Sukses

Waspada, Kelangkaan Pangan Bisa Terjadi di 2050

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyebut posisi pangan di Indonesia saat ini masih sangat bergantung pada ketersediaan beras. Menurutnya, jika pemerintah terus-menerus bergantung pada beras pada masa mendatang akan terjadi kelangkaan pangan.

"Pada 2050, kelangkaan pangan bisa saja terjadi jika tidak dikembangkan pangan lain sebagai pasokan pangan nasional," kata dia dalam Peluncuran Pekan Sagu Nasional 2020, di Jakarta, Selasa (20/10).

Untuk itu, dirinya mendorong peningkatan diversifikasi pangan lokal melalui penyebaran inovasi produk pangan yang sehat dan bergizi. Sehingga diharapkan bisa meberikan opsi ke masyarakat untuk konsumsi berbagai sumber pangan bernutrisi lainnya selain beras.

"Contohnya sagu. Ini kita dorong kearifan lokal," singkat Agus.

Agus juta menyadari, pandemi Covid-19 menjadi tantangan besar bagi pemerintah untuk terus berupaya memastikan, pasokan pangan yang sehat dan berkualitas bagi masyarakat. Bahkan dalam peringatan hari pangan dunia pada 16 Oktober lalu, FAO menyebutkan, pandemi Covid membuat sistem pangan dan pertanian global sangat rapuh.

"Hal itu menguatkan apa yang diperingatkan pada April 2020, bahwa negara dunia perlu waspadai terjadinya krisis pangan akibat pandemi," katanya.

Merespon itu, pemerintah berupaya meningkatkan produksi bahan pangan dalam negeri agar rantai pasok tidak terganggu. Pemerintah juga terus mendorong diversifikasi produk dan konsumsi agar bisa menjaga ketahanan pangan nasional.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Survei Markplus: Urban Farming Terbukti Berkontribusi Terhadap Ketahanan Pangan

Salah satu kegiatan yang cukup banyak dilakukan masyarakat selama pandemi covid-19 adalah bercocok tanam di rumah, atau populer dengan istilah urban farming. Bahkan, kegiatan ini disebut memiliki prospek yang cerah dalam mendukung kegiatan pertanian.

“Urban farming yang awalnya merupakan kegiatan untuk mengisi waktu luang di masa covid-19 ini, saat ini telah diketahui oleh banyak masyarakat dan masyarakat tertarik untuk melakukan kegiatan tersebut sebagai gaya hidup baru di perkotaan yang dapat dilakukan oleh semua kalangan,” ujar Senior Business Analyst MarkPlus, Inc. Dini Bonafitria dalam acara MarkPlus Government Roundtable: Pemulihan Ekonomi di Sektor Pertanian, Senin (19/10/2020).

Berdasarkan hasil survei MarkPlus, 90,9 persen masyarakat telah mengetahui urban farming ini. Dari banyaknya masyarakat yang mengetahui apa itu urban farming, 72 persen mengetahuinya dari internet. Sisanya, responden mengaku tahu kegiatan urban farming dari teman, baik individu maupun komunitas, dan televisi.

Survey ini melibatkan 110 responden, baik di dalam maupun diluar jabodetabek masing-masing 40 persen dan 60 persen. Lalu, 92,7 persen orang yang sudah melakukan urban farming akan terus melanjutkannya meski pandemi berakhir. Meski begitu, masyarakat juga mengeluhkan sejumlah tantangan dalam implementasi urban farming ini.

“Ternyata sarana dan fasilitas, ketersediaan waktu, dan biaya merupakan tantangan-tantangan yang dirasakan oleh masyarakat,” kat Dini.

Disamping tantangan tersebut, 98,2 persen responden sepakat bahwa urban farming memiliki prospek dalam mendukung kegiatan pertanian. Alasannya, karena adanya ketahanan pangan, ramah lingkungan, dan dapat meningkatkan pendapatan.

Untuk itu, responden menilai perlunya dukungan untuk pengembangan lebih lanjut. Dini mengatakan, rasa optimis dan prospek yang cerah dari kegiatan urban farming harus dapat dilihat sebagai peluang bagi pemerintah dan pelaku usaha swasta dalam mendukung pengembangan lebih lanjut.

“Masyarakat masih merasa adanya kebutuhan dukungan terhadap kegiatan urban farming terutama dalam kebutuhan sarana dan prasarana seperti paket lengkap hidroponik,” kata dia. 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: