Sukses

Wamendag: Pengemasan dan Sertifikasi Produk Jadi Hambatan UMKM

Liputan6.com, Jakarta Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga mengamini masih ada kendala yang dialami UMKM guna memperluas cakupan pasarnya. Diantaranya berkaitan dengan cara pengemasan dan sertifikasi produk yang dimiliki.

Wamendag Jerry mengaku pernah menemukan produk UMKM yang cukup bagus dari sisi kualitas rasa untuk produk makanan. Serta, telah memiliki cakupan pasar di tingkat nasional yang tersebar.

Sementara, saat ingin merambah pasar lebih luas ke luar negeri, dari sisi pengemasan dan sertifikasi paling sering menjadi hambatan dalam melakukan perluasan cakupan pasar tersebut.

“Kendalanya adalah soal packaging (pengemasan), itu padahal hal sederhana tapi jadi kesulitan, bahan baku (pengemasannya) tak ada disitu, sertifikasi juga kurang memadai,” katanya dalam webinar UMKM Goes to Global, Rabu (20/7/2022).

Merespons kendala itu, Jerry Sambuaga mengungkap ada sederet upaya yang dilakukan oleh Kemendag untuk mendorong perluasan pasar UMKM tersebut. Salah satunya adalah adanya pendampingan pelaku UMKM.

“Kami banyak memiliki program atau kegiatan yang memang dilakukan dan secara rutin untuk memastikan UMKM bisa didampingi secara lebih berkesinambungan,” kata dia.

“Dari Kemendag paling bertumpu pada salah satu pelatihan, advokasi dan packaging, pendampingan melalui PPEI (Pusat Pelatihan Ekspor Indonesia),” tambahnya.

Ia mengungkapkan melalui program ini, UMKM akan mendapat pendampingan dari berbagai sisi. Sehingga, kedepannya bisa meningkatkan kualitas yang artinya bisa memperluas pasar dari produk yang dikeluarkan.

“Yang itu (PPEI) tugasnya dan tujuannya asistensi dalam banyak hal dari packaging sampai ke caranya memenuhi standar sertifikasi internasional. Karena banyak kendala dan tantangan yang didapatkan dialami UMKM kita soal packaging,” tuturnya.

Selain itu, ia juga menyebut cara lainnya yang dilakukan Kemendag adalah dengan menyediakan akses pasar internasional. Ia mengklaim ada sekitar 46 titik yang jadi ujung tombak mempromosikan produk dari Indonesia.

“Bisnis matching juga dilakukan, itu untuk memberikan wadah bagi seller (penjual) dan buyer (pembeli) produk Indonesia, nanti akan mencoba di matching-kan dengan buyer dalam negeri, itu akan dibantu,” terangnya.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Digitalisasi

Lebih lanjut, Wamendag Jerry menyampaikan strategi lainnya yang dilakukan adalah dengan digitalisasi. Ini menurutnya saat ini memiliki peran penting dalam proses perluasan pasar dari UMKM.

“Ini juga jadi satu catatan penting untuk kita sambut perkembangan teknologi dan berikan tempat UMKM untuk bisa kompetitif dalam arti untuk memberikan produknya untuk bisa punya akses ke luar,” katanya.

“Dimana kita ketahui bahwa ini bisa menjadi wadah untuk pelaku usaha dan berpegang tak hanya pada satu tempat saja tapi bisa memperluas tempat dan terdistribusi lebih dari satu titik,” tambahnya.

Terpisah, Menurut data Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) sampai Bulan Mei 2022, total unit UMKM/IKM/Artisan yang telah onboarding mencapai 19,1 juta dan semakin dekat dengan target 30 juta UMKM digital di tahun 2023. Salah satu potensi UMKM dan produk unggulan di Indonesia adalah Provinsi Papua.

“Selain sumber daya alam yang melimpah, Papua juga kaya akan budaya dengan produk unggulan lokal yang khas. UMKM di Provinsi Papua bisa semakin maju dengan memanfaatkan berbagai fasilitas teknologi digital yang telah dibangun pemerintah,” ujar Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim Kemkominfo, Septriana Tangkary.

 

3 dari 4 halaman

UMKM Ikut Andil

Sebelumnya, Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga menginginkan UMKM indonesia ikut terlibat dalam melakukan ekspor sejumlah barang andalan. Ia berharap dengan ini bisa ikut serta berkembang kedepannya.

Wamendag Jerry menyampaikan, ada lima produk andalan ekspor dari Indonesia. Mulai dari batubara, minyak sawit, besi baja, kendaraan, hingga produk alas kaki. Ia memandang, salah satu diantara produk andalan itu bisa ditambah dengan produk dari UMKM.

“Kita bisa berikan (ekspor) produk andalan ke UMKM, jadi penting bagi kita untuk siasati dan menyusun strategi yang tepat dan formuasi tepat untuk jadikan umkm ini membuat produk andalan ekspor,” kata dia dalam webinar UMKM Goes to Global Market, Rabu (20/7/2022).

Ia menyampaikan dari lima produk itu, cukup bisa memenuhi pasar global. Mulai dari batubara dengan cakupan pangsa pasar sebesar 18,09 persen minyak sawit 11,35 persen, Besi Baja 10,86 persen, kendaraan 3,72 persen, dan alas kaki sebesar 2,97 persen. ini mengacu pada capaian Juni 2022 lalu.

 

4 dari 4 halaman

Sasar 5 Negara

Selain dari sisi jenis produk, Wamendag Jerry juga menginginkan UMKM bisa ikut juga menyasar ke 5 negara yang jadi tujuan ekspor terbesar Indonesia. Diantaranya, China yang mencapai USD 27,89 miliar, Amerika Serikat yang mencapai USD 14,76 miliar, India USD 11,41 miliar, Jepang USD 10,82 miliar, hingga Malaysia USD 6,99 miliar.

“Ini semua top 5 produk ini dan destinasi ini jadi instrumen diversifikasi produk ekspor kita,” terangnya.

Ia menyampaikan, di sisi ekspor non migas mengalami surplus sebesar 24,5 persen dibandingkan Juni 2021 lalu. Secara nominal, angkanya mencapai USD 26,58 miliar. Ia menilai, UMKM dengan banyaknya pasar rumah tangga, perlu juga melirik sektor ekspor untuk turut serta mendorong pertumbuhan ekonomi.

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS