Sukses

Fitur Gojek Ampuh Buat Jutaan UMKM Bertahan dan Beradaptasi Selama Pandemi

Liputan6.com, Jakarta Kontribusi Gojek terhadap UMKM dan perekonomian nasional di Indonesia semakin terlihat nyata di tengah situasi pandemi COVID-19. Solusi teknologi Gojek, khususnya inovasi layanan pesan antar makan GoFood telah membantu jutaan UMKM beradaptasi dan bertahan di kondisi pandemi yang penuh tantangan.

Berdasarkan Riset Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI) yang berjudul "Peran Ekosistem Gojek di Ekonomi Indonesia Sebelum dan Saat Pandemi COVID-19", sejumlah 40% UMKM yang disurvei baru bergabung di GoFood saat awal pandemi bulan Maret 2020, yang mana 94% UMKM berskala mikro dan 43% adalah bisnis pemula.

Berada di ekosistem Gojek membuat pengusaha skala mikro merasa lebih cepat beradaptasi di situasi pandemi sehingga bisa bertahan, dimana 92% mitra UMKM GoFood, 97% mitra UMKM yang berjualan di social media (social seller) pengguna GoSend dan 89% mitra UMKM GoPay merasa mampu beradaptasi selama pandemi dengan menjadi mitra Gojek.

UMKM Mendapatkan Keterampilan Baru

Dalam waktu kurang dari 3 bulan, UMKM yang baru bergabung di ekosistem Gojek mendapatkan keterampilan baru yaitu skill berjualan online (77%), pemanfaatan media sosial untuk bisnis (48%), dan kreativitas dalam pemasaran (45%).

Mitra UMKM menganggap solusi teknologi dan non teknologi dari Gojek membantu keberlangsungan usaha mereka. Mitra UMKM GoFood merasakan manfaat dari fitur teknologi pengaturan promosi mandiri (68%) dan periode promosi (51%). Sementara mitra UMKM social sellers pengguna GoSend sangat merasakan manfaat dari fitur layanan GoSend dalam Kota (77%) dan Layanan GoSend Antar-Kota (32%). Sedangkan, Mitra UMKM GoPay merasakan manfaat dari fitur penerimaan pembayaran non tunai (75%) dan aplikasi GoBiz (49%).

Sementara mitra UMKM social sellers pengguna GoSend sangat merasakan manfaat dari fitur Layanan GoSend dalam Kota (77%) dan Layanan GoSend Antar-Kota (32%). Sedangkan, Mitra UMKM GoPay merasakan manfaat dari fitur penerimaan pembayaran non tunai (75%) dan aplikasi GoBiz (49%).

2 dari 3 halaman

Gojek Permudah Akses Pengusaha Pemula

Peneliti LD FEB UI, Alfindra Primaldhi menjelaskan dari hasil riset ini menunjukkan peran ekosistem ekonomi digital dalam membantu UMKM, khususnya usaha mikro, untuk bertahan di masa pandemi. Kondisi pandemi ini menguji resiliensi (ketahanan), dan kemampuan adaptasi para pelaku usaha di masa krisis. Salah satu adaptasi itu adalah mengubah usaha tradisional menjadi usaha digital.

Tampak juga bahwa para pelaku usaha cukup realistis melihat dampak panjang dari pandemi, namun mereka juga tetap optimis bahwa dengan berada dalam suatu ekosistem digital, usaha mereka dapat tetap tumbuh kedepannya, dan penghasilan mereka kembali seperti sebelum pandemi.

Alfindra melanjutkan, bahwa hasil riset LD FEB UI menunjukkan bahwa sektor swasta turut terkena dampak dari pandemi.

"Proporsi mitra GoFood baru yang berasal dari pegawai swasta adalah sebesar 24%, sedangkan sebelum pandemi proporsi mitra dari pegawai swasta hanya 18%. Selain itu, mitra yang tidak punya pengalaman usaha sebelumnya meningkat hampir dua kali lipat menjadi 43% dibandingkan pendaftar sebelum pandemi," imbuhnya.

Lebih lanjut Alfindra menjelaskan tampak bahwa usaha kuliner menjadi sumber penghasilan alternatif bagi orang-orang yang kehilangan, atau mengalami penurunan penghasilan selama pandemi.

"Keberadaan ekosistem ekonomi digital seperti Gojek mempermudah akses bagi pengusaha pemula," jelas Alfindra.

3 dari 3 halaman

Ekosistem Gojek Dukung Ketahanan Ekonomi Indonesia

Wakil Kepala LD FEB UI, Dr. Paksi C.K Walandouw menjelaskan bahwa di tahun 2019 kontribusi mitra GOJEK dari lima layanan (GoRide, GoCar, GoSend, GoFood dan GoPay) ke perekonomian Indonesia mencapai Rp 104,6 triliun, meningkat karena kenaikan kontribusi mitra, terutama GoFood, dan perluasan ekosistem.

"Angka ini naik dibandingkan kontribusi di tahun 2017 dan 2018. Kontribusi ekonomi dihitung dari selisih pendapatan mitra sebelum dan sesudah bergabung ke dalam ekosistem Gojek," ujarnya.

Bila dihitung menggunakan metode pendapatan domestik bruto (PDB), ekosistem digital Gojek nilai produksinya setara dengan 1% PDB nasional. Angka tersebut terdiri dari sumbangan langsung dari mitra GoRide dan GoCar di sektor transportasi darat, dan sumbangan tidak langsung dari UMKM, GoFood, GoPay, GoSend, dan efek multiplier yang digerakkan oleh ekosistem Gojek. Sumbangan ini secara relatif besar bila dibandingkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) untuk beberapa Provinsi di Indonesia.

Paksi menambahkan, keberadaan Gojek di sebuah kota juga menimbulkan efek domino di sektor lainnya. Dampak multiplier, atau kontribusi tidak langsung keberadaan Gojek pada ekonomi Indonesia di tahun 2019, mencapai Rp 17,5 Triliun. Ini dihitung dari selisih pendapatan UMKM di luar ekosistem Gojek  (seperti bengkel yang digunakan mitra pengemudi, atau pedagang pasar yang menjual bahan baku ke mitra GoFood) sebelum dan setelah Gojek beroperasi di sebuah kota.

“Mayoritas (86%) UMKM di luar ekosistem Gojek seperti bengkel dan pedagang pasar mengalami peningkatan volume transaksi setelah ada Gojek di kotanya. Yang menarik adalah, lebih dari sepertiga UMKM (33%) mengaku bisa membuka cabang usaha baru setelah ada Gojek di kotanya. Ini artinya keberadaan platform digital di sebuah kota bisa membuat roda ekonomi bergerak semakin cepat,” ujar Paksi.

Sebagai informasi, Riset LD FEB UI sebelum pandemi dilakukan di Jabodetabek, Medan, Palembang, Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Bali, Makassar dengan menggunakan metode kuantitatif melalui wawancara tatap muka. Sedangkan untuk riset di masa pandemi COVID-19 dilakukan melalui survei online di wilayah yang sama.

 

(*)