Sukses

Suntikan APBN Rp 3,2 Triliun ke Kereta Cepat Jakarta Bandung Cair Akhir 2022

Liputan6.com, Jakarta Megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) akan menerima suntikan dana APBN sebesar Rp 3,2 triliun pada akhir tahun ini. Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia-China Dwiyana Slamet Riyadi mengaku optimistis hal itu tercapai.

Untuk diketahui, suntikan dana berupa Penyertaan Modal Negara (PMN) itu akan disetor ke PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai pemimpin konsorsium PT PSBI yang jadi bagian PT KCIC. Dana ini jadi salah satu instrumen untuk menambal pembengkakan biaya yang terjadi diproyek tersebut.

Kendati begitu, Dwiyana mengungkap kalau angka cost overrun antara pemerintah Indonesia dan pemerintah China menunjukkan perbedaan angka. Dia berharap, pencairan PMN bisa tetap berjalan sesuai rencana, sambil melakukan fiksasi besaran angka cost overrun.

"Ya kan targetnya memang akhir tahun (angka pasti). Paralel dengan pencairan PMN untuk cost overrun Rp 3,2 triliun," kata dia di Kompleks DPR RI, ditulis Jumat (9/12/2022).

Dia mengatakan, setiap tahapan untuk mencairkan PMN sudah dilalui. Mulai dari penjabaran dengan Komisi VI dan Komisi XI.

Saat ini, kata Dwiyana, prosesnya sudah masuk di Kementerian Keuangan. Termasuk penyusunan peraturan pemerintah terkait PMN untuk KAI ini. Dwiyana meyakini pencairan PMN tak akan molor ke tahun depan.

"Tapi ini kan komisi VI sudah (disetujui), sekarang di kementerian keuangan. Sedang dalam proses semuanya," sambung Dwiyana.

Informasi, pembengkakan biaya Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan ditutup melalui patungan antara konsorsium Indonesia dan konsorsium China. Sebesar 25 persen biaya akan ditanggung ekuitas, dan 75 persen lainnya akan ditanggung utang ke China Development Bank.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Negosiasi Alot

Pembengkakan biaya proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dari pemerintah Indonesia telah mencatatkan angka final. Namun, pihak China ternyata masih mencatatkan perbedaan angka pembengkakan biaya atau cos overrun.

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia-China Dwiyana Slamet Riyadi mengungkap memang ada perbedaan perhitungan antara pihak Indonesia dan pihak China. Dengan begitu, belum bisa ditetapkan seberapa besar cost overrun mega proyek tersebut.

"Sama china negosiasi cost overrun itu memang belum selesia betul, sedang proses nego," kata dia saat ditemui usai Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI, Kamis (8/12/2022).

Menurut catatan, pembengkakan biaya yang dihitung pemerintah, mengacu pada asersi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) adalah USD 1,4 miliar atau setara Rp 21,8 triliun. Sementara, pihak China memandang angka itu masih terlalu besar. Otoritas China mencatat pembengkakan biaya sekitar USD 980 juta.

"Kan saya sudah pernah jelaskan kenapa China lebih kecil cost overrun-nya. Karena pemerintah China belum mengakui ada pajak pengadaan lahan, GSMR investasi karena di sana free. Ada beberapa kondisi yang di China itu berbeda dengan Indonesia," terangnya.

Sementara, mengacu hitungan pemerintah Indonesia, ada biaya-biaya tersebut yang masuk dalam variabel perhitungan. Sehingga ada perbedaan angka yang didapat.

 

3 dari 4 halaman

PMN Masih Diproses

Diberitakan sebelumnya, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) II, Kartika Wirjoatmodjo menyebut, pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) masih sesuai rencana. Dia menyebut, kalau megaproyek itu akan rampung pada Juni 2023 mendatang.

"Kereta cepat itu kita on track untuk bisa kita lanjutkan progresnya, diharapkan Juni-Juli bisa beroperasi," ujarnya dalam Rapat Kerja Menteri BUMN bersama Komisi VI DPR RI, Senin (5/12).

Soal tambahan dana untuk KCJB, Tiko menyebut kalau sudah ada dukungan dari Komisi VI DPR RI. Saat ini, proses tambahan penyertaan modal negara (PMN) sebesar Rp 3,2 triliun sedang dalam proses di Komisi XI DPR RI.

Untuk diketahui, dana ini untuk menambal pembengkakan biaya atau cost overrun yang ada dalam megaproyek tersebut. Angka ini muncul setelah audit yang dilakukan oleh Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

"PMN ini sudah disepakati dan prosesnya lagi di Komisi XI. Semoga bisa dicairkan akhir tahun," ungkapnya.

 

4 dari 4 halaman

Hitungan KAI dan Skema Pembiayaan

Direktur Utama PT KAI (Persero) Didiek Hartantyo menjelaskan hasil hitungan cost overrun atas 2 asersi Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Jumlah pembengkakan biaya atau cost over run Kereta Cepat Jakarta-Bandung telah didapatkan sebesar USD 1,449 miliar atau setara dengan Rp 21,4 triliun (asumsi kurs Rp 14.800). Besaran ini diluar dari biaya pokok pembangunan KCJB sebesar USD 6,07 miliar.

Angka ini keluar setelah BPKP melakukan 2 kali audit. Pada reviu pertama, BPKP menemukan kelebihan biaya sekitar USD 1,176 miliar, dan reviu kedua menunjukkan angka USD 273 juta.

"Sehingga dengan adanya asersi satu dan asersi dua ini total nilai cost overrun ini adalah USD 1,449 miliar," ungkapnya dalam Rapat Dengar Pendapat Komisi VI DPR RI dengan KAI, ditulis Kamis (10/11/2022).

Asal tahu saja, audit BPKP atas cost over run pertama dilakukan pada 9 Maret 2022 lalu, dengan menunjukkan angka sekitar USD 1,17 miliar. Sementara, audit kedua dilakukan pada 15 September 2022 yang mencatat angka USD 273 juta.

Didiek mengatakan kalau penambalan kelebihan biaya ini akan dilakukan satu skema yang sudah disepakati. 25 persen dari total utang akan dibayar patungan antara konsorsium BUMN Indonesia (PT PSBI) dan konsorsium China. Sementara, 75 persen sisanya akan ditanggung lewat utang ke China Development Bank.

"Sudah mencapai kesepakatan awal dengan pihak China struktur pembiayaan cost overrun ini dilakukan dengan skema dengan 25 persen ekuitas, 75 persen loan (pinjaman). Ini sudah ada kesepakatan," kata Didiek.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS