Sukses

Erick Thohir ke Ibu-Ibu Mekaar: Utang untuk Produktif, Jangan Buat Beli HP

Liputan6.com, Jakarta - Menteri BUMN Erick Thohir berpesan kepada masyarakat khususnya para nasabah Permodalan Nasional Madani (PNM), jangan menggunakan utang produktif untuk hal yang konsumtif. Lebih baik digunakan untuk berusaha.

“Jangan pakai utang produktif untuk jajan konsumtif bu. Dengan kita disiplin dan efektif memanfaatkan modal yang kita punya, Insya Allah akan ada keuntungan bisa kita dapatkan dari usaha kita. Betul ibu-ibu?,” kata Erick Thohir dikutip dari @erickthohir, Sabtu (25/12/2021).

Dalam unggahan instagramnya, Erick membagikan video kunjungan kerjanya. Terlihat Erick berbincang dengan para ibu-ibu anggota PNM Mekaar.

“Yang penting kita harus terus berusaha, titip anak-anak harus sekolah”

“Ibu-ibu, siapa yang jadi nasabah PNM Mekaar?”

“Gimana bu? berapa banyak nasabah disini?

“Dikelompok saya ada 35 orang,” kata salah satu ibu-ibu.

Diakhir, Erick menegaskan kembali kepada para ibu-ibu yang hadir, pentingnya menggunakan hutang dengan bijak dan produktif. Bukan dibelikan untuk alat elektronik dan barang konsumtif lainnya.

“Kalau utang yang produktif gak apa-apa, kalau utang dibeliin handphone, salah. Yang penting tadi kita harus terus berusaha. Kalau punya PNM mekaar bedakan,” ucap Erick.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Pinjaman Modal

Sebagai informasi, program mekaar merupakan layanan pinjaman modal untuk perempuan pra sejahtera pelaku usaha ultra mikro. Dalam program ini ada aktivitas pendampingan usaha dan dilakukan secara berkelompok.

Oleh karena itu, PNM menerapkan sistem kelompok tanggung renteng yang diharapkan dapat menjembatani kesenjangan akses pembiayaan sehingga para nasabah mampu mengembangkan usaha dalam rangka menggapai cita-cita dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Manfaat yang disalurkan oleh PNM melalui layanan PNM Mekaar, meliputi peningkatan pengelolaan keuangan, pembiayaan modal tanpa agunan, penanaman budaya menabung; serta kompetensi kewirausahaan dan pengembangan bisnis.