Sukses

Libatkan Profesional Muda, BRI Matangkan Transformasi Digital

Liputan6.com, Jakarta Seiring dengan implementasi transformasi digital, maka berubah pula pola sosial masyarakat yang kini mulai beralih pada layanan digital. Ditambah lagi saat diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk menekan persebaran virus Covid-19, akses digital mengalami kenaikan yang signifikan. Termasuk dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari hingga aktivitas di BRI.

EVP Digital Center of Excellence Bank BRI, Kaspar Situmorang menjelaskan bahwa BRI telah memiliki berbagai layanan digital sejak 2017.

"Sebagai bank terbesar dan tersebar di Indonesia, sehingga memiliki operational risk yang cukup besar dan operational cost yang cukup tinggi. Sehingga untuk mengantisipasi kedua hal tersebut, BRI memiliki strategi untuk mengakselerasi transformasi culture dan transformasi digital," ujar dia dalam Indonesia Muda Club (IMC) Episode 2, Jumat (26/6/2020).

Terkait hal ini, Kaspar menyebutkan ada 3 framework yang dicanangkan BRI. Yang pertama, kata Kaspar, eksploitasi dan eksplorasi.

"Dalam eksploitasi kita melakukan digitizing untuk core-core bisnis BRI. Proses-proses bisnis yang toxic kita buang satu-satu kemudian kita gantikan dengan digital process yang jauh lebih presisi, lebih baik dan produktivitasnya lebih mumpuni," beber dia.

Output dari seluruh layanan digital BRI ini adalah untuk efisiensi, dimana proses konvensional layanan perbankan termasuk kredit, bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat, tentu dengan akurasi data yang tinggi.

Adapun produk digital dari langkah ini adalah BRI LInk, AgenBRILink, dan BRI MObile.

 

2 dari 2 halaman

Eksplorasi

Sementara untuk eksplorasi, BRI mulai masuk dalam ekosistem yang bukan core bisnisnya menggunakan cara baru yang berbasis API performance yang terintegrasi dengan seluruh layanan Bank BRI. Adapun produknya yakni BRIapi, BRIMOLA, dan IndonesiaMall.

"Kemudian yang ketiga adalah business model. Jadi kita mulai mendisterupsi model bisnis kita, menciptakan new digital proposition yang sebelumnya belum ada," tutur Kaspar.

Adapun produk bisnis model baru yang dimaksudkan adalah digital lending yang dikemas dalam aplikasi Pinang dan Ceria.

"Dari 2018 kita kerjakan, sampai hari ini belum ada bank lain yang punya digital lending," pungkas dia.