Harga Emas Awal Pekan Tertekan, XAUUSD Masih Rawan Koreksi

Harga emas bergerak fluktuatif di awal pekan. Meski ditopang sentimen global, XAUUSD masih menghadapi risiko koreksi lanjutan.

Diterbitkan 02 Februari 2026, 13:10 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga emas dunia pada awal pekan ini bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Meski secara fundamental masih mendapat dukungan sebagai aset lindung nilai, pergerakan harga emas atau XAU/USD tetap diwarnai tekanan volatilitas yang cukup tinggi.

Analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, menilai ketegangan geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang menopang harga emas. Konflik berkepanjangan di berbagai kawasan, termasuk Timur Tengah, perang dagang, hingga sanksi ekonomi antarnegara, membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.

“Situasi ini mendorong investor kembali melirik emas sebagai aset safe haven,” ujar Andy Nugraha dalam keterangan tertulis, Senin (2/2/2026).

Kondisi tersebut menjaga minat beli emas tetap solid meski pergerakan harga belum sepenuhnya stabil.

Selain faktor geopolitik, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga berperan penting. Pasar menilai The Federal Reserve berpeluang mengambil kebijakan yang lebih dovish pada 2026, seiring melambatnya pertumbuhan ekonomi global.

Ekspektasi suku bunga yang lebih rendah berpotensi menekan imbal hasil obligasi riil. Dalam kondisi tersebut, emas yang tidak memberikan imbal hasil justru menjadi lebih menarik bagi investor sebagai sarana diversifikasi dan pelindung nilai.

 

Risiko Makroekonomi

Dari sisi permintaan, peran Exchange Traded Fund (ETF) emas juga menjadi penopang harga. Andy Nugraha mencatat minat investasi melalui ETF emas masih kuat dan bahkan mencetak rekor baru dalam beberapa periode terakhir.

ETF emas kini menjadi salah satu instrumen favorit investor institusional maupun ritel untuk menghadapi risiko makroekonomi dan ketidakstabilan pasar keuangan global. Permintaan yang konsisten ini menciptakan fondasi kuat bagi harga emas di luar kebutuhan industri dan perhiasan.

Selain itu, tren diversifikasi portofolio global turut memperkuat prospek emas. Banyak bank sentral dan institusi besar mulai mengurangi ketergantungan pada aset berbasis dolar AS.

Langkah tersebut diiringi peningkatan alokasi emas sebagai aset penyimpan nilai atau store of value. Perubahan strategi ini dinilai mampu menopang harga emas dalam jangka menengah hingga panjang, seiring meningkatnya peran emas dalam cadangan devisa global.

 

Hati-hati Geopolitik

Secara teknikal, Andy Nugraha memproyeksikan pergerakan XAUUSD masih berpotensi menguat jika tekanan tren bullish berlanjut. Dalam skenario positif, harga emas diperkirakan dapat menguji area USD 5.600 pada pekan depan.

Namun, investor tetap perlu mewaspadai risiko pembalikan arah. Jika harga emas menembus level kunci di 4565, tekanan jual diperkirakan meningkat dan berpotensi membawa XAU/USD turun menuju area 4270.

“Risiko penurunan bisa muncul jika The Fed menyampaikan pernyataan bernada hawkish atau imbal hasil obligasi AS kembali naik dan memperkuat dolar,” jelas Andy Nugraha.

Dengan mempertimbangkan faktor fundamental dan teknikal tersebut, pergerakan harga emas ke depan dinilai masih atraktif, namun sarat volatilitas.

Investor disarankan mencermati perkembangan geopolitik, arah kebijakan bank sentral, serta level teknikal penting sebelum mengambil keputusan transaksi.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6