Menko Airlangga Tepis Isu Rojali dan Rohana, Kinerja Ritel Masih Kuat

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai sektor ritel masih menunjukkan pertumbuhan solid.

Diperbarui 05 Agustus 2025, 18:21 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) yang belakangan ramai dibicarakan publik. Menurutnya, isu ini tidak sejalan dengan fakta ekonomi yang menunjukkan konsumsi masyarakat masih kuat.

Airlangga menyebut kinerja sektor ritel pada semester I-2025 masih menunjukkan pertumbuhan yang solid. Ia merinci, pertumbuhan penjualan dari tiga entitas usaha termasuk pabrikan dan jaringan minimarket masing-masing tumbuh.

"Kalau kita lihat kinerja keuangan sektor retail, jadi tiga perusahaan pabrik, satu minimarket, yang kedua salah satu yang banyak outlet di mall. Seluruhnya semester satu ini pertumbuhannya mendekati 5%, 4,99%, 6,85%, dan 12,87%. Ini menunjukkan bahwa terkait dengan isu Rohana dan Rojali ini, ini isu yang ditiup-tiup,” kata Airlangga dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (5/8/2025).

Selain dari sisi penjualan ritel, indikator ekonomi lain seperti inflasi inti juga mencerminkan daya beli masyarakat yang terjaga. 

Airlangga menyebut inflasi inti masih berada di level rendah, yakni 2,32% secara tahunan. Di beberapa provinsi, inflasi bahkan cenderung lebih tinggi.

"Artinya, daya beli ataupun masyarakat di tengah ketidakpastian global masih melakukan konsumsi secara kuat. Dan angka ini ditujukan oleh angka inflasi,” ujarnya.

 

Sisi investasi

Airlangga menyampaikan dari sisi investasi, Airlangga menambahkan bahwa Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh tinggi sebesar 6,99% pada kuartal II-2025. 

Realisasi investasi sepanjang semester pertama tahun ini juga telah mencapai target, termasuk impor barang modal yang tercatat sebesar USD37,89 miliar.

"Realisasi investasi juga secara total di kuartal kedua mencapai target selama kuartal kedua dan secara tahunan, satu semester juga mencapai target. Dan kita melihat yang baik adalah impor barang modal, itu juga USD37,89 miliar . Artinya, terjadi kenaikan dari realisasi investasi, dan ini ke depannya pasti masuk dalam sektor produktif,” ujar dia.

 

APINDO: Rojali-Rohana Bukan Krisis, tapi Cermin Pola Konsumsi Baru

Sebelumnya, Analis Kebijakan Ekonomi Apindo, Ajib Hamdani, menilai fenomena “Rojali” (rombongan jarang beli) dan “Rohana” (rombongan hanya nanya) mencerminkan perilaku konsumsi masyarakat yang unik di Indonesia. Namun, ia mengingatkan bahwa situasi ini tidak bisa dilihat secara sepihak.

"Terkait fenomena Rojali-Rohana, memang pasar Indonesia ini unik, tapi jangan lupa bahwa kita ini ada namanya Lipstick Index," kata Ajib saat ditemui di kantor APINDO, Jakarta, Kamis (31/7/2025).

Konsep Lipstick Index merujuk pada fenomena di mana masyarakat tetap melakukan konsumsi terhadap produk tersier atau hiburan, meski secara umum daya beli sedang menurun.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6