Sukses

Bawa Industri Halal Mendunia, Ini Saran Bank Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Bank Indonesia (BI) mendorong agar negara bisa menjadi pemain utama dalam sektor industri halal dunia. Agar konsep industri halal tersebut bisa diterima oleh seluruh masyarakat lintas agama, Bank Sentral memberi penekanan bahwa halal di sini memiliki makna sehat dan dibutuhkan oleh semua umat.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi mengatakan, pihaknya tengah mendorong kebijakan ekonomi syariah melalui tiga program utama. Pertama, yakni dengan coba mengembangkan halal value chain pada industri halal nasional.

"Kita harus merebut poin pokok, yaitu bagaimana meningkatkan halal untuk makanan, karena itu adalah sesuatu yang betul-betul diminati atau diperlukan oleh semua, karena halal artinya juga sehat," ujar dia di Banjarmasin, seperti dikutip Jumat (13/9/2019).

Selain makanan, ia melanjutkan, pengertian halal yang menyehatkan juga berlaku pada bidang fashion, serta pariwisata yang kini ramai digemborkan oleh banyak negara untuk menarik wisatawan.

"Indonesia memiliki wilayah yang sangat indah, maka kita dorong wisata halal. Jangan sampai Korea yang mendapatkan gelar sebagai pusat wisata halal dunia," seru Deputi Bubernur BI itu.

 

2 dari 4 halaman

Program Selanjutnya

Program selanjutnya dalam kebijakan ekonomi syariah, Bank Indonesia disebutnya harus melakukan pendalaman pasar keuangan syariah. Seperti dengan mengeluarkan instrumen Sukuk Bank Indonesia (SukBI) untuk mendukung ekonomi syariah, serta mendorong kemandirian pesantren dalam hal perekonomian.

Ketiga, yakni dengan melakukan sosialisasi langsung kepada masyarakat terkait penerapan gaya hidup halal. "Bank Indonesia ingin melakukan kampanye untuk mendorong halal lifestyle, antara lain adalah dengan mengadakan FESyar (Festival Ekonomi Syariah)," tukasnya.

3 dari 4 halaman

BI Bidik Potensi Kerja Sama Rp 1,4 Triliun di Festival Ekonomi Syariah

Bank Indonesia (BI) membuka Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Kawasan Timur Indonesia (KTI) 2019 di Balikpapan, Kalimantan Selatan pada Kamis malam, 12 September 2019. Dalam festival bertema Bergerak Bersama Ekonomi Syariah ini, bank sentral membidik potensi kerjasama sebesar Rp 1,46 triliun.

Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi mengungkapkan, ini merupakan FESyar KTI yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya sempat diadakan di Makassar pada 2017 dan Balikpapan pada 2018.

"Sebelum diselenggarakannya FESyar di Banjarmasin ini, Bank Indonesia telah melakukan rangkaian kegiatan di wilayah KTI lainnya. Pergelaran FESyar KTI 2019 akan berlangsung selama 3 hari, dari 12 September hingga 14 September 2019," tuturnya di Mercure Hotel, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (12/9/2019).

Rosmaya berharap, agar event kali ini dapat dimanfaatkan para UMKM maupun pelaku industri halal atau yang menerapkan prinsip syariah untuk terus berkembang. "Dengan adanya business matching pada forum bisnis syariah ini diharapkan dapat mempertemukan antara supplier dan produsen, produsen dan distributor, produsen dan konsumen, maupun inventor dan investor pada industri halal nasional," sambungnya.

Dia menyampaikan, berdasarkan data terakhir yang didapat Bank Indonesia, terdapat potensi kerjasama senilai Rp 1,46 triliun berdasarkan business matching dari seluruh KPw BI pada festival kali ini. Angka ini meningkat besar dibanding FESyar KTI tahun sebelumnya, yakni senilai Rp 676 miliar.

"Mudah-mudahan potensi tersebut dapat terwujud dan berkontribusi positif terhadap pengembangan halal value chain nasional," ujar Rosmaya.

Untuk potensi perkembangan ekonomi dan keuangan syariah, ia menyatakan, BI terus berkoordinasi dengan berbagai instansi lain untuk memperluas praktiknya hingga ke pelosok Tanah Air.

"Tentunya BI tidak akan sendirian dalam mengembangkan potensi ekonomi dan keuangan syariah. BI akan bersinergi dan berkoordinasi dengan instansi lainnya di level pusat maupun daerah, sehingga pelaksanaan kebijakan yang telah dirumuskan dapat terlaksana dengan baik dan mencapai sasaran yang ditujukan," tuturnya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Cadangan Devisa Indonesia Turun Tipis di November 2019
Artikel Selanjutnya
Menakar Iklim Investasi di DIY pada 2020 Usai Pembangunan Bandara Kulon Progo