Sukses

Harga Minyak Diprediksi Melonjak, Bisakah Defisit Neraca Dagang Menipis?

Liputan6.com, Jakarta - Harga minyak dunia diperkirakan akan terus melonjak seiring dengan memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Hubungan kedua negara merenggang usai militer AS membunuh seorang komandan senior Iran, yang memicu kekhawatiran mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy, Manilet menilai bahwa hubungan panas kedua negara akan semakin menambah daftar panjang ketidakpastian ekonomi global. Di mana sebelumnya AS lebih dulu mengerem laju pertumbuhan global akibat perang dengan China.

"Potensi peningkatan harga minyak merupakan dampak jangka pendek yang bisa dirasakan Indonesia adapun dampak jangka panjang jika eskalasi Iran dan AS memanas akan menambah ketidakpastian global," katanya saat dihubungi merdeka.com, Minggu (5/1/2019).

Dia menyebut Indonesia merupakan negara net importir minyak, maka sangat berpotensi adanya peningkatan nilai impor minyak. Sehingga hal ini menjadi tantangan di tengah usaha pemerintah untuk memperkecil defisit pada neraca perdagangan dan juga transaksi berjalan.

Sebagai antisipasi, lanjut dia, jika harga minyak meningkat maka pemerintah perlu melakukan penyesuaian harga minyak pada APBN. Bisa saaja asumsi harga minyak yang ditetapkan pada APBN 2020 sebesar USD 65 per barel atau justru lebih tinggi.

"Jika ekskalasi AS dan Iran meningkat, ialah siap-siap mengubah asumsi harga minyak pada APBN karena ini akan berpengaruh pada anggaran subsidi pemerintah di samping itu, meningkatkan kinerja ekspor barang dan jasa juga perlu untuk mengkompensasi potensi kenaikan nilai impor minyak yang bisa berdampak pada peningkatan defisit dagang," tandas dia.

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

Langkah Antisipasi Pemerintah Jika Harga Minyak Dunia Melonjak

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Erick Thohir mengaku sudah mengantisipasi apabila harga minyak dunia melonjak. Pihaknya bahkan berencana untuk memboyong minyak langsung dari produsen, Total.

Seperti diketahui, harga minyak dunia diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Hal itu dipicu setelah militer AS membunuh seorang komandan senior Iran, yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat mengganggu produksi energi di wilayah tersebut.

"Ya memang itu yang diminta oleh Pak Jokowi kan kita harus antisipasi. Apa yang terjadi sekarang tentu, mengenai Amerika, Iran dan Timur Tengah pasti akan juga berdampak kepada Indonesia terutama di harga minyak," katanya saat ditemui di Tanggerang, Minggu (5/1/2020).

Erick menjelaskan dengan membeli langsung dari produsen minyak bisa memangkas biaya yang selama ini dikeluarkan pemerintah cukup besar. Bahkan menurut Erick, harga minyak yang dibeli bisa lebih murah hingga USD 6 per barel.

“Iya kan supaya bisa cut, memangkas pada margin yang tidak perlu, salah satunya tender dengan AS. Harga jelas lebih murah USD 5-6,” jelasnya.

Di samping itu, untuk menangkal lonjakan harga minyak dunia dirinya juga akan mendorong program B30. Sebab, dengan penerapan program tersenut dapat menekan impor minyak.

"Salah satunya kita terapkan B0 dengan adanya B30, ketergantungan daripada impor minyak bisa lebih ditekan," jelas dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: