Sukses

Begini Kondisi Ekonomi Global Hasil Pantauan BI dalam Sebulan Terakhir

Liputan6.com, Jakarta Bank Indonesia (BI) menilai pemulihan ekonomi global lebih rendah dari prediksi di tengah ketidakpastian pasar keuangan yang kembali meningkat. Pertumbuhan ekonomi di Amerika Serikat (AS), Eropa dan China juga masih melambat.

Gubernur BI, Perry Warjiyo menyebutkan jika pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan menurun dipicu stimulus fiskal yang terbatas, pendapatan dan keyakinan pelaku ekonomi yang belum kuat, serta permasalahan struktur pasar tenaga kerja yang terus mengemuka.

"Perbaikan ekonomi Eropa diperkirakan lebih lambat akibat melemahnya ekspor," jelas dia di kantornya, Kamis (16/5/2019).

Selain itu, belum selesainya permasalahan di sektor keuangan, serta berlanjutnya tantangan struktural berupa aging population turut membuat ekonomi di Eropa kian melambat.

Selanjutnya, ekonomi China juga diperkirakan belum menguat, meskipun telah ditempuh stimulus fiskal melalui pemotongan pajak dan pembangunan infrastuktur.

Oleh sebab itu, pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat berpengaruh kepada volume perdagangan dan harga komoditas global yang menurun.

"Kecuali harga minyak yang naik pada periode terakhir dipengaruhi faktor geopolitik," ujarnya.

Sementara itu, ketidakpastian pasar keuangan dunia yang meningkat dipengaruhi oleh eskalasi perang dagang AS dan China sehingga kembali memicu peralihan modal dari negara berkembang ke negara maju, meskipun respon kebijakan moneter global mulai melonggar.

"Kedua perkembangan ekonomi global yang kurang menguntungkan tersebut memberikan tantangan dalam upaya menjaga stabilitas eksternal baik untuk mendorong ekspor maupun menarik modal asing," tutupnya.

Reporter: Yayu Agustini Rahayu

Sumber: Merdeka.com

2 dari 3 halaman

BI: Kondisi Global Pengaruhi Neraca Perdagangan RI

Neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 tercatat defisit USD 2,50 miliar. Defisit neraca perdagangan tersebut bersumber dari defisit neraca perdagangan nonmigas dan neraca perdagangan migas.

Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif Januari-April 2019 mengalami defisit sebesar USD 2,56 miliar. Defisit neraca perdagangan nonmigas pada April 2019 tercatat sebesar USD 1,01 miliar, setelah pada Maret 2019 mencatat surplus USD 1,05 miliar.

"Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan April 2019 banyak dipengaruhi pertumbuhan ekonomi global yang melambat dan harga komoditas ekspor Indonesia yang menurun, yang pada gilirannya menurunkan kinerja ekspor Indonesia," jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Onny Widjanarko, Kamis (16/5/2019).

Kondisi tersebut dipengaruhi penurunan ekspor nonmigas dari USD 12,98 miliar pada Maret 2019 menjadi USD 11,86 miliar. Penurunan ekspor nonmigas terutama terjadi pada komponen perhiasan/permata, lemak dan minyak hewani/nabati, serta bahan bakar mineral.

Sementara itu, impor nonmigas tercatat sebesar USD 12,86 miliar, meningkat USD 0,93 miliar (mtm) dibandingkan dengan impor pada bulan sebelumnya.

Peningkatan impor nonmigas terutama terjadi pada komponen mesin dan peralatan listrik, kapal laut dan bangunan terapung, dan pupuk.

Defisit neraca perdagangan migas pada April 2019 tercatat sebesar USD 1,49 miliar, meningkat dibandingkan dengan defisit pada bulan sebelumnya sebesar USD 0,38 miliar.

Defisit tersebut dipengaruhi peningkatan impor migas dari USD 1,52 miliar pada Maret 2019 menjadi USD 2,24 miliar pada April 2019.

Peningkatan terjadi pada seluruh komponen, yakni hasil minyak, minyak mentah, dan gas, seiring dengan peningkatan baik harga impor maupun volume impor minyak dan gas.

Sementara itu, ekspor migas tercatat menurun dari USD 1,14 miliar pada Maret 2019 menjadi USD 0,74 miliar pada April 2019. Penurunan ekspor migas terutama terjadi pada komponen hasil minyak dan gas, sejalan dengan menurunnya volume ekspor kedua komponen tersebut.

"Sementara itu, impor tetap diperlukan guna memenuhi pemintaan domestik. Ke depan, Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus berkoordinasi mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik sehingga tetap dapat memperkuat stabilitas eksternal, termasuk prospek kinerja neraca perdagangan," dia menandaskan.

 

3 dari 3 halaman

Neraca Dagang April Defisit USD 2,5 Miliar, Ini Respons Sri Mulyani

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada April 2019 defisit sebesar USD 2,50 miliar.

Defisit tersebut disebabkan oleh defisit sektor migas dan non migas masing-masing sebesar USD 1,49 miliar dan USD 1,01 miliar.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, apabila melihat dari komposisinya tentu ini menjadi kondisi yang perlu diperhatikan. Sebab, menurut dia, impor maupun ekspor Indonesia sama-sama menurun.

"Walaupun impor kontraksi, tetapi ekspor juga kontraksi lebih dalam. Jadi ini faktor dari ekspor yang sebetulnya mengalami pelemahan yang juga kita mesti waspada," kata dia saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (15/5/2019).

Sri Mulyani mengatakan, dari sisi impor, untuk bahan baku dan barang modal juga perlu diantisipasi terhadap pelaku industri yang menggunakan kompenen tersebut. Sebab ini akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.

"Sebetulnya signal ini menggambarkan bahwa ekonomi dunia memang mengalami situasi yang tidak mudah.  Dan Indonesia kalau ingin tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen berarti dari sisi komposisi pertumbuhannya itu terutama yang untuk industri manufaktur itu akan mengalami tekanan yang cukup dalam," ujar dia.

Di samping itu, Bendahara Negara Ini juga tengah mendalami penyebab defisitnya neraca perdagangan pada April 2019.

Terutama melihat apakah ada volume impor yang melambat terutama pada kuartal I  yang kemudian baru direalisasikan pada April.

"Mungkin mereka melakukan kalkulasi nanti sesudah Lebaran akan ada libur yang panjang lagi jadi semuanya ditumpukkan di bulan April. Jadi Januari-Maret slowdown sekarang di stok tinggikan karena nanti antisipasi. Tetapi saya akan lihat setiap komposisinya," ujar dia.

Sebelumnya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, defisit pada April tersebut merupakan terbesar sejak Juli 2013. Menurut catatan BPS, defisit yang hampir sama pernah terjadi pada Juli 2013 sebesar USD 2,33 miliar.

"Menurut data kami, yang sekarang ada, itu terbesar di Juli 2013 sekitar USD 2,33 miliar. Lalu April ini, sebesar USD 2,50 miliar," ujar Suhariyanto di Kantornya.

 

Reporter: Dwi Aditya Putra

Sumber: Merdeka.com

 

Loading
Artikel Selanjutnya
BI Tahan Suku Bunga Acuan Tetap 6 Persen pada Mei
Artikel Selanjutnya
BI Bakal Pertahankan Suku Bunga Acuan 6 Persen