjual kembali logam mulianya, Antam akan membelinya dengan harga Rp 2.352.000 per gram.

Sebagai informasi, harga buyback merupakan harga acuan yang berlaku apabila pemilik emas ingin menjual kembali logam mulianya ke pihak Antam. Sementara itu, harga emas yang tercantum dalam rincian merupakan harga beli yang dibayarkan konsumen saat membeli emas dari Antam.

Adapun harga emas batangan ini bersifat fluktuatif dan dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti pergerakan pasar.

Sebagai catatan historis, harga emas Antam pernah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah pada Kamis, 29 Januari 2026. Kala itu, harganya meroket hingga menembus Rp 3.168.000 per gram dengan harga buyback berada di level Rp 2.989.000 per gram.

Seluruh informasi mengenai pergerakan harga ini bersumber langsung dari situs resmi Logam Mulia, unit bisnis PT Aneka Tambang Tbk, sehingga data yang disajikan memiliki akurasi dan kredibilitas tinggi bagi masyarakat.

 

Rincian Harga Emas Antam Hari Ini:

  • 0,5 gram: Rp 1.356.000
  • 1 gram: Rp 2.612.000
  • 2 gram: Rp 5.164.000
  • 3 gram: Rp 7.721.000
  • 5 gram: Rp 12.835.000
  • 10 gram: Rp 25.615.000
  • 25 gram: Rp 63.912.000
  • 50 gram: Rp 127.745.000
  • 100 gram: Rp 255.412.000
  • 250 gram: Rp 638.265.000
  • 500 gram: Rp 1.276.320.000
  • 1.000 gram (1 kg): Rp 2.552.600.000

Harga Emas Dunia Bangkit, Pasar Tunggu Keputusan The Fed

Harga emas dunia ditutup menguat pada perdagangan Jumat setelah harga minyak mentah Brent berbalik melemah dari level di atas US$ 100 per barel.

Di saat yang sama, pelaku pasar terus mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah serta dampaknya terhadap inflasi menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed) pekan depan.

Mengutip CNBC, Sabtu (25/7/2026), harga emas spot naik 0,3% menjadi US$ 4.060,47 per ounce pada pukul 14.20 EDT. Kenaikan ini terjadi setelah logam mulia tersebut sempat merosot sekitar 2% pada sesi sebelumnya.

Secara mingguan, harga emas masih mencatat kenaikan lebih dari 1%, didukung aksi beli saat harga terkoreksi (dip-buying) yang terjadi pada awal pekan.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus juga naik 0,3% menjadi US$ 4.061,70 per ounce.

Pedagang logam independen Tai Wong menilai emas dan perak mulai membentuk area penopang harga meski imbal hasil obligasi masih terus meningkat.

"Emas dan perak sedang membentuk area dasar harga di kisaran US$ 3.950 dan US$ 55 per ounce, meski imbal hasil obligasi terus meningkat. Meskipun pergerakan stop-loss hingga menembus level tersebut tidak bisa dikesampingkan apabila terjadi eskalasi perang yang tajam, harga emas tampaknya siap kembali menguat," kata pedagang logam independen Tai Wong.

"Selain itu, jika The Fed benar-benar menahan suku bunga pada rapat pekan depan, hal itu akan menjadi sentimen positif bagi emas," tambah dia. 

Harga Emas Sudah Terkoreksi 23% Sejak Perang

Di sisi lain, harga minyak mentah Brent turun hampir 4% setelah sehari sebelumnya melonjak lebih dari 7% hingga ditutup di atas US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei.

Lonjakan tersebut dipicu pernyataan kelompok Houthi yang didukung Iran. Mereka mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah sehingga memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Meski menguat pada perdagangan terbaru, harga emas sebenarnya telah terkoreksi sekitar 23% sejak perang yang didukung Amerika Serikat dengan Iran pecah pada akhir Februari. Penurunan itu dipengaruhi ekspektasi bahwa tekanan inflasi akibat perang dapat membuat suku bunga tetap tinggi dalam waktu lebih lama.

Emas selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena emas tidak memberikan imbal hasil.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6