Sukses

Dorong Ekspor Pisang dan Nanas, Bea Cukai Siapkan Fasilitas Bebas Pajak

Liputan6.com, Jakarta Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan turut serta dalam upaya mendorong ekspor komoditas holtikultura, khususnya Pisang dan Nanas. Dukungan yang diharapkan dapat meningkatkan ekonomi daerah tersebut ditunjukkan salah satunya melalui kawasan berikat.  

Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi mengatakan, bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor akan mendapatkan sejumlah fasilitas pembebasan pajak.

"Kalau paham Batam sebagai kawasan bebas, kira-kira Kawasan Berikat mirip-mirip seperti itu," kata dia, pada acara Focus Group Discussion (FGD) 'Pengembangan Hortikultura untuk Peningkatan Ekspor dan Ekonomi Daerah' yang dilakukan di Madiun, Senin (12/8/2019).

Dia menjelaskan, dalam konteks pengembangan produk Holtikultura, insentif yang diberikan Bea Cukai juga meliputi pembebasan pajak impor dan bea masuk bagi produk yang berkaitan dengan pengembangan holtikultura, seperti bibit, pupuk, peralatan produksi.

"Jadi untuk mendorong ekspor, kita akan memberikan insentif kepada ibu bapak, sehingga bahan-bahan yang nanti diperlukan untuk kegiatan produksi itu harus diimpor, katakanlah bibit, pupuk, alat cangkul itu yang harusnya bayar pajak impor dan bea masuk nanti kita bebaskan," ujar dia.

"Siapa yang nanti mengimpor, yang mengimpor kawasan berikat induk, perusahaannya. Nanti akan didistribusikan kepada para petani," imbuh Heru.

Adanya sejumlah fasilitas tersebut, lanjut dia, mengakibatkan biaya produksi akan menjadi lebih murah. Dengan demikian harga komoditas holtikultura pun menjadi lebih kompetitif di pasar ekspor.

"Supaya dalam kegiatan produksi menjadi lebih murah dan efisien. Sehingga ketika dia nanti akan diekspor, menjadi lebih murah. Kalau lebih murah Indonesia bisa lebih kompetitif," tandasnya.

2 dari 4 halaman

Kurangi Defisit Neraca Perdagangan, Pemerintah Gencar Ekspor Buah-buahan

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) memaparkan produk holtikultura menjadi salah satu produk asal Indonesia yang memiliki potensi ekspor yang sangat bagus.

Sekretaris Kemenko Perekonomian Susiwijono mengatakan jika ekspor produk holtikultura ini terus ditingkatkan, diklaim mampu mengurangi defisit neraca perdagangan hingga akhir 2019. Pada Semester I 2019 ini neraca perdagangan Indonesia masih defisit sebesar USD 1,93 miliar.

"Buah-buahan merupakan komoditas yang memberikan kontribusi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Hortikultura tertinggi dengan rata-rata sebesar 54,7 persen dari PDB Hortikultura," ujar Susiwijono dalam sambutannya pada acara Focus Group Discussion (FGD) 'Pengembangan Hortikultura untuk Peningkatan Ekspor dan Ekonomi Daerah' yang dilakukan di Madiun, Senin (12/8/2019).

 

3 dari 4 halaman

Tantangan

Meski demikian, masih terdapat beberapa tantangan dalam pengembangan hortikultura, antara lain: sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan petani masih lemah, keterbatasan modal, pendampingan dan inovasi teknologi masih lemah, daya saing yang rendah, serta kurangnya akses pasar.

"Solusinya perlu ada kerja sama kemitraan yang dapat membantu petani dalam merancang pola produksi hingga pemasaran di dalam negeri maupun ekspor, supaya petani kita menjadi lebih mandiri, tangguh dan bisa bersaing di pasar global," tuturnya.

 

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Utang Pemerintah Tembus Rp 4.603 Triliun sampai Akhir Juli 2019
Artikel Selanjutnya
Defisit APBN hingga 31 Juli 2019 Capai Rp 183,7 Triliun