Rupiah Stagnan terhadap Dolar AS Hari Ini 17 Maret 2026, Sentuh Level Segini

Rupiah ditutup stabil pada Selasa, (17/3/2026) setelah rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).

Diterbitkan 17 Maret 2026, 19:41 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah gagal mempertahankan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa, (17/3/2026) setelah pertemuan bank sentral. Rupiah ditutup stagnan terhadap dolar AS menjadi 16.997 per dolar AS dari penutupan sebelumnya 16.997 per dolar AS.

Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga bergerak menguat ke level 16.982 per dolar AS dari sebelumnya 16.990 per dolar AS.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, kurs rupiah gagal mempertahankan penguatan setelah pernyataan Gubernur Bank Indonesia (BI) masih dovish.

“Rupiah gagal mempertahankan penguatan terhadap dolar AS setelah Gubernur BI dalam RDG (Rapat Dewan Gubernur) BI masih terkesan dovish dengan mengatakan bahwa ruang pelonggaran kebijakan tetap terbuka,” ujar dia seperti dikutip dari Antara.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Maret 2026 yang berlangsung dua hari hingga Selasa ini, memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen.

Suku bunga deposit facility diputuskan untuk tetap pada level 3,75 persen. Begitu pula suku bunga lending facility yang diputuskan untuk tetap pada level 5,50 persen.

Keputusan ini untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak memburuknya kondisi global akibat perang di Timur Tengah, serta menjaga pencapaian sasaran inflasi 2026-2027 dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen.

Dalam RDG, Gubernur BI Perry Warjiyo tidak lagi menyinggung peluang untuk penurunan suku bunga acuan (BI-Rate) seiring meningkatnya risiko global dan tekanan nilai tukar rupiah.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Selasa pagi, bergerak menguat 29 poin atau 0,17 persen menjadi 16.968 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat 16.997 per dolar AS. Hal ini disebabkan harga minyak mentah yang menurun di tengah harapan Selat Hormuz kembali bisa dilewati

“(Ada) harapan Selat Hormuz akan kembali bisa segera dilewati menyusul pernyataan Trump (Presiden AS Donald Trump) yang akan mengumumkan dalam waktu dekat,” ujar dia.

Pembukaan Rupiah Hari Ini 17 Maret 2026

Sebelumnya, nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan hari ini Selasa pagi, bergerak menguat 29 poin atau 0,17 persen menjadi 16.968 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang tercatat 16.997 per dolar AS.

Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan rupiah bergerak dinamis seiring sikap pelaku pasar wait and see menjelang keputusan kebijakan moneter global.

"Nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan akan bergerak dinamis dengan kecenderungan stabil hingga menguat terbatas, seiring sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan kebijakan moneter global," ungkapnya dikutip dari Antara, Selasa (17/3/2026).

Pergerakan rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp16.900-Rp17.020 per dolar AS, dengan faktor eksternal yang menjadi penggerak utama.

Penguatan pada awal sesi menunjukkan adanya arus masuk jangka pendek, kendati potensi apresiasi lanjutan masih relatif terbatas.

Fokus pelaku pasar disebut tertuju pada arah kebijakan suku bunga dari Federal Reserve (The Fed). "Apabila The Fed kembali menegaskan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama, maka dolar AS berpeluang melanjutkan penguatannya dan memberi tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah," ujar dia.

Di sisi lain, lanjutnya, kenaikan imbal hasil obligasi global turut meningkatkan daya tarik aset dolar dan berpotensi mendorong arus keluar modal.

 

Tensi Geopolitik di Timur Tengah

Melihat dari perspektif global, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah tetap dinilai menjadi sentimen utama, terutama karena mendorong kenaikan harga energi.

Sementara itu, dari dalam negeri, fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, ditopang inflasi yang terkendali serta stabilitas sistem keuangan yang terjaga. Upaya stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia juga berperan penting dalam menahan volatilitas rupiah.

"Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini, Bank Indonesia diperkirakan akan kembali menahan suku bunga acuan BI-Rate di level 4,75 persen. Kebijakan ini mencerminkan komitmen bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5 persen pada periode 2026-2027, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," ujar Amru.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6