Prediksi Harga Emas dan Dolar AS Pekan Ini, Bakal Tembus Level Berapa?

Harga emas dunia dan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami penguatan signifikan pada pekan ini.

Diterbitkan 21 Juli 2025, 07:30 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Harga emas dunia dan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi akan mengalami penguatan signifikan pada pekan ini. 

Analis Mata Uang dan Emas, Ibrahim menjelaskan secara teknikal, harga emas dunia menunjukkan tren menguat baik dalam jangka harian maupun mingguan.

“Secara teknikal harga emas dunia, baik secara daily maupun weekly, kemungkinan besar akan mengalami penguatan. Range-nya untuk support-nya, kalau untuk hari Senin kemungkinan besar di USD 3.324, resistennya itu adalah USD 3.375,” ujar Ibrahim dalam pernyataannya, dikutip Senin (21/7/2025).

Ibrahim menambahkan jika melalui penghitungan dalam satu minggu, range-nya, kemungkinan besar support-nya di USD 3.296 kemudian resistennya itu di level USD 3.400. Jadi, ada kemungkinan besar harga emas dunia ini akan menyentuh di level USD 3.400.

Sementara itu, indeks dolar AS juga diperkirakan menguat. Ibrahim memproyeksikan bahwa secara mingguan, indeks dolar akan bergerak di kisaran 97,50 hingga 99,70.

“Kalau lihat dari indeks dolarnya untuk besok, kemungkinan rest-nya itu di support-nya 97.90, resistennya itu adalah 98.90, jadi ada selisih itu 1 dolar. Tetapi kalau saya lihat, untuk satu minggu ada kemungkinan besar bahwa indeks dolar itu, di support-nya itu adalah di 97.50, kemudian resistennya itu adalah di 99.70. Secara daily, weekly bahwa indeks dolar ini masih akan menguat,” lanjut Ibrahim.

 

Faktor Penyebab

Lebih lanjut, Ibrahim mengungkapkan sejumlah faktor yang mempengaruhi penguatan dolar dan emas secara bersamaan. Salah satunya adalah spekulasi Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi karena inflasi yang masih berada di atas target.

“Spekulasi Bank Sentral Amerika kemungkinan besar masih akan tetap mempertahankan suku bunga tinggi, karena data ekonomi yang masih cukup bagus, apalagi inflasi masih di atas ekspetasi, ya harusnya 2%, tapi kemarin inflasi lebih besar, 2,7%,” paparnya.

Namun demikian, dinamika politik di AS turut menambah ketegangan, terutama terkait tekanan dari pemerintah terhadap independensi The Fed. Ia menekankan pentingnya menjaga independensi bank sentral untuk stabilitas ekonomi. Intervensi dari pihak eksekutif disebut bisa memicu kepanikan pasar.

Selain itu, disahkannya undang-undang tarif baru di AS juga memicu kekhawatiran pasar karena pemerintah diperkirakan akan mencari utang tambahan yang sangat besar.

“Kita harus tahu bahwa Bank Sentral Amerika adalah independen. Bukan saja Bank Sentral Amerika, secara global itu juga independen. Pada saat pemerintah sebagai eksekutif ikut campur urusan Bank Sentral, ini yang membuat masyarakat kembali mencari aset yang aman, yaitu adalah logam mulia sebagai safe haven,” ujarnya.

 

Utang Baru

Pemerintah AS juga tengah mencari utang baru di atas USD 3 triliun. Menurut Ibrahim, ini cukup luar biasa dan ini yang kemungkinan besar akan membuat para investor pun juga kembali melarikan dananya, menjaga dananya adalah safe haven.

Ibrahim juga menyoroti sejumlah ketegangan geopolitik global, termasuk langkah Presiden AS Donald Trump yang akan mengenakan tarif tambahan terhadap negara anggota BRICS serta kebijakan tarif terhadap Brasil.

Eskalasi konflik Rusia-Ukraina dan tensi yang terus berlangsung di Timur Tengah turut menambah tekanan global. Dengan berbagai faktor tersebut, Ibrahim meyakini bahwa pekan depan akan menjadi periode penguatan bagi emas dan dolar AS secara bersamaan, di mana harga emas berpotensi menembus USD 3.400 dan indeks dolar bisa menuju 99,70. 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6