Sukses

Rupiah Diprediksi Perkasa Seiring Optimisme Pasar ke Ekonomi AS

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan awal pekan ini. Kurs rupiah menguat seiring optimisme pasar terhadap perekonomian Amerika Serikat.

Mengutip Bloomberg, Senin (19/4/2021), rupiah dibuka di angka 14.535 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 14.565 per dolar AS. Namun menjelang siang, rupiah kembali terdepresiasi ke 14.561 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.530 per dolar AS hingga 14.561 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 3,64 persen.

"Pada pekan keempat ini fokus pasar masih akan tertuju pada optimisme pasar terhadap ekonomi Amerika Serikat yang didukung paket stimulus fiskal dan kemajuan vaksinasi di AS," tulis Tim Riset Monex Investindo Futures dikutip dari Antara, Senin (19/4/2021).

Selain itu, investor juga akan mengamati keputusan suku bunga bank-bank sentral seperti Bank Of Canada (BOC), European Central Bank (ECB) dan data-data manufaktur negara-negara kawasan euro.

Dolar AS terlihat melemah tertekan oleh turunnya tingkat imbal hasil obligasi AS dan tensi AS-China yang kembali meningkat.

Imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun yang pekan lalu ditutup turun menuju level 1,57 persen, terendah dalam satu bulan terakhir.

Di sisi lain, indeks dolar pun turun 0,66 persen dan berada di level 91,56, juga merupakan terendah dalam satu bulan terakhir.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuasi namun ditutup menguat di rentang Rp14.545 per dolar AS hingga Rp14.600 per dolar AS," kata Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

Pada Jumat (16/4) lalu, rupiah ditutup menguat 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.565 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp14.615 per dolar AS.

2 dari 3 halaman

BI Prediksi Rupiah Bakal Terus Menguat

Bank Indonesia (BI) mencermati nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus menguat. Hal ini didukung oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan, nilai tukar rupiah pada 18 November 2020 menguat sebesar 3,94 persen point to point dibandingkan dengan level akhir Oktober 2020.

"Perkembangan ini melanjutkan penguatan pada bulan sebelumnya sebesar 1,74 persen point to point atau 0,67 persen secara rata-rata dibandingkan dengan tingkat September 2020," jelasnya dalam sesi teleconference, Kamis (19/11/2020).

Menurut dia, selain karena peningkatan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik, penguatan rupiah juga terjadi seiring dengan turunnya ketidakpastian pasar keuangan global, seeta persepsi positif terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.

Dengan perkembangan ini, Perry mencatat, rupiah sampai dengan 18 November 2020 terdepresiasi sekitar 1,33 persen secara year to date jika dibandingkan akhir 2019 lalu.

"Ke depan, Bank Indonesia memandang bahwa penguatan nilai tukar rupiah berpotensi berlanjut seiring dengan levelnya yang secara fundamental masih undervalued," ujar Perry

"Hal ini didukung oleh defisit transaksi berjalan yang rendah, inflasi yang rendah dan terkendali, daya tarik aset keuangan domestik yang tinggi, dan premi risiko di Indonesia yang menurun, dan likuiditas global yang besar," tandasnya. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: